
Taufiq Wr. Hidayat * Continue reading “HARAPAN DI BELANTARA KERISAUAN”
Hubungan Darah Sastra dan Lapar
Khairul Mufid Jr
“Aku berpikir setengah mati untuk menemukan kata-kata yang cukup hitam untuk menggambarkan kegelapan itu, suatu kata yang sedemikian pedih kehitamannya hingga dapat melukai mulutku bila kuucapkan.”
Kutipan kalimat di atas diambil dari novel Hunger, Sult, (Lapar) karya Knut Hamsun yang sempat menggemparkan publik Norwegia bahkan dunia. Betapa tidak, novel yang semi-autobiografi itu berkisah tetang seorang penulis muda yang maha miskin dan selalu kelaparan. Continue reading “Hubungan Darah Sastra dan Lapar”
Membaca The Seven Good Years, Etgar Keret

Fatah Anshori * Continue reading “Membaca The Seven Good Years, Etgar Keret”
Puisi yang Berimaji dan Esai yang Menjelaskan
Dhoni Zustiyantoro *
Kepadatan bahasa puisi mengajak pembaca masuk ke wilayah multitafsir. Kaidah licentia poetica menengahkan puisi bisa memiliki bahasa tak lazim, mengalihkan dari apa yang maksud pengarang, dengan gejala semiotis yang berserak dan ingin ditafsirkan pembaca. Continue reading “Puisi yang Berimaji dan Esai yang Menjelaskan”
Ke Arah Seni Berisi: Sekitar Soal “Tendens”
Boejoeng Saleh
I
Masalah tendens sebagai suatu segi persoalan nisbah seniman terhadap masyarakat atau dengan kata-kata lain fungsi seniman di dalam masyarakat setelah Perang Dunia kedua hingga kini mendapat kehangatannya kembali karena berbagai penyiaran-penyiaran baru, sekalipun masalah itu telah menjadi tema diskusi-diskusi kesenian dan keilmuan sejak lebih daripada seabad yang lampau. Di dalam polemik H.B. Jassin lawan Klara Akustia hampir dua tahun yang lampau dan polemik Aoh Kartahadimadja lawan Bakri Siregar kemudiannya soal itu telah disenggol-senggol sedikit, sekalipun belum bertegas-tegas. Continue reading “Ke Arah Seni Berisi: Sekitar Soal “Tendens””
