Mengenang Kampung Halaman

Satmoko Budi Santoso *
jawapos.co.id

PAMERAN tunggal seni rupa bertajuk (C)artography karya Julnaidi M.S. di Emmitan CA Gallery Surabaya pada 11-25 Oktober 2009 dengan segera sangat mengesankan bahwa Julnaidi berusaha merefleksikan ingatan kolektif atas kampung halamannya, yakni Sumatera Barat. Memang pameran ini tak berhubungan dengan peristiwa gempa bumi di wilayah itu baru-baru ini. Semua lukisannya dipersiapkan sebelum bencana alam itu terjadi. Dengan kata lain, pameran tersebut bukan pameran amal. Continue reading “Mengenang Kampung Halaman”

Diplomasi Sastra Indonesia ke Level Internasional

Satmoko Budi Santoso
Bernas

DALAM rentang waktu mulai tahun 2000-an, kesusastraan Indonesia yang diharapkan mampu “tinggal landas” berkaitan dengan momentum pasar bebas, rasanya kurang begitu menunjukkan hasil. Dalam konteks ini adalah kesusastraan Indonesia yang mampu unjuk sampai ke level internasional. Oleh karena itu, eksistensi sastra Indonesia memang masih harus belajar keras agar mampu menembus ke level diplomasi sastra tingkat internasional. Continue reading “Diplomasi Sastra Indonesia ke Level Internasional”

Membedah Anatomi Cerpen Indonesia:

Antara Kompleksitas Estetika dan Wilayah Sosialisasi

Satmoko Budi Santoso
Solo Pos

CERITA pendek (cerpen) Indonesia bersama eksistensi kritikusnya ternyata bisa menggelembung sebagai wacana yang bernilai gunjingan di warung-warung kopi atau melalui SMS. Namun, pastilah bisa juga diperdebatkan, sebagai konsekuensi penelaahan, setidaknya terepresentasi dalam tajuk Kongres Cerpen Indonesia III, 11-13 Juli 2003 yang silam, di Taman Budaya Lampung. Continue reading “Membedah Anatomi Cerpen Indonesia:”

Sastra dalam Basis Orientasi dan Komitmen Estetika Lokal*

Satmoko Budi Santoso
Kedaulatan Rakyat

WACANA desentralisasi komunitas sastra kembali menggemuruh pada awal tahun ini. Marwanto, Ketua Komunitas Lumbung Aksara Kulonprogo Yogyakarta membebernya dalam esei yang berjudul Temu Sastra Tiga Kota (Harian Kedaulatan Rakyat, 13 Januari 2008) lalu. Sayang, cuatan pikiran Marwanto hanya sebatas paparan pemetaan sastrawan yang ada di tiga kota, yakni Yogya, Kulonprogo, dan Purworejo. Selebihnya, hanya menyinggung sedikit tentang kemungkinan potensi yang bisa dikembangkan dari kegairahan bersastra yang ada di kota-kota tersebut. Continue reading “Sastra dalam Basis Orientasi dan Komitmen Estetika Lokal*”

Bahasa ยป