Perempuan Berbibir Basah

Mengenang Budi Darma lewat Bibir yang Selalu Basah itu, Prosa Taufiq Wr. Hidayat

Fatah Yasin Noor

Budi Darma menulis demi menulis itu sendiri. Kalimat-kalimat yang ia tulis selalu enak dibaca dan selalu menyenangkan hati. Kalau ada kemuraman dalam kata-katanya, percayalah, itu bukan kemuraman demi kemuraman itu sendiri. Budi Darma ditakdirkan menjadi sastrawan terkemuka di Indonesia karena ia suka menulis demi menulis itu sendiri. Kemuraman yang terekam dalam sekian banyak tulisannya adalah kejujuran. Budi mencoba meneropong dirinya sendiri. Kadang hasil teropongannya ngelantur mengerikan. Budi Darma selalu gelisah, dan yakin dibalik masyarakat lingkungannya yang seolah berjalan normal tak lain dan tak bukan adalah abnormal. Continue reading “Perempuan Berbibir Basah”

BIBIR YANG SELALU BASAH ITU

—mengenang Budi Darma—

Taufiq Wr. Hidayat *

Tatkala malam yang dalam, perempuan itu melihat wajahnya pada cermin di ruang tamu. Entah kenapa, dulu ia meletakkan cermin antik itu di ruang tamu. Tidak di kamar. Meja kayu. Kursi kayu. Dan asbak yang dipenuhi puntung rokok putih. Bunga plastik. Ia melihat wajahnya pada sehelai cermin antik yang dibeli seorang laki-laki di sebuah pasar bekas. Dulu. Ketika ia baru saja keluar dari sebuah hotel menuju pulang, bersama laki-laki setengah baya masuk pasar, lalu laki-laki setengah baya itu membelikannya cermin. Continue reading “BIBIR YANG SELALU BASAH ITU”

SANG PENYAIR YANG DISELIMUTI

Taufiq Wr. Hidayat *

Ia mengenangkan hari-hari ketika semuanya masih utuh. Pohon mangga. Dan tikungan jalan yang dilewati gadis kecil saat petang. Perjalanan yang panjang, membawanya pulang, merebahkan desah pada harapan, menidurkan kelelahan ke dalam mimpi malam. Di situ, ia dipanggil-panggil kekasihnya. Menawarkan padanya mata air kesadaran, mata air yang menganugerahkan kesembuhan dari segala rasa sakit yang selalu menghebat ketika malam dengan kepedihan yang tak tertahankan. Continue reading “SANG PENYAIR YANG DISELIMUTI”

PENYAIR MATJALUT DAN LAMPU-LAMPU JALAN YANG DIPADAMKAN

Taufiq Wr. Hidayat *

Sahdan pada suatu senja, Penyair Matjalut meletakkan tubuh di atas kasur lembabnya. Tertidur. Tanpa mimpi, tapi mendengkur. Lalu bangun. Duduk tegun. Android tergeletak. Ada kertas berserak. Kopi, bukan arak. Sendiri. Dan rokok yang tinggal sejari. Sedang di luar rumah, udara kedinginan sekali. Orang-orang dengan tubuh yang terselimuti. Bayangan kereta malam hari. Dan perempuan yang menari. Menari-nari di tengah pandemi. Continue reading “PENYAIR MATJALUT DAN LAMPU-LAMPU JALAN YANG DIPADAMKAN”

KIAI SAKI DAN MIMPI PENYAIR MATJALUT

Taufiq Wr. Hidayat *

Penyair Matjalut menulis puisi. Tentu saja ia harus menulis puisi, supaya sesuai dengan nama depannya, yakni Penyair. Penyair Matjalut berkawan karib dengan Kiai Saki. Kiai Saki adalah tetangga Penyair Matjalut. Kiai tepian kota. Sebatang kara. Bukan kiai sosial media, tak pernah muncul di YouTube, bukan kiai yang gemar menafsir-nafsirkan ayat suci, juga bukan jenis kiai yang gemar berdiri atau duduk berceramah di depan ribuan orang. Ia kiai sunyi. Seorang petani. Tak banyak yang mengenali. Continue reading “KIAI SAKI DAN MIMPI PENYAIR MATJALUT”