Mencipta Kembali Tradisi Teater Jatim

Catatan untuk F. Aziz Manna dan R. Giryadi

S. Jai *
Kompas JaTim, 19 Agu 2010

JAWA TIMUR, tepatnya Surabaya dan Sidoarjo pernah memiliki tradisi teater yang kuat, bahkan menggerakan tradisi teater modern di Indonesia. Ketika pada 1891 Komedi Stamboel berkibar dan pada 1926. Lalu Dardanella (The Malay Opera) berjaya yang diprakarsai Willy Klimanoff.

Di tangan mantan awak sirkus Komedi Stamboel itu, Dardanella dimodernkan sebagai teater yang mengutuhkan esensi laku dramatik dan menghilangkan nuansa lelucon dan tarian yang menyimpang dari esensi itu. Dari kelompok teater inilah berkembang pesat teater modern melalui awak-awak panggungnya. Bolero, Orion yang didirikan Miss ribort, Tjahaya Timoer yang didirikan Andjar Asmara. Termasuk Teater Maya di Jakarta, di bawah asuhan Usmar Ismail 1944. Continue reading “Mencipta Kembali Tradisi Teater Jatim”

P u l a n g

S. Jai
Radar Surabaya, 22 Agu 2010

KETIKA aku datang kali pertama di dusun itu, rumahnya bobrok ditumbuhi kebun nanas yang sulit dijangkau manusia. Rimbun pohon bambu dengan ujung-ujungnya yang menyentuh tanah menggelikan aku. Bahwa ini bukan tempat yang cocok buatku. Bila malam hari lampu teplok berbinar melawan bintang atau bulan yang terhalang. Continue reading “P u l a n g”

S I R R I *

S. Jai

MEMBACA garis hidupku, aku terobsesi pada cinta tiga perempuan sepanjang hidup: perempuan bermata tajam seperti elang yang kini jadi istriku, gadis bermata bening sebening telaga sebagai kekasih hatiku, dan kelak akan kuburu cinta perempuan buta agar bisa kulihat dunia dengan ketajaman matahati.

“Semua itu atas nama cinta. Begitu pula cintaku padamu, Rohana,” tulisku di akhir surat tertuju Rohana. Continue reading “S I R R I *”

Posisi Negeri Pengarang di Jawa Timur

(Surat Terbuka Buat Arif B Prasetya, W. Hariyanto, Fachrudin Nasrullah, Rahmat Giryadi)

S. Jai *

HAMPIR pasti tiada suatu negeri tanpa bayang-bayang penguasa. Fatalnya hal serupa terjadi pada negeri sastra -tempat berdiam puisi, prosa atau drama. Ini yang tertangkap dari sebalik ulasan kritikus sastra Arif Bagus Prasetyo tentang “Jawa Timur Negeri Puisi,” Jawa Pos 25 Juli lalu.

Prosa berada di bawah bayang-bayang puisi. Sementara ekspresi penyair berada di sebalik kurungan keengganan dan kemiskinan berbahasa Indonesia. Dengan kata lain visi kepenyairan lebih berada di bawah ketaksadaran ketimbang kesadaran akan -dalam bahasa Gadamer- bildung, weltanchauung, sensus communis, judgement, taste. Continue reading “Posisi Negeri Pengarang di Jawa Timur”

Dari Pentas Blakotang Bengkel Muda Surabaya

: Mentertawakan Kemiskinan

S. Jai *
Radar Surabaya, 6 Juni 2010

TERTAWA sebetulnya adalah peristiwa teater. Sekalipun tertawa itu klise. Sementara peristiwa teater senantiasa menolak hal-hal yang bersifat klise. Karena tertawa berdasarkan temuan ilmu kesehatan dan psikologi mutakhir membuat manusia itu sehat. Sebagaimana pula tugas kesenian, teater adalah menemukan manusia sebagaimana keutuhannya, juga kesehatannya. Continue reading “Dari Pentas Blakotang Bengkel Muda Surabaya”

Bahasa ยป