Kakek Jenderal

TE. Priyono
http://www.kr.co.id/

MUNGKIN karena sudah tua, Kakek Jenderal jadi begitu pelupa benar. Dijuluki Kakek Jenderal karena di pundaknya tidak hanya ada empat bintang, itu jenderal penuh.Kalau bintang lima, jenderal besar. Nah ini, ada tujuh bintang ! kakeknya para Jenderal. Belakangan ini, Kakek Jenderal sering tidak ingat, dimana telah menaruh sesuatu barang. Kalau sudah begitu, selalu saja ada perintah mendadak dari Kakek Jenderal.

Setiap hari, seperti ada saja barang yang tiba-tiba hilang. Biasanya, karena dia lupa menaruh. Meskipun sering dibuat jengkel oleh ulah Kakek Jenderal yang mulai pikun. Tapi mereka yang berada di lingkungan Kakek Jenderal sudah mahfum karenanya. Bahkan sudah menjadi semacam kebiasaan di lingkungan istana. Kalau Kakek Jenderal teriak memanggil pengawal dan pegawai, itu tandanya ada tugas mendadak untuk mencari sesuatu barang yang hilang. Bagi mereka yang dapat menemukan barang itu, biasanya Kakek Jenderal memberi hadiah. Karena itulah, meskipun terkadang jengkel, para pengawal dan pegawai istana tetap kerasan bekerja pada Kakek Jenderal. Sebab selalu ada proyek tiban yang sebenarnya pekerjaan enteng tapi banyak duitnya.

Kali ini Kakek Jenderal kembali kehilangan kekuasaannya. Sudah beberapa kali kekuasaan yang selalu ditaruh di atas kepala atau terkadang juga diletakkan di pundaknya itu hilang. Hampir seharian, sejak bangun tidur Kakek Jenderal kebingungan, kekuasaan yang menjadi kelangenannya tiba-tiba saja hilang. Karena sudah tidak mungkin lagi baginya mencari sendiri. Lagi pula pekerjaan seperti itu tidaklah patut dilakukan Kakeknya para Jenderal.

Baginya cukup perintah, kekuasaan pasti dapat ditemukan kembali. Buat apa harus repot-repot mencari sendiri. Toh, cukup kasih janji kedudukan atau kenaikan pangkat buat yang menemukan. Atau memberinya jabatan strategis dan mengangkatnya sebagai menteri, pasti dengan senang hati mereka menerima tawaran itu.

Lagi pula, kebanyakan dari pengawal dan pegawainya tidak begitu paham dengan kekuasaan. Mereka tidak tertarik untuk memilikinya. Itulah sebabnya, Kakek Jenderal jadi seenaknya memainkan kekuasaan itu menjadi kelangenan, tanpa rasa khawatir ada yang merongrong. Dan seperti biasa, Kakek Jenderal segera keluar dari istana, biasanya ia cuma melongok dari mulut jendela. Lantas terisak:

?Pengawal! Di mana kekuasaanku ? Cepat cari ! Yang menemukan kuangkat jadi menteri, kunaikkan pangkatnya!?

Sebentar saja, para pengawal dan pegawai istana sudah berkumpul. Setelah jelas persoalannya dan tugas apa yang harus dikerjakan, mereka bubar. Mulai kerja, mencari kekuasaan Kakek Jenderal yang hilang.

Siang itu kesibukan menjadi tampak luarbiasa. Mereka mencari di tempat-tempat yang biasa digunakan Kakek Jenderal. Karena Kakek Jenderal seringkali lupa jika menaruh suatu barang. Bisa saja kekuasaan itu ditaruh di bawah kursi malasnya, di toilet, di sekitar kamar tidur, di ranjang dalam kusutnya selimut atau di ruang-ruang pribadi Kakek Jenderal lainnya. Para pengawal dan pegawai sudah hapal tempat-tempat itu. Ruang-ruang itulah yang menjadi tujuan mereka. Hampir seluruh ruangan sudah disisir, hasilnya nihil.

Mereka mulai mencari sasaran lain. Sebagian pengawal mencarinya di tongkat komando milik Kakek Jenderal. Ada juga yang menduga kemungkinan kekuasaan itu ada di sekitar laras senjata M16, karabin, sepatu lars, pakaian kebesaran Kakek Jenderal dan pada tumpukan kuitansi komisi dari berbagai MOU yang pernah ditekennya. Tetapi kekuasaan itu tidak ditemukan.

Hampir semua ruangan dibikin kacau, dan aksi pencarian itu mirip gerakan para penjarah, seperti sewaktu Kakek Jenderal memimpin kudeta, menggulingkan Presiden yang berkuasa dulu.

Cuma satu ruangan yang tidak dijamah oleh para abdi dan begundal Kakek Jenderal itu. Sebab, mereka yakin, tidak mungkin Kakek Jenderal memasuki ruang itu. Sebuah ruangan kerja yang penuh dengan tumpukan buku dan materi undang-undang kenegaraan. Mereka tahu persis, tidak pernah Kakek Jenderal masuk ruangan itu. Apalagi membaca lembaran undang-undang kenegaraan. Pikir mereka akan sia-sia mencari kekuasaan milik Kakek Jenderal di ruangan itu.

?Kalian harus temukan kekuasaanku itu. Kalau tidak ketemu, lakukan cara-cara militer untuk mendapatkan pengakuan kekuasaanku dari rakyat. Mereka harus mengakui kekuasaanku ini. Kalian dengar itu ?? teriak Kakek Jenderal yang mulai tampak gelisah.

?Kakek Jenderal masih ingat di mana terakhir kali bersama kekuasaan berada?? tanya seorang pengawal memberanikan diri.

?Semalam aku masih menaruhnya di pundak ini,? jawab Kakek Jenderal sembari menepuk pundak yang dihiasi tujuh bintang kebesaran,

?Bukankah Kakek Jenderal semalam tidur bersama….,? kalimat dari salah seorang pegawai istana tidak dilanjutkan. Semua sudah paham dengan kalimat itu, Artinya semalam Kakek Jenderal tidur dengan perempuan lain, bukan Nenek Jenderal. Istri Kakek Jenderal sudah lama meninggal dunia.

?Tidak mungkin ! Tidak mungkin dia berani mencuri kekuasaan dariku. Aku tahu betul perempuan macam apa dia itu,? bantah Kakek Jenderal dengan nada tegas.

?Tapi perempuan itu yang terakhir bersama Kakek Jenderal,? sanggah salah seorang pegawai lainnya.

?Bisa saja perempuan itu melakukan penggelapan kekuasaan milik Kakek Jenderal,? lontar salah seorang pengawal penuh kecurigaan.

?Aku tidak mau tahu. Pokoknya cari dan terus cari sampai kekuasaan itu kembali ditemukan. Aku benar-benar kehilangan. Tanpa kekuasaan itu, tidak ada gunanya bintang sebanyak tujuh buah di pundakku ini,? umpat Kakek Jenderal.

***

Mungkin saking paniknya, kalau sampai kekuasaan itu tidak ketemu, pasti akan membuka peluang terjadinya gerakan demonstrasi. Kalau sampai rakyat dan mahasiswa tahu. Kakek Jenderal menduduki istana tanpa ada kekuasaan. Bisa jadi mereka akan menduduki istana, seperti yang pernah dilakukannya dulu, menumbangkan pemerintahan yang resmi waktu itu. Kekhawatiran itu cepat merasuki pikirannya, membangun ketakutan yang luarbiasa. Kekuasaan yang pernah dibangunnya lewat senjata dan kekerasan, ternyata tidak memiliki fondasi yang kuat. Meskipun tampaknya kokoh karena memiliki banyak begundal dan pengawal setia, pembantu dan para menteri yang patuh. Namun hati kecil Kakek Jenderal tetap saja dihinggapi ketakutan. Khawatir rakyat dan mahasiswa tahu, kalau pemerintahannya tidak lagi memiliki kekuasaan. Maka matilah dia.

Sejak semula, keinginan menduduki puncak kekuasaan, tidak ada lain kecuali kerakusannya terhadap harta dan kekayaan. Dengan kekayaannya, semua bisa dibeli. Pengawal, pegawai dan para begundalnya semua dengan mudah dikuasai. Mereka patuh dan tidak ada yang berani menentang.

Pikirnya, kenapa tiba-tiba saja dia jadi kebingungan. Takut kehilangan satu kekuasaan. Sepertinya tidak lucu. Kakek Jenderal tersenyum sendiri. Dengan kekayaan yang ada sekarang, segalanya bisa dibeli. Apa yang diinginkan semua serba mungkin. Cuma kehilangan sebuah kekuasaan saja kok bingung. Ini bukan lelucon, pikirnya lagi. Dia bisa beli suara rakyat, dia juga bisa pesan demonstrasi untuk mendukungnya. Ditingkat elit politik sangat mudah bagi dia untuk bermain. Bukankah anggota Dewan sebagian besar begundalnya? Begitu juga di Majelis tidak terlalu sulit baginya untuk menembus.

Kakek Jenderal tersenyum !

?Pengawal! Cepat semua berkumpul !? teriak Kakek Jenderal begitu gembiranya. Sebentar saja semua pengawal, pegawai dan para begundal lainnya sudah berkumpul.

?Ini perintah, bisa juga menjadi sebuah dekrit. Mulai hari ini, siapkan pemilihan langsung, bentuk barisan demonstran pendukung, bagikan uang negara, beli suara rakyat. Kalau ada yang menentang, tendang! tangkap, kalau perlu habisi ! Ingat ini semua perintah rahasia. Segera kerjakan !? perintah Kakek Jenderal sungguh-sungguh.

Pengawal, pegawai dan semua begundal cuma bengong…

Bantul,03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *