Jizhongya

TE. Priyono
http://www.kr.co.id/

?awan yang terbang, membawa angan angan kita, salju yang turun, menyuburkan tanah harapan kita, lembah Hebei yang subur, tanah kenangan kita, siapa yang pergi kabarkan cerita, kami menjaga tanah kelahiran sampai saatnya buah buah Jizhongya di petik penuhi keranjang di musim panen raya?

BEGITU potongan syair lagu anak-anak yang masih mengental di ingatannya, selalu dilantunkan meskipun dia tidak faham sepenuhnya akan makna syair itu. Continue reading “Jizhongya”

Desah di Tegalan Singkong

TE Priyono
http://www.kr.co.id/

DERU NAFASNYA bak dengusan laju kereta, membelah sunyi malam. Ini kali pertama segalanya berjalan tanpa ada tekanan. Tak ada rontaan, apalagi teriakan dan sumpah serapah menjijikkan. Dibiarkannya rabaan tangan yang semakin nakal menelusuri tubuhnya, mengikuti lekuk-liku tubuh sintal yang menjadi kebanggaannya. Dia pilih menyerah, menikmati liarnya gairah yang selama hidup baru kali ini bisa dirasakannya. Kian riuh desah nafasnya. Semakin dalam tubuhnya ditanam memasuki dunia khayalan, membangun imajinasi kemesraan yang selama ini hanya sebagai gincu kehidupannya. Continue reading “Desah di Tegalan Singkong”

Cik Mai dan Klimin

TE. Priyono
http://www.kr.co.id/

SETIAP melihat wajah Klimin, Cik Mai selalu membuang muka. Ada rasa jijik campur muak, begitu melihat muka Klimin yang bopeng. Ingin rasanya dia sedapat mungkin menghindar jauh dari laki-laki bertubuh pendek dekil itu. Tapi apa boleh buat, Klimin telah begitu menyatu dengan keluarganya. Laki-laki menjijikkan itu, telah puluhan tahun menjadi bagian dari keluarga besarnya. Continue reading “Cik Mai dan Klimin”

Nama Cina

TE. Priyono
http://www.kr.co.id/

BULAN tua, cuma separuh bersinar. Suasana malam, hening dan tenang. Narimo menghentikan langkah kakinya sejenak, di depannya terpampang pintu gerbang bangunan model Cina. Dia amati sekeliling, dibulatkan hatinya. Tanpa ragu lagi Narimo melangkah memasuki gerbang kuburan Cina itu.

Hanya suara jangkrik dan belalang daun yang terdengar. Dia hapal betul dengan suasana malam di kampungnya itu, apalagi pada penghujung musim hujan. Continue reading “Nama Cina”

Kakek Jenderal

TE. Priyono
http://www.kr.co.id/

MUNGKIN karena sudah tua, Kakek Jenderal jadi begitu pelupa benar. Dijuluki Kakek Jenderal karena di pundaknya tidak hanya ada empat bintang, itu jenderal penuh.Kalau bintang lima, jenderal besar. Nah ini, ada tujuh bintang ! kakeknya para Jenderal. Belakangan ini, Kakek Jenderal sering tidak ingat, dimana telah menaruh sesuatu barang. Kalau sudah begitu, selalu saja ada perintah mendadak dari Kakek Jenderal. Continue reading “Kakek Jenderal”