Hidup itu Singkat, Seni…

Seno Joko Suyono
http://majalah.tempointeraktif.com/

Di Ancol, Ni Cenik, 81 tahun, bersama cicitnya, Ni Wayan Harum, menatap laut lamat-lamat. Di kejauhan tampak garis horizon. Tangan mereka bergandengan erat. Malam sebelumnya, di panggung Graha Bakti Budaya, bersama anak, cucu, dan cicitnya, Ni Cenik menari. Dan kini ia seolah berikrar kepada laut….

Tari Bali, mungkin, di mata Ni Cenik sudah merosot. Di desa-desa Bali kini muncul joget, joget bumbung, yang membuat mabuk kepayang anak muda. Ini joget ngebor ala tayuban. Sangat bebas, diiringi kor penabuh gamelan bambu yang girang, lucu, penuh humor, trengginas, joget bumbung selalu mengundang tumplek blek penonton, yang berebutan spontan ngibing bersama para penari yang, dalam istilah Bali, goyangannya… nggegol dan ngengkok, maut, merangsang.

Ketut Cenik lahir di Batuan, Gianyar, sebuah daerah yang tersohor sebagai sarang gambuh, arja, Calon Arang. Cenik, yang bisa menguasai keseluruhan tari itu, adalah primadona joget pingitan. Ini jenis tarian berdua, lelaki dan perempuan, yang saling merespons gerak tapi tanpa bersentuhan tubuh atau kontak kulit. Biasanya cerita bersumber dari kisah Prabu Lasem atau Calon Arang.

“Dulu penari joget pingitan sering oleh penonton dititipi bayi, menari menggendong bayi, karena mereka percaya anaknya akan mendapat berkah keselamatan,” kata I Wayan Dibia, pengamat tari. Kita lihat bahwa dulu joget pingitan termasuk sakral. Ni Cenik juga dikenal sebagai salah satu dari sedikit sumber yang masih hidup yang ahli hal ihwal tari rejang, tari wanita di pura. “Sekarang saya hanya mengajar,” katanya.

Ni Cenik atau Men Jimat (ibunya jimat), begitu ia biasa disapa kalangan seniman lama di Bali, tua tapi masih riang. Tubuhnya yang gemuk, keriput, menggelambir, tak menghalangi kelincahannya. “Saya tak makan daging atau ikan,” katanya. Ia mengaku, bila tak menari, ya, tidur. Daya humornya pun masih tinggi. Di depan kamera, ia bisa terkekeh, lalu berakting, mendelik-delikkan mata, dan, “Hwa… hwa…,” teriaknya menakut-nakuti seolah ia barong seram. Di kesempatan lain, ia bercanda, “Saya sedang cari pacar, ha-ha-ha….”

Pembawaan yang riang juga kita temukan pada pribadi Rasinah, 70 tahun, penari topeng dari Indramayu. Dia orang tua berkerudung yang jalannya pun harus dipapah. Ringkih, tapi antusiasmenya luar biasa. Itu tentu bukan lantaran jamu kuat yang secara rutin diminumnya, melainkan karena gemblengan keras di masa kecilnya. Sejak berusia 5 tahun, oleh Lastra, ayahnya yang penari topeng, Rasinah dilatih untuk menari dan tirakat.

Pada umur 9 tahunan, ia diharuskan puasa, termasuk hanya makan lauk cabe rawit selama 40 hari, nguler?makan daun-daunan dan umbi-umbian?dan menjalani pati geni, terjaga, waspada, tidak tidur berhari-hari. Ia harus berjalan berpuluh-puluh kilometer mengikuti ayahnya yang mengamen tari topeng dari satu daerah ke daerah lain. Ini suatu olah batin yang keras, yang tak terbayangkan dapat dijalani penari sekarang. Pada umur 14 tahun, Rasinah menikah dengan seorang dalang bernama Tamar. Suami dan dua anaknya meninggal dunia. Dan ia menikah lagi dengan seorang dalang bernama Amat. Tapi pasangan hidup itu meninggal juga.

Dan seluruh penderitaan?seolah terbawa?menjadi energi yang luar biasa bila ia berdiri di panggung. Diam, mengusap kain topeng klana, mengenakannya, dan tiba-tiba tubuh yang ringkih itu berubah. Pundaknya terangkat, kakinya berderak, penampilannya galak, kasar, penuh entakan-entakan mengejutkan. Sebuah kekuatan, keindahan, keharuan, keanggunan yang memukau sekaligus mengiris….

Munculnya kembali Rasinah mustahil tanpa bantuan dari pihak luar. Ada 20 tahun ia tidak menari, hidup dalam sebuah gubuk yang langit-langitnya jebol. Bahkan sebuah topeng pun tak ia miliki. Suatu kali pada 1994, Wangi Indriya, penari, dalang wanita dari Indramayu, tanggapan di desa. Menghormati yang tua, ia meminta Rasinah menari. Ternyata mengagetkan. Kemampuannya masih prima. Wangi Indriya menceritakan pertemuan ini kepada budayawan Toto Amsar Suanda dan Endo Suanda. Keduanya lalu membujuk Rasinah menari lagi.

Rasinah mulanya menolak. “Bagaimana saya mau menggigit topeng? Gigi saya tinggal satu,” kenang Rasinah sambil tertawa. Yang memukau, begitu berlatih, ia seolah hafal seluruh orkestrasi bunyi. Irama, tempo, ketukan keluar begitu saja dari dalam tubuhnya. Ia menirukan bunyi kendang dengan mulutnya, lalu musisi mengikutinya dengan gamelan. Justru ia yang seperti melatih niyaga-niyaga?sementara ingatan-ingatan gerak tubuhnya muncul cepat.

Menari adalah hidup, menari adalah harga diri. Suatu kali, di Jepang, Rasinah sakit keras, sampai harus diinfus. Padahal malam harinya ia harus tampil. Untuk menyelamatkan pertunjukan, Endo Suanda sudah siap menggantikannya. Tapi tiba-tiba, menjelang pertunjukan, Rasinah bangkit dari dipan rumah sakit dan menuju panggung. Sukses. Tapi, setelah itu, ia ambruk lagi. “Saya ingat kata-kata ayah saya, lebih baik mati di panggung,” katanya, mengenang pesan ayahnya, yang tewas ditembak Belanda saat ia berusia 13 tahun.

Seperti Cenik yang mengajari cicitnya, kini Rasinah melatih Ely, cucunya. Pewarisan langsung ilmu ini penting lantaran kesenian tradisi bisa hilang bila tak dijaga. Dulu di Cirebon, ada maestro penari topeng bernama Suji yang membawa gaya Palimanan. Namun tak ada generasi penerus Ibu Suji. “Gaya Palimanan sekarang hilang,” kata Endo. “Wayang wong Cirebon, yang tahun 1980-an masih saya lihat, sekarang juga sudah lenyap,” ujarnya. Melatih anak zaman sekarang tentunya lebih sukar. Tapi Ni Cenik dan Rasinah berusaha keras mewariskan segala ilmu yang mereka miliki.

Seolah mereka tahu bahwa hidup boleh singkat tapi seni itu abadi. Ars longa, vita brevis….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *