Di dalam Film, Wanita Tidak Dijajah Pria

Theresia Purbandini
http://jurnalnasional.com/

Representasi wanita pada film Indonesia cenderung berbeda-beda dalam tiap dekade. Meski beragam, kecenderungan wanita selalu marginal, ditempatkan sebagai manusia sekunder setelah laki-laki.

Sejak 1970-an hingga 90-an kebanyakan film-film Indonesia berbau horor, kemudian pergeseran terjadi di tahun 80-an di mana film horor mulai memasukkan bumbu-bumbu adegan panas yang makin lama menjadi inti cerita dari film. Continue reading “Di dalam Film, Wanita Tidak Dijajah Pria”

Menghidupkan Kembali Taman Kesenian

Theresia Purbandini
jurnalnasional.com

Babak baru dalam perkembangan kesenian di Indonesia dirintis sejak berdirinya Taman Ismail Marzuki (TIM) yang merupakan sebuah institusi kebudayaan yang berlokasi di Jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat. Sejak 1968, secara resmi taman itu disahkan Ali Sadikin. Pementasan drama, pagelaran orkes simfoni, pertunjukan tari, pantomim, pameran lukisan hingga pusat dokumentasi sastra milik HB Jassin, serta diskusi kesenian ikut menyemarakkan arena tersebut. Continue reading “Menghidupkan Kembali Taman Kesenian”

Menimbang Ekspresi Sufistik dalam Kata

Theresia Purbandini
jurnalnasional.com

Acep Zamzam Noor adalah seorang penyair yang dilahirkan dan dibesarkan di pondok pesantren. Hal ini membuat nuansa keislaman dalam karya-karyanya sangat terasa. Cipasung adalah salah satu karya penyair kelahiran Cipasung, Tasikmalaya ini. Puisi itu menggambarkan keadaan desa yang tenang dan damai, dengan nuansa islami yang kental. Continue reading “Menimbang Ekspresi Sufistik dalam Kata”

Menyimak Anonimitas di Panggung Teater

Theresia Purbandini
http://jurnalnasional.com/

Saat ini teater bukan lagi genre kesenian yang tidak terjangkau masyarakat, karena beban-beban estetik. Demikian juga dengan Kelompok Teater Payung Hitam dari Bandung, yang berkali-kali mementaskan Kaspar. Sebuah pementasan yang keseluruhannya memaksimalkan gestur tubuh aktor sebagai satu-satunya medium komunikasi dengan penonton. Continue reading “Menyimak Anonimitas di Panggung Teater”

Multitafsir Pahlawan dalam Puisi

Jurnal Nasional, 12 Okt 2008
Theresia Purbandini

Dalam perkembangan puisi Indonesia terkini, tema pahlawan boleh dikata kurang mendapat perhatian. Ini berbeda bila kita membaca karya-karya puisi era 1945, 1966, atau kurun waktu sebelumnya, di mana tak sedikit penyair menuliskan semacam ode atau pujian terhadap sosok-sosok yang dianggap berjasa merebut kemerdekaan, sekaligus sebagai cara untuk memaknai kecintaan pada tanah air. Continue reading “Multitafsir Pahlawan dalam Puisi”

Bahasa ยป