CHAIRIL ANWAR ATAU SUTARDJI CALZOUM BACHRI

Maman S. Mahayana *

Chairil Anwar telah menjadi sejarah. Puisi-puisinya dipandang telah berhasil menghancurkan konsep bentuk konvensional; persoalan seputar larik dan bait, tidak lagi menjadi syarat sebuah puisi. Ia juga menawarkan kemungkinan pemanfaatan bahasa sehari-hari sebagai sarana ekspresi yang memberi ruang yang lebih luas bagi penyair. Dengan begitu, penyair leluasa dan bebas mengumbar gagasan kreatifnya. Continue reading “CHAIRIL ANWAR ATAU SUTARDJI CALZOUM BACHRI”

Sutardji dan Sartre

Beni Setia
Jawa Pos, 28 Sep 2008

ADA banyak pihak yang kecewa ketika dengan senang hati Sutardji Calzoum Bachri (SCB) menerima Ahmad Bakrie Award 2008 untuk bidang kesusastraan –sebesar Rp 150.000.000 (seratus limapuluh juta rupiah). Mereka menginginkan SCB meniru Frans Magnis Suseno yang menolak pengharaan itu pada 2007, dengan mengaitkan institusi yang memberi anugerah itu (Freedom Institute) merupakan sisi sosial dari stake holder Bakrie Brother, yang salah satu anak perusahaannya (PT Lapindo Brantas) membuat masalah besar di Sidoarjo. Continue reading “Sutardji dan Sartre”

Memaknai Puasa dengan Puisi Tardji

Kuswaidi Syafi’ie
Jawa Pos, 31 Agu 2008

Ibadah puasa adalah sebujur ritual yang paling rahasia di antara sekian ritual yang lain. Salat, zakat, dan haji adalah ritual-ritual yang selalu ”terpublikasikan” dengan sendirinya dan bersinggungan secara langsung dengan orang-orang sekitar. Sementara puasa sepenuhnya merupakan ”perjumpaan aku-Engkau” yang tidak mungkin terendus oleh siapa pun yang lain kecuali kalau perjumpaan sakral itu sengaja dipamerkan. Continue reading “Memaknai Puasa dengan Puisi Tardji”

KERJA KEPENYAIRAN. TENTANG MASA LALU PENYAIR TARDJI

Ribut Wijoto

Seorang lelaki muda, selanjutnya kita panggil saja dengan sebutan Tardji, berkeinginan menulis puisi. Sebelumnya memang, ia pernah membaca puisi, sebuah puisi yang dianggapnya bagus. Yang tidak menggurui, tidak menyodorkan “seruan provokatif”, tidak menghardik. Tapi justru dengan itu, ia tergugah. Ia sependapat dengan kata-kata, terkesima dengan kalimat-kalimat, dan ia ingin menuliskannya kembali. Tentu saja, ia menulis dengan kata-kata yang lain, menyajikan dalam kalimat-kalimat yang berbeda. Di dalam anggapannya, menulis puisi adalah kerja yang unik, menantang, menggiurkan, sekaligus penuh kerahasiaan. Continue reading “KERJA KEPENYAIRAN. TENTANG MASA LALU PENYAIR TARDJI”

Bahasa »