SEKELUMIT “KISAH” TENTANG PAK SAPARDI DJOKO DAMONO


Sunu Wasono *

Saya merasa beruntung dan bersyukur karena boleh dibilang cukup lama mengenal Pak Sapardi Djoko Damono (SDD). Saya masuk FSUI Jurusan Indonesia pada 1978. Sejak tahun itulah saya mengenal dari dekat Pak SDD. Kuliah Telaah Drama, Sosiologi Sastra, Sastra Bandingan, dan Perkembangan Masyarakat dan Kesenian Indonesia yang saya ikuti diampu Pak SDD. Saat menulis skripsi, tesis, dan disertasi saya dibimbing beliau.

Tahun 1987 saya diangkat sebagai pengajar di Prodi Indonesia. Sebagai dosen baru, saya tidak boleh langsung mengajar. Semua dosen baru harus menjadi asisten dosen senior. Beruntung saya diminta Pak SDD untuk menjadi asistennya. Saya menjadi asisten beliau untuk mata kuliah Sosiologi Sastra dan Pengkajian Puisi. Lama juga saya “nyantrik” pada Pak SDD. Sambil mengajar, Pak SDD menulis disertasi. Program S2 belum ada waktu itu. Ada cerita yang menarik tentang proses penulisan disertasi Pak SDD. Suatu kali Pak SDD bercerita kepada saya bahwa ia harus menulis disertasi lagi.

Kata “lagi” membuat saya secara spontan bertanya kenapa. Berceritalah Pak SDD bahwa disertasi yang telah diserahkan lama kepada pembimbingnya ternyata hilang. Bagaimana di tangan pembimbing naskah itu bisa hilang tak diceritakan. Boleh jadi hilang beneran atau lupa menaruh di mana. Maklum Pak Harsja pada waktu itu sedang punya jabatan banyak. Untuk yang mengenal beliau, “lupa” merupakan kata kunci penting. Celakanya, Pak SDD tidak punya salinannya. Pada waktu itu belum ada komputer. Pak SDD mengetik di mesin tik manual. Naskah ketikan tidak digandakan pula. Anehnya, saat bercerita itu beliau tidak terlihat kesal atau marah. Sebaliknya, ceritanya disampaikan dengan kocak ala Pak SDD. Sungguh cerita itu–meskipun menimbulkan rasa iba–menjadi hiburan tersendiri bagi saya.

Tahun 1987 komputer mulai ada di kampus, tapi masih dianggap barang mewah dan langka. Saya ingat, komputer di FIBUI hanya ada beberapa yang ditempatkan di satu ruang khusus di gedung 2. Penggunaan komputer amat terbatas. Tak semua dosen bisa menggunakannya. Jadi, penggunanya pun terbatas. Pak SDD termasuk salah seorang penggunanya. Beliau tiap hari Sabtu dan Minggu mengetik di situ setelah sebelumnya minta izin ke kepala komputer. Saya menemani Pak SDD dari pagi sampai sore. Rupanya di situlah Pak SDD mengetik disertasinya. Kurang lebih setahun selesai. Tahun itu juga Pak SDD menjalani ujian prapromosi di UI Salemba. Alhamdulilah saya ikut mengantar beliau. Dengan mobil Jetstar yang disopiri tetangga yang profesinya sopir angkot kami berangkat jam 09.00 dari Depok. Waktu itu saya kos di belakang rumah Pak SDD.

Setahun kemudian (1989), Pak SDD menjalani ujian promosi doktornya. Saya dan mbak Rita (Arkeologi), kalau tak salah, menjadi paranimnya. Yang menjadi promotor adalah Prof. Harsja Bachtiar, sedangkan ko-promotornya Ibu Prof. Dr. Haryati Subadio. Alhamdulilah Pak SDD menjawab dengan baik dan lancar semua pertanyaan para penguji, yaitu (yang saya ingat) Prof. Dr. Koenjaraningrat, Prof. Astrid Soesanto, Prof. Dr. Edi Sedyawati, dan Prof. Dr. Achadiati Ikram.

Lima tahun kemudian, Pak SDD dikukuhkan sebagai guru besar tetap pada Fakultas Sastra Universitas Indonesia (sekarang berubah nama menjadi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya). Judul pidato ilmiahnya adalah “Sastra, Politik, dan Ideologi.” Saya ingat betul ketika penyampaian pidato sampai pada bagian ucapan terima kasih, Pak SDD tak sanggup menahan rasa harunya yang teramat dalam. Beliau menangis sejenak yang membuat penyampaian kata-katanya tersendat. Saya kutipkan bagian pidato yang membuat Pak SDD menangis.

“Terima kasih setulus-tulusnya saya sampaikan kepada rekan-rekan pengajar di Jurusan Sastra Indonesia , yang pada pertengahan tahun 1970-an dengan penuh pengertian bersedia menerima “orang asing” ini. Kehangatan, keterbukaan, dan rasa kekeluargaan yang ada dalam jurusan ini menyebabkan saya segera merasa tidak mempunyai rumah lain lagi kecuali Fakultas Sastra Universitas Indonesia ini.” Karena terbawa oleh suasana haru, saya lihat banyak di antara hadirin pada waktu itu, termasuk saya, menitikkan air mata.

Saya beruntung dan bersyukur dapat menghadiri upacara pengukuhan guru besar itu. Keberuntungan saya pun bertambah lagi ketika naskah asli disertasi Pak SDD dihadiahkan kepada saya. Alhamdulilah. Tahun 1993 oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa disertasi tersebut diterbitkan dalam jumlah terbatas. Tujuh tahun kemudian, tahun 2000, Bentang menerbitkan juga. Namun, judulnya berubah menjadi “Priyayi Abangan: Dunia Novel Jawa Tahun 1950-an.” Meskipun sudah terbit sebagai buku, naskah disertasi Pak SDD saya simpan dengan baik. Terima kasih, Pak Sapardi Djoko Damono. Bapak telah banyak membantu saya, juga berbagi ilmu dan pengalaman. Sejujurnya saya banyak berutang budi pada Bapak. Karena saya tak dapat membalas kebaikan Bapak, hanya doa yang dapat saya panjatkan semoga Bapak mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. Amin.

22 Juli 2020

_______________
*) Sunu Wasono lahir di Wonogiri 11 Juli 1958. Taman SMAN Wonogiri tahun 1976, S1 di Jurusan Sastra Indonesia Fak. Sastra Universitas Indonesia (UI) tahun 1985, S2 di Program Pascasarjana UI (1999), dan S3 di Program Studi Ilmu Susastra FIBUI (2015). Sejak April 1987, staf pengajar di Fak. Ilmu Pengetahuan Budaya UI, mengampu mata kuliah Sosiologi Sastra, Pengkajian Puisi, dan Penulisan Populer. Tahun 1992 (6 bulan) menjadi dosen tamu di La Trobe University, Melbourne, Australia. Mulai Oktober 2016, menjadi Ketua Program Studi Sastra Indonesia, Fak. Ilmu Pengetahuan Budaya UI. Sejak mahasiswa menulis artikel di koran. Beberapa puisinya dalam antologi Sajak-sajak 103 (1986), Kampus Hijau 2 (STAIN Press, IAIN Purwokerto), dan buletin Jejak. Buku puisinya “Jagat Lelembut,” diberi catatan Prof. Dr. Suminto Sayuti, penerbit Teras Budaya. Tulisannya berupa resensi, kritik, esai, dipublikasikan di jurnal ilmiah (Wacana, Susastra, Jurnal Kritik), dan di berbagai media massa: Suara Karya, Kompas, Pelita, Republika, Jawa Pos, Horison, Bende, Syir’ah. Bukunya yang lain Sastra Propaganda (2007). Sejumlah hasil penelitian yang dikerjakan bersama Sapardi Djoko Damono, Melani Budianta, Saini K.M., Jakob Sumardjo, dan Bakdi Sumanto, dibukukan dalam Membaca Romantisisme Indonesia (Pusat Bahasa, 2005), Jejak Realisme dalam Sastra Indonesia (Pusat Bahasa, 2006), dan Absursisme dalam Sastra Indonesia (Pusat Bahasa, 2007). Karya kritiknya dimuat di buku Konstelasi Sastra (HISKI, 1990), Sastra untuk Negeriku (Museum Sumpah Pemuda, 2004), Dari Kampus ke Kamus (Prodi Indonesia FIBUI, 2005), Esai Sastra Bandingan dalam Sastra Indonesia Modern (YOI, 2003), H.B. Jassin Harga Diri Sastra Indonesia (Indonesiatera, Lingkar Mitra dan Yayasan Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, 2001), Membaca Sapardi Djoko Damono (YOI, 2011), dan Mahaguru yang Bersahaja (Prodi Indonesia, 2016).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *