Menjelajah Pembelajaran Inovatif

BatamPos, 27 Des 2009
Peresensi: Salamet Wahedi *
Judul buku: Menjelajah Pembelajaran Inovatif
Penulis: Dr. Suyatno, M.Pd.
Penerbit: Masmedia Buana Pustaka
Cetakan: Oktober 2009
Tebal: viii +176 halaman

Memperbincangkan pendidikan dewasa ini, seperti menelisik setiap sendi kehidupan manusia. Peranan dunia pendidikan tidak hanya sekadar mengemban amanat mencerdaskan kehidupan bangsa. Lebih dari itu, dunia pendidikan memiliki tanggung jawab moral membentuk manusia seutuhnya. Yaitu manusia yang mampu memahami dirinya sendiri. Continue reading “Menjelajah Pembelajaran Inovatif”

Saya (bangga) Orang Madura *

Salamet Wahedi **

Syahdan, lelaki itu gugup dan gemetar menginjakkan kakinya di tanah luar tumpah darahnya. Tak hanya keasingan yang menyergap. Seribu bayangan berkelebat. Mereka menyeringaikan gigi tajam. Mereka membisikkan doa dan mantra, serta kutukan. Mereka yang bernama domba-domba kemanusiaan dan kebudayaan.

Bertahun, lelaki itu terkurung dalam seringai domba kebudayaan. Sekadar menyebut nama, apalagi tanah kelahiran, dia begitu gemetaran. Dirinya takut dihujat. Dijauhi. Dipandang sinis. Dan yang paling ditakutinya, dirinya diolok-olok: wuih, para pembunuh. Continue reading “Saya (bangga) Orang Madura *”

Pencuci Piring

Salamet Wahedi *
Radar surabaya, 25 Juli 2010

Nama saya Wildanto. Tapi orang-orang selama ini selalu tidak begitu utuh memanggilnya. Bahkan sebagian besar teman-teman saya sering memplesetkannya. Ibu saya yang memberi nama itu, dengan logat desanya, memanggil Bhidanto. Ayah pun setali tiga uang. Nama saya utuh ketika adik saya memanggilnya. Maklum adik saya sudah mengecap bangku sekolah. Continue reading “Pencuci Piring”

Tepi Jalan Ahmad Yani

Salamet Wahedi *
Surabaya post, 6 Feb 2010

Gadis itu menggigit-gigit kuku jari telunjuknya dengan gigi depannya. Sapuan matanya menyisakan nanar keruh. Air mukanya pun menampak riak berdebu. Raut belia itu tambah kusam saja saat butir debu yang diterbangkan mobil-mobil di depannya lengket di wajahnya. Kulit wajahnya begitu berminyak. Seperti bentangan kanvas lusuh, wajahnya sekilas menguar panorama senja. Namun, kerling retinanya menegaskan usianya yang masih di bawah dua puluh tahun. Continue reading “Tepi Jalan Ahmad Yani”

Koran Mbah Karna

Salamet Wahedi *
(majalah gong, edisi 114/X/2009)

Mbah Karna. Usianya, berdasar ukuran rata-rata usia hidup manusia sekarang, sudah memasuki senja legam. Sorot matanya seperti matahari sepenggal di kaki langit. Dan garis-garis kulitnya meliuk-lingkar seperti arakan awan di bibir malam. “Hati-hatilah. Hidup ini tetaplah kotak teka-teki. Jika kau benar menjawab pertanyaan Mendatar, belum tentu di pertanyaan menurun kau akan selamat”, pesannya pada setiap orang yang sowan padanya. Pesan ini pulalah yang mengingatkan dan menarik banyak orang untuk selalu mengunjunginya. Terutama di akhir bualn atau di saat ada moment penting. Continue reading “Koran Mbah Karna”