TUHAN DI PELUPUK SITOR SITUMORANG

Mianto Nugroho Agung *
miantonalove.blogspot.com/2011/08

Sekelumit Sitor Situmorang

Sitor dilahirkan di Harianboho (Sumatera Utara) pada 2 Oktober 1924. Dibanding mereka yang sezamannya, ‘bocah’ Sitor cukup beruntung di bidang pendidikan. HIS (Balige dan Sibolga) dan AMS (Jakarta) berhasil ia lalui. Bahkan ia pernah memperdalam pengetahuan mengenai sinemaografi di Universitas California (Amerika Serikat). ‘Sebelum’ menjadi sasterawan, ia adalah wartawan di berbagai media massa. Kemudian berbagai jabatan Struktural maupun non srtuktural ia gapai pula. Dari mulai pegawai DPK sampai dosen ATNI, dan dari mulai anggota DPN, MPRS hingga Ketua Lembaga Kebudayaan Nasional. Belakangan ia tinggal di Pakistan, setelah berbagai negara di dunia ia ‘singgahi’.

Sekelumit Proses Kepenyairannya

Barangkali Sitorlah penyair yang lahir dari ketidaksengajaan setelah pada tahun 1939, ketika duduk di kelas II SMP, berkenalan dengan “Saijah dan Adinda”-nya Max Havelaar. Sebuah perkenalan pertama yang unik dan tragis, karena baru terasa gregetnya 10 tahun kemudian, yakni ketika ia menulis sajaknya yang pertama (Kaliurang, 1948). Hebatnya, sajaknya ini ketika dikirim ke SIASAT yang -katanya- ‘sangat berpengaruh dan baik’, langsung dimuat. Ia mengaku bahwa sajaknya yang pertama ini sebagai bukan karena ilham, tetapi karena emosi belaka.

Berbeda dari Chairil Anwar -’teman’ seangkatan dan sedaerah-, Sitor belum juga exist apalagi mencuat di tengah suasana yang ‘buruk’ akibat berbagai perubahan. Tetapi kalau ditanya apa cita-citanya, ia selalu menjawab ‘pengarang’. Namun apa lacur, aspirasi sastra yang samar, sekolahnya yang putus di tahun 1943-1945 karena pendudukan Jepang, dan ‘badai’ (istilahnya untuk masa sulit) saat itu menyebabkan ia lebih memilih menjadi wartawan dulu. Ia malang melintang di dunia jurnalistik dari Sibolga, Medan, Pematang Siantar, Jakarta hingga Yogyakarta.

Pada usia 25 tahun, di tengah kesibukannya sebagai wartawan, ia “ … makin terpesona oleh dunia sastra dan dunia kesenian”. Dikunjunginya berbagai pusat kesenian di Solo dan Yogyakarta. Berkenalan dengan Chairil Anwar pun dia alami. Puncaknya adalah: Kaliurang. Dan, disusul ‘potret’ lain sekitar alam, perjuangan, dan tema-tema lain di luar tema pribadi yang diakuinya sebagai belum menjelma karena belum ‘kesurupan (trance)’. Pengalaman seperti itu muncul di tahun-tahun 1953-1954. Ketika Chairil Anwar meninggal, beberapa saat kemudian ia ke Eropa, dan dari sana lahirlah berbagai karyanya. Hingga ratusan jumlahnya yang sudah diterbitkan.

Tuhan Dalam Jendela Sastra Sitor

Tidak banyak karyanya yang benar-benar eksplisit berdimensi religius (dalam arti berbingkai latar belakang agama). Namun toh bukan berarti ‘potret’ Tuhan tak tertemukan dalam karya Sitor. Anehnya, dari yang sudah sedikit itu ternyata Sitor ‘berkesimpulan’ amat mengejutkan. Tuhan dipotret dalam medium realitas seorang Sitor saja. Atau, setidaknya lewat dirinya.

“Malam Jakarta”, adalah mozaik kota Jakarta yang dalam transisi setelah dilanda berbagai kerusuhan. Karena itu nada pesimis dan skeptisnya terasa menonjol. Wajah bopeng itu mendorongnya untuk menggugat eksistensi Tuhan. Warna La-Paste-nya Sartre terasa kental, dan sampailah Sitor pada kesimpulannya bahwa ‘Salib di Kutub’ setelah ‘bayang sepi’ maka dikatakannya ‘Tuhan tak ada’. Bandingkan dengan gugatan Nitsche yang berani membunuh tuhannya (t kecil) setelah jengkel tuhan tak berbuat apa-apa untuk kesejahteraan manusia. Bagi Sitor, seperti ternyata dalam “Chathredale de Chartes”, ‘ … kesucian nyanyi gereja kepercayaan ‘ hanya berarti sebagai yang kondisional agar ‘bersatu kutuk nafsu dan rahmat Tuhan/lambaian cinta setia dan pelukan perempuan’. Syukur pada awal sajak ini Sitor masih berani bertanya ‘Akan bicarakah Ia di malam sepi’ seperti ia juga menanyakan ‘kenapa takkan percaya pada Tuhan?’ setelah ‘ … dalam duka tak mau beranjak’. Tapi, toh ia membuat semacam konklusi bahwa ‘Ia pun didera sepi’.

Penghakiman bahwa ‘Tuhan tak ada’ di “Macan Jakarta” ternyata tidak saja dihidupkan dalam puisi berjudul “Sajak”; lebih dari itu, tuhan yang dihidupkannya itu ternyata perlu ‘dadili’. Pertama-tama ia menyatakan ‘Adakah Ia penipu ataukah anak Tuhan?’. Akibatnya, Sitor merasa menjadi “Si Anak Hilang” dan karena penjelajahannya ke negeri-negeri seberang, pada hari “Raya Pasah” ia merasa butuh pegangan. Sayang ia cuma berani menyesali ketakberdayaannya dengan berkata ‘Isa; Isa’ Isa/Aku tak punya Rupa’. Dalam “Gerejanya”, Sitor bahkan ‘ … tak berharap karenanya?’ walaupun ‘telah begitu lama diam / hingga tak dapat membedakan / suara burung’.

Pertanyaan kontemplatis barangkali perlu kita ajukan kepada Sitor setelah kita tahu betapa ‘jauhnya’ ia dari tuhan, yakni: Siapakah Kristus itu baginya dalam “Kristus di Medan Perang”: sorga bagi Sitor itu apa, saat ia menuliskannya dalam “Gerejanya”. Atau, pengakuan ‘jika aku ada di sini, hanyalah aku sendiri’ layak diamini seperti ia tulis di akhir sajak “Ziarah dalam Gereja Gunung”, amin (=kiranya Tuhan mengabulkan) merujuk pada Tuhan yang mana? Tuhan toh tidak ada bagin Sitor? Lantas, Yesus itu siapa, kalu ia menulis dalam “Sumpah Galileo”? Allah yang ditulis dalam “Keridaan” pun masih terlalu pagi untuk dirujuk sebagai tuhan Sitor. Rentetan pertanyaan itu masih bisa kita perpanjang lagi kalau mencermati sajak-sajaknya. Namun, agaknya tak terlalu berlebihan kalau mengatakan bahwa setidak ada-tidak adanya tuhan Sitor, bukan berarti Sitor tidak butuh dan percaya akan eksistensi Pribadi yang Supranatural itu. Terutama manakala ia menyadari betapa sepinya hidup tanpa tuhan. Lihat, dalam “Potret Maria Magdalena” toh ia juga memerlukan mujizat agar ‘Guru membuat anggur dari air/orang mati bangkit hidup’.

Tuhan Sitor Itu …

Tuhan Sitor itu barangkali bisa siapa saja, apa saja, asal Ia (dengan I besar) adalah figur supranatural (yaitu yang mampu bermujizat); yang tetap hadir dalam romantisme tepian Danau Toba, dinamika penduduknya, ibu yang membawa oleh-oleh kue, dan saat ikan emas bercengkerama. Dan, harus dalam kenangan dunia kanak-kanaknya Sitor seperti ternyata dalam “Danau Toba”. Kalau toh yang supranatural itu sepertinya Yesus Kristus (Tuhan orang Kristen) semata-mata karena Ia hadir dalam Injil yang kemudian ‘mendarat’ pada karya si – “Anak Hilang”, itupun bagi Sitor membaca Injil juga sebatas dalam kenangan. Artinya, secara tensis, sudah lampau. Tentu kita tak bisa berkesimpulan bahwa kini atau kelak tak bakal diulang Sitor.

Tuhan Sitor itu adalah pribadi / figur yang lebih berdimensi sosial di atas dimensi supranatural-Nya (dengan N besar). Ia harus terampil menjembatani kebutuhan Sitor manakala ia perlu menjenguk sahabatnya sehingga lahir “Malam Lebaran”. Tapi (jangan heran), di atas segalanya, rupanya Sitor cukup arif untuk meneriakkan kata pujian dan sembahan Allahuakbar! Dua kali. Dengan tanda seru lagi! Jadi …? Semoga Tuhan tetap ada dan sudi menerima teriakan seorang Sitor Situmorang.

*) Mianto Nugroho Agung, pemerhati awam sastra Indonesia. Alumnus FPIPS-IKIP Malang FTh.-UKSW, dan Pascasarjana Misiologi STT Abdiel. Sekarang staf pelaksana Yayasan Bina Darma, Salatiga. Mengajar di Fakultas Psikologi UKSW dan STT Abdiel.
Dijumput dari: http://miantonalove.blogspot.com/2011/08/tuhan-di-pelupuk-sitor-situmorang.html