Wawancara Sitor Situmorang: “Penandatanganan Manikebu Adalah Tindakan Politik”

Sitor Situmorang (30 Agustus 1999)
Pewawancara: Dwi Arjanto, Hermien Y. Kleden
http://majalah.tempointeraktif.com/

BUKAN hanya puisi yang bisa dibicarakan dari seorang Sitor Situmorang. Hidupnya yang banyak dilewatkan dalam pengembaraan di luar negeri dan komitmen politiknya yang menyebabkan ia berada dalam posisi berseberangan dengan banyak seniman Indonesia pada awal 1960-an, semua itu merupakan dimensi yang tak dapat diabaikan dari ketokohannya yang penuh warna. Continue reading “Wawancara Sitor Situmorang: “Penandatanganan Manikebu Adalah Tindakan Politik””

Sitor Situmorang: Tak Ada Dendam, Tak Ada Yang Disesalkan

Martin Aleida
http://www.facebook.com/note.php?note_id=199407399697

Genealogis, siapa sebenarnya Sitor Situmorang itu? ?Saya adalah keturunan Si Marsaitan generasi ke-12,? kata sang penyair dengan lantang. Si Marsaitan? Kalau begitu kakek-moyang Sitor adalah anak yang tidak diinginkan oleh ibunya, yang lahir dari cinta palsu, karena perempuan yang hebat itu berpura-pura cinta dan menjadi istri karena ingin membalas dendam atas kematian suami yang sungguh dia cintai. Continue reading “Sitor Situmorang: Tak Ada Dendam, Tak Ada Yang Disesalkan”

Sitor Situmorang, Karena Sastrawan Bukan Malaikat

Sitor Situmorang. Pewawancara: Bagja Hidayat, Qaris Tajudin
http://www.ruangbaca.com/

Suaranya masih bergemuruh di usia yang menanjak 82. Gayanya juga masih khas: menggebrak, menunjuk, atau mengguncang pundak lawan bicara sambil terkekeh?terutama jika menyangkut soal politik di sekitar tahun 1965. Sitor Situmorang memang tak bisa dipisahkan dari situasi politik ketika itu yang membuat dua kubu seniman berhadapan secara tegas. Di satu sisi ada seniman-seniman realisme-sosialis yang mendukung kebijakan Presiden Soekarno dan di seberangnya berdiri para seniman muda yang kemudian disebut kelompok Manikebu (Manifes Kebudayaan). ?Situasi dunia akibat perang dingin antara Amerika dan Soviet yang membuat politik seperti itu,? katanya. Continue reading “Sitor Situmorang, Karena Sastrawan Bukan Malaikat”