Sastra Selingkuh Itu Enak Dibaca dan Perlu!

Sutan Iwan Soekri Munaf
sinarharapan.co.id

Selingkuh. Ah, ini kata yang negatif, kata moralis. Atau, ini kata negatif, kata seorang munafik (namun diam-diam dia melakukan aktivitas selingkuh juga). Sedangkan yang berpikir bebas akan mengatakan selingkuh tak selalu negatif, dan tak selalu positif, tapi juga tak selalu netral. Argumentasinya, selingkuh itu mirip pisau. Jika pisau tajam itu dipegang seorang tukang jagal di rumah jagal, maka kita akan berharap dapat keratan tepat atas daging sapi yang dipotongnya. Continue reading “Sastra Selingkuh Itu Enak Dibaca dan Perlu!”

Sastra dan Islam Bagai Ikan dan Air

Sutan Iwan Soekri Munaf
suarakarya-online.com

Amat menarik membaca tulisan Damhuri Muhammad yang diberi tajuk Sastra Islami dan Ketajaman Lidah Pena (Republika, Minggu, 26 Juni 2005). Cerpenis dan pengamat sastra ini terpesona melihat limpah ruahnya karya sastra terutama cerpen dengan label Islam pada akhir-akhir ini di negeri ini. Bersaman dengan keterpesonaannya itu, agaknya Damhuri juga mempertanyakan dengan kekhawatiran: Apakah sastra islami itu sungguh-sungguh eksis? Sejauh manakah ciri khas Islam dapat terpahami pada fiksi islami? Continue reading “Sastra dan Islam Bagai Ikan dan Air”

Kemudian Saat Kau Katakan

Sutan Iwan Soekri Munaf
sinarharapan.co.id

Kemudian saat kau katakan cinta, aku percaya saja. Malam itu terasa berbunga-bunga, yang aromanya menyebar ke setiap sudut di kafe Dago Pakar. Bahkan aroma rumput yang membasahi hujan sore itu, sama sekali tak terasa. Apalagi cahaya bulan hampir penuh purnama semakin menambah denyar darah dalam nadiku berdenyut kencang. Dan remasan jemarimu pada jemariku terasa hangat. Continue reading “Kemudian Saat Kau Katakan”

Bahasa ยป