Posted by PuJa on February 27, 2011
Suryanto Sastroatmodjo 1. Sadarkah Pangeran Puger bahwa dia tengah mengemban Sabda Sejarah? Suatu pewartaan dari “Babad Tanah Jawa” mengungkapkan, tatkala jenazah Sri Sunan Amangkurat II tengah dikafani menjelang pemakaman agung. Puger menyaksikan sorot vertikal ke langit, berwarna putih kebiru-biruan, keluar dari batang kemaluan raja yang ereksi. Dengan kekuatan saktinya, Puger mengucup sorot tersebut hingga wajah [...]
Filed under: Renungan Sastrawi
Posted by PuJa on February 25, 2011
Suryanto Sastroatmodjo 1. Pada galibnya, lewat ujung senjata, mestinya Prabu Duryudana dan Bima Sena dapat memperlihatkan pertarungan dahsyat yang mengecutkan hati. Bharatayudha memperlihatkan, awal dan ujung pergulatan ini sebenarnya amat seimbang, karena sama-sama memiliki semangat kerbau jantan, dan sama-sama pula memendam dendam. Walau, di babak yang menentukan, Duryudana remuk kepalanya oleh gada rujakpala, sebagaimana saudaranya, [...]
Filed under: Renungan Sastrawi
Posted by PuJa on
Suryanto Sastroatmodjo 1. Tahun ini, seorang anak keponakan saya, Vivi Sudayeni memenangkan lomba Cipta Puisi di Sragen, dalam perayaan Memperingati 10 Nopember, di mana sebuah sanjak bernapaskan kepahlawanan berhasil diciptakannya dengan bagus sekali. Tahun sebelumnya, diamenjuarai lomba baca puisi. Sebenarnya, kalau hanya lomba baca puisi, saya tidak begitu puas. Kepuasan itu justru lahir karena melihatnya, [...]
Filed under: Renungan Sastrawi
Posted by PuJa on October 13, 2010
KRT. Suryanto Sastroatmodjo http://media-sastra-nusantara.blogspot.com/ Ayunda Florentina Betty Suharti. Rasanya baru seperempat jam lalu, ketika kita melepas keberangkatan Tante Yottiek yang tergesa, di Stasiun Kota Kebumen, dalam kemarau yang menyesakkan nafas. Semalam, banyak sekali Tante mengungkapkan kisah-kisah masa mudanya yang penuh kenangan, sungguh pun sebagian besar diliputi kepahitan. Tapi alangkah sedihnya, bila menyaksikan sejak dulu, lakon [...]
Filed under: Prosa
Posted by PuJa on May 31, 2010
KRT. Suryanto Sastroatmodjo http://sastra-perlawanan.blogspot.com/ Paduka Ibunda Kanjeng Ratu Sepuh! Ternyata, dorongan terbesar dari setiap anak untuk sanggup berbicara adalah merdekanya lahir dan batin, dan merdekanya nilai-nilai yang dapat digunakan selaras kehendak hati. Kita mustahil dapat melihat sangkar nan gumantung di pepohonan johar, serta tak mengetahui kapan diturunkan; dan isinya diberi kesempatan menjenguk dunia bebas. Kita [...]
Filed under: Prosa
Posted by PuJa on March 13, 2010
KRT. Suryanto Sastroatmodjo http://pustakapujangga.com/?p=641 “Cinta sangat menentukan kelanjutan proses penyebab atau proses kehidupan subyek. Sebab ketika berada di titik koordinat, kita jelas mendapati karakter diri sebenarnya atau dengan titik seimbang, cermin diri sanggup merasakan getaran kesungguhan dari sang maha Penyebab Cahaya Ilahi: Apakah kita gemetar atau semakin asyik oleh kesejukan Cahaya. Sebelum sampai ke suatu [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on August 6, 2009
Suryanto Sastroatmodjo http://pustakapujangga.com/?p=638 Lebih kurang 15 warsa silam, Pamusuk Erneste (dalam buku “pengadilan puisi” penerbit Gunung Agung Jakarta, 1986), menggambarkan bagaimana jauhnya bila jagad sastra (inklusif kepenyairan didominasi sejumlah nama, yang ingin bertahan sebagai idola, dan bukan sebagai creator), hingga publik sastra kecewa. Ia menyebut tentang Subagio Sastrowardoyo, Goenawan Mohamad dan WS. Rendra di tahun-tahun [...]
Filed under: Edisi Khusus, Esai
Posted by PuJa on July 10, 2009
Judul Buku : Sahibul Hikayat al Hayat Pengarang : KRT. Suryanto Sastroatmodjo Pengantar : Nurel Javissyarqi Jenis Buku : Kumpulan Prosa Penerbit : PUstaka puJAngga Tebal Buku : xxiv + 144 hlm; 14 x 20 cm Peresensi : Imamuddin SA Seberapa jauh perjalanan hidup manusia? Seberapa lama ia hidup untuk sesamanya? Seberapa kuat ia dikenang [...]
Filed under: Resensi
Posted by PuJa on December 10, 2008
KRT. Suryanto Sastroatmodjo http://sastragerilyawan.blogspot.com/ Saudari Sarwendah! Tiba sudah waktunya untuk mengemasi barang-barang yang tertinggal di koperasi kampung, petang ini. Alangkah sumuknya hawa di ruangan yang kemarin menjadi arena silat-lidah kita, bukan? Sungguh, saya tak mengira samasekali bahwa saudari ternyata mampu membelalakkan mata pada saat musti menghentak mengorak kelopak, pada waktu harus berjelempak. Maka tiada lain [...]
Filed under: Prosa