Sjahrir di Pantai

Goenawan Mohamad
tempointeraktif.com

SAYA bayangkan Sjahrir di Banda Neira pagi itu, 1 Februari 1942. Kemarin tentara Jepang menyerbu Ambon. Beberapa jam sesudah itu bom meledak.

Saya bayangkan pagi itu, setelah sebuah pesawat MLD-Catalina berputar-putar di sekitar pulau. Berisiknya membangunkan penduduk, sebelum ia berhenti di pantai yang tenang. Ko-pilot pesawat, seorang opsir Belanda, turun dan menuju ke tempat Sjahrir dan Hatta tinggal. Kedua tahanan politik itu harus meninggalkan pulau cepat-cepat, pesannya. Hanya ada sekitar waktu satu jam untuk bersiap. Continue reading “Sjahrir di Pantai”

Rafika

Arie MP Tamba
jurnalnasional.com

Rafika adalah tipikal jalinan cerita dan teknik penggarapan sinetron-sinetron kita. Di dalamnya ada kisah balas dendam seorang pria (Abadi/Fadli) terhadap pria (Gunawan/Mathias Muchus) yang dianggap merebut calon istrinya, meskipun yang terjadi sebenarnya adalah perjodohan yang dipaksakan. Continue reading “Rafika”

Seni Mengkritik Rokok*

Kukuh Yudha Karnanta
http://ahmad-sujai.blogspot.com/

Banyak aktivis melakukan aksi kritis terkait rokok dan tembakau, tapi tak banyak yang benar-benar berpikir kreatif dalam aksinya.

Sosok Sujai (S Jai) adalah salah satu dari sedikit aktivis yang melakukan kampanye secara inovatif. Ia bukan hanya tahu dan hafal, lebih dari itu, ia mengerti, paham, dan mampu mengaplikasikan pengetahuan tentang rokok dan tembakau sebagai inspirasi karya kreatif seni teater. Continue reading “Seni Mengkritik Rokok*”

Menguak Tabir Politik Sastra

Agus Himawan
kompas-cetak

TS Eliot dalam Tradition and Individual Talent (The Sacret Wood, London: Methuen& Co, 1960) berseru, “Kritik yang jujur dan apresiatif diarahkan bukan kepada penyair, tetapi pada sajaknya. Jika kita memerhatikan omongan kacau para kritikus di koran serta desir ulangan populer yang menyusulnya, kita akan mendengar banyak nama penyair. Sedangkan jika kita mencari kenikmatan karya, kita akan jarang mendapatkannya.” Continue reading “Menguak Tabir Politik Sastra”

Bahasa »