Naskah-Naskah yang Terlupakan

Seno Joko Suyono, Lucia Idayani, Heru Nugroho
http://majalah.tempointeraktif.com/

Begitu melewati hutan-hutan cemara yang sunyi, masuklah kami ke wilayah Desa Kendakan, desa di lereng Merbabu yang juga seperti desa-desa di pegunungan lain. Jalanan batu rapi dengan rumput di sela-selanya sehingga tidak licin bila hujan. Udara segar, dan sesekali tercium bau asap lisong.

Sore itu, kami mencari seorang dalang bernama Sumitro. Bertanya-tanya dari kaki sampai lereng gunung, hampir semua warga kenal dan dapat menunjukkan rumahnya. Rumah yang amat sederhana. Kaca jendelanya buram, penuh tempelan stiker para pendaki gunung. Continue reading “Naskah-Naskah yang Terlupakan”

Sastra Hindia Belanda: Catatan Sebuah Surga yang Hilang

Seno Joko Suyono, Adi Prasetyo, Dina Jerphanion
http://majalah.tempointeraktif.com/

Bau harum daun teh tanah Priangan masih terasa menyegarkan di hidung Hella Hesse. Rasa dan bau itu seolah terpancar dari novel Heren Van de Thee karya Hella Hesse, yang diluncurkan tahun lalu. Novel yang memilih seting perkebunan teh di Bandung itu mengisahkan seorang juragan Belanda yang makamnya digunakan sebagai lokasi tirakatan oleh rakyat setempat. Dalam waktu setahun roman itu menjadi best-seller. Continue reading “Sastra Hindia Belanda: Catatan Sebuah Surga yang Hilang”

Hidup itu Singkat, Seni…

Seno Joko Suyono
http://majalah.tempointeraktif.com/

Di Ancol, Ni Cenik, 81 tahun, bersama cicitnya, Ni Wayan Harum, menatap laut lamat-lamat. Di kejauhan tampak garis horizon. Tangan mereka bergandengan erat. Malam sebelumnya, di panggung Graha Bakti Budaya, bersama anak, cucu, dan cicitnya, Ni Cenik menari. Dan kini ia seolah berikrar kepada laut….

Tari Bali, mungkin, di mata Ni Cenik sudah merosot. Di desa-desa Bali kini muncul joget, joget bumbung, yang membuat mabuk kepayang anak muda. Continue reading “Hidup itu Singkat, Seni…”

Soe Hok Gie: Kegelisahan tanpa Ujung

Seno Joko Suyono, Nurdin Kalim, L.N. Idayanie, Evieta Fajar, Suseno
http://majalah.tempointeraktif.com/

Peristiwa itu masih melekat di benak Herman Lantang, 65 tahun. “Man, entar turunnya bareng gue. Lu, gue tunggu di sini,” kata Soe Hok Gie.

Soe Hok Gie beristirahat di sebuah ceruk. Ia menggigil kedinginan. Udara Gunung Semeru sangat menusuk waktu itu,16 Desember 1969. Dari Ranu Kumbolo, sebuah danau di Gunung Semeru, Herman Lantang, Aristides Katoppo, Soe Hok Gie, Idhan Lubis, Freddy Lasut, Rudi Badil, Abdurachman, dan Wiyana bergerak menuju Arcopodo yang terletak pada ketinggian 3.200 meter di atas permukaan laut?pos terakhir sebelum puncak. Continue reading “Soe Hok Gie: Kegelisahan tanpa Ujung”

Ayu Utami: Madonna dalam Sastra Indonesia

Seno Joko Suyono
majalah.tempointeraktif.com

AYU Utami melesat membelah langit sastra Indonesia bak sebuah meteor. Ketika novel Saman diumumkan sebagai pemenang roman sastra Dewan Kesenian Jakarta, hidup Ayu dilanda gunjingan yang mempertanyakan benarkah novel ini lahir dari tangannya. Namun, novel keduanya, Larung, tampaknya mengakhiri gunjingan itu sekaligus “mengukuhkan otoritas kepengarangan Ayu,” demikitan tulis kritikus sastra Melani Budianta. Continue reading “Ayu Utami: Madonna dalam Sastra Indonesia”

Bahasa ยป