SORE INI SEPEDAKU MENABRAK DINDING

Mardi Luhung
dijumput dari Jawa Pos, Maret 2008

sehabis bercinta januari 2008

Sore ini sepedaku menabrak dinding. Tapi tak terguling. Terus menembus dan menggelinding. Menuju ke kedalaman laut. Di kedalaman itu sepedaku terus aku kayuh. Melewati koral, terumbu dan karang. Sekian duyung yang montok melambai. Dan sekian mambang yang melayang. Melayang dengan siripnya. Pun menggerakkan cahayanya. Cahaya yang warna-warni. Seperti warna-warninya pelangi yang pernah aku kirimkan ke lembah-lembah tempat kau berada. Mungkin kata mereka: “Pengelana itu telah sampai kemari. Lihatlah gayanya. Lihatlah lagaknya. Adakah yang menyamainya dalam lekuk?” Continue reading “SORE INI SEPEDAKU MENABRAK DINDING”

Pencuri (Bukan) Malaikat

Teguh Winarsho AS

Asshalatu khairu minna naum…
Allahu akbar, Allhu akbar….
Laa illaha illallah….

SENYAP subuh tiba-tiba pecah oleh gema suara azan. Laki-laki itu, Hasan, hatinya bergetar. Ia harus segera menunaikan kewajibannya. Mengambil air wudu dan salat berjemaah. Tapi, ah, ada sesuatu yang membuat pikirannya resah gelisah. Kedua kakinya enggan melangkah. Tampak di atas, langit subuh meremang bertabur bintang sisa malam pekat yang nyaris pudar. Sementara di udara, kabut tipis mulai bergerak dari arah bukit melulur pepohonan, bergetar pada lampu-lampu neon di pinggir jalan. Continue reading “Pencuri (Bukan) Malaikat”

Kembang Sepatu di Antara Sepatu

A. Rodhi Murtadho

Sepatu berbau busuk. Kembang sepatu berwarna merah. Pemandangan yang selalu ada di setiap hari Minggu. Di antara teriknya sinar matahari dan angin yang terus mengalir pada kesunyian yang membawa bau busuk sepatu. Tentu saja bau itu menjalar ke mana-mana. Yang pasti ke rumahku. Sebagai tetangga yang berdempetan. Bahkan halamannya juga hampir menjadi satu. Aku yakin tetangga yang berada di seberang sana dalam radius seratus meter masih bisa merasakan kebusukan sepatu itu. Continue reading “Kembang Sepatu di Antara Sepatu”

Seorang Pembantu, Seekor Kucing, dan Sebuah Guci yang Indah

AS Sumbawi

Sore itu kami pergi ke rumah paman yang baru pulang dari Cina. Sementara Mbok Darti dan seekor kucing tinggal di rumah. Mbok Darti kira-kira berumur enam puluh lima tahun. Kata ibu, dia sudah puluhan tahun menjadi pembantu di rumah kami. Mengurus kebutuhan harian keluarga kami. Dan sejak masih bayi, aku diurus oleh Mbok Darti. Maka, bisa dikatakan bahwa keberadaan Mbok Darti sangat membantu, membikin ringan tugas seorang ibu dalam keluarga kami. Sebenarnya keluarga kami mempunyai seorang pembantu lagi, Lik Paijo. Namun, sore itu dia bersama kami, menyopir. Ya, setiap harinya ia bertugas mengurusi bidang transportasi. Continue reading “Seorang Pembantu, Seekor Kucing, dan Sebuah Guci yang Indah”