Posted by PuJa on December 21, 2008
Theresia Purbandini http://jurnalnasional.com/ Jakarta sebagai ibu kota dengan segala hingar bingar kehidupannya, berlangsung serba cepat dan praktis dalam segala hal. Hingga akhir tahun 1990-an, era internet mulai menyambangi dan menyekat kesusastraan yang ada pada media koran ataupun majalah. Adanya internet, dianggap oleh Jonathan Rahardjo, penulis novel Lanang, justru mempersempit kesenjangan antara sastra daerah dengan sastra [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on December 17, 2008
Theresia Purbandini http://jurnalnasional.com/ Representasi wanita pada film Indonesia cenderung berbeda-beda dalam tiap dekade. Meski beragam, kecenderungan wanita selalu marginal, ditempatkan sebagai manusia sekunder setelah laki-laki. Sejak 1970-an hingga 90-an kebanyakan film-film Indonesia berbau horor, kemudian pergeseran terjadi di tahun 80-an di mana film horor mulai memasukkan bumbu-bumbu adegan panas yang makin lama menjadi inti cerita [...]
Filed under: Canting
Posted by PuJa on December 5, 2008
Theresia Purbandini http://jurnalnasional.com/ Babak baru dalam perkembangan kesenian di Indonesia dirintis sejak berdirinya Taman Ismail Marzuki (TIM) yang merupakan sebuah institusi kebudayaan yang berlokasi di Jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat. Sejak 1968, secara resmi taman itu disahkan Ali Sadikin. Pementasan drama, pagelaran orkes simfoni, pertunjukan tari, pantomim, pameran lukisan hingga pusat dokumentasi sastra milik [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on November 30, 2008
Theresia Purbandini http://www.jurnalnasional.com/ Acep Zamzam Noor adalah seorang penyair yang dilahirkan dan dibesarkan di pondok pesantren. Hal ini membuat nuansa keislaman dalam karya-karyanya sangat terasa. Cipasung adalah salah satu karya penyair kelahiran Cipasung, Tasikmalaya ini. Puisi itu menggambarkan keadaan desa yang tenang dan damai, dengan nuansa islami yang kental.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on November 20, 2008
Theresia Purbandini http://jurnalnasional.com/ Saat ini teater bukan lagi genre kesenian yang tidak terjangkau masyarakat, karena beban-beban estetik. Demikian juga dengan Kelompok Teater Payung Hitam dari Bandung, yang berkali-kali mementaskan Kaspar. Sebuah pementasan yang keseluruhannya memaksimalkan gestur tubuh aktor sebagai satu-satunya medium komunikasi dengan penonton.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on October 22, 2008
Jurnal Nasional, 12 Okt 2008 Theresia Purbandini Dalam perkembangan puisi Indonesia terkini, tema pahlawan boleh dikata kurang mendapat perhatian. Ini berbeda bila kita membaca karya-karya puisi era 1945, 1966, atau kurun waktu sebelumnya, di mana tak sedikit penyair menuliskan semacam ode atau pujian terhadap sosok-sosok yang dianggap berjasa merebut kemerdekaan, sekaligus sebagai cara untuk memaknai [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on September 28, 2008
Jurnal Nasional, 28 Sep 2008 Theresia Purbandini Tak banyak penyair Indonesia seperti Zawawi Imron, tetap memilih untuk berdomisili di desa kelahiran. Dalam hal ini, desa dengan alam yang kaya, jadi lebih penting lagi bagi Zawawi. Zawawi Imron yang lahir di Batang-batang, Sumenep, Madura pada 1945. Sejak 1970-an, di tengah riuhnya panorama perkotaan memasuki puisi-puisi para [...]
Filed under: Esai