LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (13-17)

Sunu Wasono

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (13)

Kumbayana berdiri. Dikencangkannya ikatan selendang yang melilit di pundaknya agar tak mudah lepas. Dilihatnya putranya masih terlelap. “Anak yang ganteng dan tahu perasaan bapaknya. Baik benar Nak kamu. Tidak rewel. Anteng. Gemes aku. Ayo Nak kita lanjutkan perjalanan. Semoga kita mendapat pertolongan,” kata Bambang Kumbayana kepada anaknya. Tak menoleh ke kanan-kiri, Bambang Kumbayana jalan lurus terus sesuai dengan pesan istrinya. Continue reading “LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (13-17)”

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (8-12)

Sunu Wasono

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (8)

Kalau awak boleh berterus terang, bagian ini awak tulis dengan susah payah. Kenapa menulis begini saja prosesnya susah seperti menulis karya agung saja. “Cerita begini tak lebih dari cerita biasa saja, malah terkesan terlalu didramatisasi. Tak heran kalau akhirnya memang menjadi cerita melodrama. Untuk menulis cerita begini, menyambung cerita sebelumnya, apa susahnya.” Begitulah kurang lebih ujar Raden Harya Sengkuni alias Tri Gantal Pati, salah satu tokoh cerita “Lenga Tala” yang sedang awak tulis ini. “Cepat lanjutkan,” desaknya. Continue reading “LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (8-12)”

Bahasa ยป