Setelah “Sesuatu Indonesia” Tentang Sastra Kita di Masa Depan

Muhammad Al-Fayyadl

Tiap ditanya soal masa depan sastra Indonesia, saya selalu ragu menjawabnya. Pertama, saya kira tak seorang pun dapat meramalkan masa depan. Pengertian masa depan begitu cair dan penuh kontradiksi. Yang kita anggap masa depan lebih merupakan bayangan, imajinasi, atau keinginan kita tentangnya. Kedua, pasti memusingkan bila bicara tentang masa depan narasi sejarah bernama “sastra Indonesia”. Continue reading “Setelah “Sesuatu Indonesia” Tentang Sastra Kita di Masa Depan”

Nobel untuk Sang Perawat Memori

Khairul Mufid Jr

Masyarakat sastra dunia dikejutkan dengan terpilihnya Patrick Modiano sebagai pemenang anugerah Nobel sastra 2014, penghargaan tertinggi dunia kesusastraan. Bagaimana tidak, Penulis Perancis kelahiran 30 Juli itu rupanya menyisihkan pesaing-pesaing beratnya seperti novelis Jepang (Haruki Murakami), atau penulis serba bisa Ngugi wa Thiong’o asal Kenya. Karena keduanya dianggap kandidat lebih berpeluang oleh seluruh publik sastra dunia. Continue reading “Nobel untuk Sang Perawat Memori”

Catatan Usai Membaca Kronik Gladwaller, J.D. Salinger

Fatah Anshori *

Entahlah kenapa orang-orang gemar sekali berperang dari dulu hingga sekarang. Aku tidak tahu persis kejadian pada tanggal 22 Mei 2019 yang barusan terjadi di Jakarta, mungkin jika digolongkan kejadian itu juga termasuk perang, antara rakyat yang memperjuangkan suara mereka, melawan aparat pelindung negara, mungkin semacam itu. Jika memang perang memiliki indikasi: saling pukul, lempar batu, helm, gear motor, knalpot, letupan senapan dan pada akhirnya menghasilkan darah yang mengucur, kematian dan rasa sakit lalu dendam kesumat. Continue reading “Catatan Usai Membaca Kronik Gladwaller, J.D. Salinger”

Balzac dan Fantasi Global

Eka Kurniawan
Jawa Pos, 7 Mar 2020

Honoré de Balzac, salah satu penulis besar Prancis, pernah menulis sebuah catatan perjalanan berjudul Voyage de Paris à Java. Perjalanan dari Paris ke Jawa, tanpa pernah sekali pun menginjakkan kaki di Pulau Jawa. Lho, maksudnya?

Yang mengaku pernah pergi ke Hindia Belanda di masa itu, di abad kedelapan belas, adalah temannya. Balzac hanya mendengarnya. Mungkin temannya mengarang bebas alias ngibul atau Balzac sendiri yang berfantasi gila-gilaan. Continue reading “Balzac dan Fantasi Global”

Bahasa »