Sastra Indonesia, Satu Abad yang Sia-sia

Ribut Wijoto
Radar Surabaya, 3/10/2010

Bagaimanakah kondisi kesusastraan Indonesia 25 tahun ke depan? Pertanyaan ini penting dan mendesak untuk dijawab. Jawaban dapat berguna untuk menentukan visi dan dasar kreativitas kesusastraan saat ini.

Ke depan, secara alamiah, bahasa Indonesia akan terpinggirkan. Sastrawan Indonesia tidak akan lagi menulis dalam bahasa Indonesia. Sastrawan akan memilih menulis dalam bahasa Inggris. Mengapa? Beberapa gejala dapat diketengahkan. Continue reading “Sastra Indonesia, Satu Abad yang Sia-sia”

Kesusastraan Indonesia 25 Tahun ke Depan

Ribut Wijoto
sinarharapan.co.id

Tahun 1930-an, para sastrawan mampu menghasilkan pemikiran visioner. Pemikiran hasil perdebatan dengan melibatkan beragam pandangan. Bersandar pada realitas saat itu, para sastrawan memandang jauh untuk memberi arah serta gambaran kondisional sastra ke depan. Sampai kini, suara-suara dari perdebatan tersebut masih menggema. Continue reading “Kesusastraan Indonesia 25 Tahun ke Depan”

Bumi Kesunyian “Arco Etrusco”

Ribut Wijoto *
sinarharapan.co.id

Puisi memang tidak bisa dikekang. Puisi “Arco Etrusco” (antologi puisi Di Atas Umbria, 1999:7-8) dari Acep Zamzam Noor menunjukkan perilaku itu. Sebuah puisi tentang sunyi. Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan terakhir (2001) mendefinisikan “sunyi” sebagai tidak ada bunyi atau suara, tidak ada orang, dan tidak banyak transaksi. Sunyi, suatu kondisi dan situasi yang mirip dengan lengang, hening, senyap, dan sepi. Tetapi puisi Acep tampaknya melampaui artian kamus, melampaui pemahaman publik, dan memilih pemahaman yang amat pelik: sunyi bukan lagi lengang. Continue reading “Bumi Kesunyian “Arco Etrusco””

Berita Puisi tentang Manusia

Ribut Wijoto
sinarharapan.co.id

Apa yang terjadi dengan manusia? Bagaimanakah manusia memahami dan menghayati lingkungannya, juga dirinya? Kiranya, ini sebuah persoalan pelik. Jawaban pasti mesti ditunda. Ada kesejarahan panjang dalam pribadi kemanusiaan.

Dulu kala, di Abad Pertengahan, Galileo Galilei menyatakan, “barang siapa hendak membaca buku; aksara-aksaranya ialah bentuk-bentuk segitiga, lingkaran, dan empat per segi”. Galilei, filsuf yang hidupnya diakhiri di tiang gantungan ini, mengingatkan bahwa dunia akan lebih bisa dipahami melalui gejala-gejala primernya. Continue reading “Berita Puisi tentang Manusia”

Krisis Kepenyairan Kita

Ribut Wijoto

Dalam rentang sepuluh tahun terakhir, telah terjadi krisis kepenyairan di tanah air kita. Banyak sekali bentuk-bentuk puisi yang sebelumnya pernah berkembang, kini, mengalami kemacetan. Padahal bila dikembangkan, bentuk-bentuk puisi itu akan menemukan kemantangannya yang baru.

Pertama, bentuk puisi balada seperti yang dikembangkan WS Rendra. Kedua, bentuk puisi mantra seperti yang dikembangkan Sutardji Calzoum Bachri. Ketiga, bentuk puisi lugas tetapi mengandung filosofi mendalam seperti yang dikembangkan Subagio Sastrowardoyo. Keempat, bentuk puisi kosmopolitan seperti yang dikembangkan Afrizal Malna. Continue reading “Krisis Kepenyairan Kita”

Bahasa ยป