Sajak-Sajak Satmoko Budi Santoso

http://www2.kompas.com/
Berlayar ke Tepi Krui
(Variasi atas Hikayat Bujang Tan Domang* )

bagai si domang yang suatu hari singgah
terantuk di tanggul sialang kawan, dusun betung,
sungai bunut, tanjung sialang, dan tanjung perusa
aku berlayar. limbung terbantun dari tepian selat sunda
menumpang sampan dayung bercadik
?lupakanlah si raja lalim, si panjang hidung,” ebokku merengek
menghela galah galau, melontar sepah dendam
sumpah seranah atas kampung halaman Continue reading “Sajak-Sajak Satmoko Budi Santoso”

Pesona Strategi Literer Agus Noor

Satmoko Budi Santoso*
http://www.jawapos.com/

CERPENIS Agus Noor kembali menerbitkan kumpulan cerpen. Tajuknya cukup menggugah: Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia. Kejutan apakah yang terjadi di dalamnya?

Agus Noor masih menunjukkan kepiawaian sebagai pencerita di dalam sejumlah cerpennya kali ini. Rupanya, sebagian merupakan perwujudan konseptualisasi ”cerpen mini” sebagaimana kredo yang pernah dilansir Agus di sebuah media massa. ”Cerpen mini”? Ya, cerpen yang menurut Agus sanggup meringkus sejumlah peristiwa dalam satu narasi pendek. Continue reading “Pesona Strategi Literer Agus Noor”

Linearitas Cerita dan Sublimasi Bahasa*

Cerpen-cerpen Raudal Tanjung Banua

Satmoko Budi Santoso*
http://www.facebook.com/people/Satmoko-Budi-Santoso/1648033915

WILAYAH cerita bukanlah area yang memaksudkan dirinya menjadi tak bebas nilai. Wilayah cerita tetaplah berada di dalam koridor keterikatan ruang dan waktu, pengejawantahan aktualitas, dan sederet konvensi lain yang tak begitu saja melepaskannya sebagai fiksi. Wilayah cerita tetaplah mengemban visi dan ideologi tertentu, pandangan dan pesan moral, sehingga aspek fiksionalitas harus ditawar, jika memang aspek ini selalu ingin diunggulkan karena keyakinannya yang (hanya?) bersandar pada kekuatan metafor, imaji, dan ambiguitas makna. Continue reading “Linearitas Cerita dan Sublimasi Bahasa*”

Mengenang Kampung Halaman

Satmoko Budi Santoso*
http://www.jawapos.co.id/

PAMERAN tunggal seni rupa bertajuk (C)artography karya Julnaidi M.S. di Emmitan CA Gallery Surabaya pada 11-25 Oktober 2009 dengan segera sangat mengesankan bahwa Julnaidi berusaha merefleksikan ingatan kolektif atas kampung halamannya, yakni Sumatera Barat. Memang pameran ini tak berhubungan dengan peristiwa gempa bumi di wilayah itu baru-baru ini. Semua lukisannya dipersiapkan sebelum bencana alam itu terjadi. Dengan kata lain, pameran tersebut bukan pameran amal. Continue reading “Mengenang Kampung Halaman”