Obituari: Jarkasi dan Kematian yang Indah (1960-2010)

Sainul Hermawan
http://www.radarbanjarmasin.co.id/

Saya memang baru lima tahun mengenalnya karena sebagai rekan kerja di kampus. Tetapi rasanya ia seperti sahabat dari masa silam yang lama. Perkenalan kami berada dalam pusaran relativitas waktu. Beliaulah yang secara sukarela membuka tabir tentang budaya Banjar.

Saya masih ingat kata-katanya saat itu, “Pelajari saja saya kalau ingin mengenal dan memahami budaya Banjar.” Kesan yang saya tangkap saat itu dari pengakuan blak-blakannya adalah bahwa orang Banjar manusia biasa, yang memiliki keistimewaan dan kekurangan. Ia sangat anti pada paradigma pengultusan apapun. Memang kalau cuma dipandang dari satu sisi, pernyataannya terdengar sinis terhadap budayanya sendiri. Tapi tidak juga kalau ditelisik dari perspektif yang positif.

Di sisi lain beliau punya cara tersendiri untuk menyanjung budayanya, khususnya dalam hal bahasa, sastra, dan kesenian daerah. Kekagumannya pada budayanya ia tunjukkan dengan menulis sejumlah buku tentang seni pertunjukan Banjar. Setidaknya tiga penelitian tentang sastra dan seni pertukan Banjar lahir dari pemikirannya, yaitu kajian tentang Mamanda, Madihin, dan Lamut. Pada 1999 ia menulis buku Karakter Tokoh-tokoh Idaman Cerpen Banjar Modern, Struktur Sastra Lisan Lamut (2000), Sketsa Penyair Kalimantan Selatan (2001), Mamanda: dari Realitas Tradisional ke Kesenian Populer (2002), dan Madihin: Hakikat, Fungsi, dan Formula.

Beliau jadi sosok penting bagi kajian sastra PBSID FKIP Unlam yang arus besar kajiannya masih lebih dominan pada kajian kebahasaan dan kependidikan. Karena itulah pada 2005 saat Program Studinya dikritik kurang punya andil dalam pengembangan sastra dan kajian sastra daerah, dia bersama saya berada pada posisi afirmasi bahwa kritik itu tak sepenuhnya benar meski memang ada benarnya.

Sepanjang tahun 2005 halaman cakrawala sastra dan budaya harian Radar Banjarmasin yang luasnya masih “dua kapling” menjadi medan pergumulan gagasan tentang hakikat sastra Banjar. Perdebatan itu melibatkan Jamal T. Suryanata, Setia Budhi, Fatchul Mu’in, Harie Insani Putra, Burhanuddin Soebely, Tarman Effendi Tarsyad, dan saya.

Pada tahun 2006, diskusi panjang itu, atas inisiatif beliau dan dukungan banyak pihak, seperti Rustam Effendi (sebagai Dekan FKIP saat itu) dan Syarifuddin R, tulisan itu dihimpun menjadi buku yang ditasmiahinya dengan judul “Sastra Banjar Kontekstual”. Buku ini ternyata dicari banyak pengajar untuk memperkenalkan sastra Banjar di sekolah dan di beberapa kampus.

Lima tahun silam beliau bukan hanya punya perhatian pada persoalan sastra dan seni, melainkan juga terhadap masalah sosial dan politik dengan membentuk forum kajian informal bernama Forum Kajian Budaya Banjar. Bahkan beliau sangat piawai menyelipkan idiom Banjar dalam esainya yang sering muncul di harian lokal untuk menyindir pihak-pihak yang diharapkan bisa merasakan sindirannya.

Hasil diskusi kelompok ini yang bisa terdiri atas siapapun yang ada, dipublikasikan di koran dan isu yang dilontarkannya cukup mendapatkan perhatian. Beliau sendiri yang mengetik dan mengirimkannya ke koran.

Hasil diskusi itu dihimpun dan beberapa telah terbit jadi buku. Pada 2004, bersama Taufik Arbain, ia menyunting buku Prahara Budaya Rumah Banjar. Bersama Taufik pula beliau menyunting buku Berkelana Mencari “Sultan” Banua Banjar (2005). Dalam buku-buku tersebut pemikirannya tentang budaya dapat kita baca.

Tapi dua tahun terakhir, semua itu ditinggalkannya. Seorang anak kecil dalam kelompok pengajian di langgar di sebuah gang, begitu beliau pernah cerita kepada saya, menyadarkannya. Beliau merasa mendapatkan hidayah dan mau menerimanya dengan sukarela. Beliau menanggalkan cara berislam yang dilakukannya selama ini. Beliau oleh sebagian kawannya disebut “sedang mabuk Allah”.

Puluhan buku filsafat, politik, soal, budaya, dll. di rumahnya dikarungkan dan disumbangkan ke perpustakaan jurusan PBS FKIP Unlam. Yang tertinggal cuma buku-buku agama. Beliau merubah penampilan: berjubah. Warnanya bisa coklat, hitam, dan putih. Beberapa kali saya lihat di kantong jubah itu beliau membawa qur’an kecil, tasbih, dan hape.

Selalu ada cerita baru tentang pengalamannya bergabung dengan jemaah yang disebutnya jemaah tabligh. Beliau total ingin mengabdikan hidupnya untuk dakwah. Beliau tak simpati dengan gerakan menyeret Islam ke ranah politik dan bisnis. Pun sangat tidak suka menjadikan dalil-dalil sebagai alat propaganda politik.

Setiap bertemu saya, beliau seperti menunaikan kewajibannya yakni berdakwah tentang Islam yang benar menurut pemahamannya, yakni Islam mewujud dalam segenap perilaku: makan, bicara, berjalan, tidur, belajar, dan sebagainya. Sebagai juru dakwah, dia harus berdakwah kepada siapa saja. Tiada hari tanpa dakwah.

Tema yang sering disajikan di hadapan saya setiap bertemu di kantor yaitu tentang kematian. Beliau tidak bicara dalil, tapi fenomena-fenomena kematian yang dialami rekan segerakannya yang menurutnya sangat indah. Misalnya, ada yang meninggal setelah mendirikan sholat. Beliau punya banyak cerita tentang hal ini. “Aku ingin meninggal dalam keadaan menggemari Allah,” ucap sidin suatu ketika.

Dalam jemaah itu beliau tampak mendapatkan spirit hidup baru meski dalam kondisi fisik yang kurang prima setelah diserang penyakit yang menyulitkan gerakan tubuh bagian kanannya. Tapi beberapa bulan terakhir tahun ini beliau dikabarkan hanya bisa berbaring di rumahnya. Pada 26 Agustus, seusai rapat di program studi, kami, hampir satu program studi menjenguk beliau.

Beliau tampak senang dan minta didudukkan. Beliau cerita runtut meski berkata-kata terpotong-potong tentang kronologi sampai beliau tak bisa bergerak lagi dan sulit bicara. Kami tak menyangka hari itu akan jadi pertemuan kami yang terakhir.

Dalam ujaran yang tersendat, beliau bilang, “Kada kawa bapandir, kada kawa bagarak, berzikir ai.” jemari tangan kirinya berusaha menggerakkan biji-biji tasbih dengan susah payah. Di saat seperti itu tiba-tiba beliau menangis.

Saat itu kami tak melihat putra sulung beliau. Anak yang setia mengantar beliau ke kampus. Dialah yang beliau titipkan hari itu agar bisa menuntaskan kuliahnya yang tinggal beberapa tahap.

Pada Jumat, 27 Agustus, 21.15 wita, tepat di pertengahan Ramadhan, beberapa sms mengabarkan duka itu. Alam seperti menyiapkan tanah yang gembur untuk beliau dengan menghujani Banjar sejak usai Jumaatan.

Selamat jalan. Innalillahi wainna ilaihi roji’un.

Loktara, 17 Ramadhan 1431 H