Radhar Panca Dahana: Ada Masalah dalam Pola Relasi Kesenian Kita!

Sihar Ramses Simatupang
sinarharapan.co.id

Teaterikalisasi puisi dari buku antologi karya penyair Radhar Panca Dahana yang berjudul Lalu Batu kemarin digulirkan Teater Kosong di Gedung Kesenian Jakarta 10-11 April. Para aktor menyajikan pertunjukan yang ekspresif. Padahal, improvisasi bahasa puisi yang menjadi “bahasa milik aktor” bukan pekerjaan yang mudah. Continue reading “Radhar Panca Dahana: Ada Masalah dalam Pola Relasi Kesenian Kita!”

Sapardi Djoko Damono : Saya Sudah Lama Mempermasalahkan Waktu

Pewawancara: Ibnu Rusydi
korantempo.com

Sapardi Djoko Damono kini berusia 69 tahun. Tapi, ia tak berhenti berkarya. Baru-baru ini ia meluncurkan buku puisi terbarunya, Kolam. Di Komunitas Salihara, Senin malam lalu, penggiat dan penggemar sastra membludak mengikuti diskusi bukunya.

Sapardi dengan tenang mendengarkan diskusi. Dia masih saja sederhana, dengan topi pet dan jaketnya yang itu-itu lagi. Seusai diskusi, dengan ramah dan rendah hati, ia masih tinggal melayani deretan permintaan tanda tangan dan foto bareng dari para fan. Setelah ruangan sepi, Tempo pun berbincang-bincang dengannya. Berikut ini petikan wawancara dengannya: Continue reading “Sapardi Djoko Damono : Saya Sudah Lama Mempermasalahkan Waktu”

Wawancara Paramoedya Ananta Toer: “Yang Tidak Setuju, Ya minggir Saja”

Mustafa Ismail, Arif Zulkifli, Hermien Y. Kleden, Mardiyah Chamim
http://majalah.tempointeraktif.com/04 Mei 1999

SEBELUM berangkat, Pram bersedia menerima Mustafa Ismail, Arif Zulkifli, Hermien Y. Kleden, Mardiyah Chamim, dan fotografer Robin Ong dari TEMPO hingga beberapa kali. Sembari mengenakan kaus putih dan kain sarung, Pram, ketika menjawab pertanyaan TEMPO, sesekali suaranya meninggi dan keras tatkala menjawab pertanyaan agak sensitif. Continue reading “Wawancara Paramoedya Ananta Toer: “Yang Tidak Setuju, Ya minggir Saja””

Menyemai Sastra dari Ujung Timur Pulau Dewata

Nyoman Tusthi Eddy
Pewawancara: Asti Musman
balipost.co.id

BAGI kalangan sastrawan, Kepala SMU Amplapura Nyoman Tusthi Eddy cukup dikenal. Pria kelahiran Pidpid, Karangasem tahun 1945 yang menyemai sastra dari ujung timur Pulau Dewata ini sering menulis puisi dan artikel di sejumlah koran. Selain koran lokal, juga jurnal budaya yang diterbitkan di Malaysia dan Brunei. Dalam pengamatan penulis yang telah menerbitkan 16 buku sastra ini, dunia mengarang, seringkali dipandang sebelah mata oleh para siswa, dan orang awam pun menilainya hanya sebagai pekerjaan seorang seniman yang hobi melamun. Continue reading “Menyemai Sastra dari Ujung Timur Pulau Dewata”

Bahasa ยป