Perihal Pelopor Sastra NTT Gerson Poyk

Yohanes Sehandi *
Pos Kupang (Kupang), 6 Des 2017

HARIAN Pos Kupang edisi Selasa (21/11/2017) memuat opini Gusty Fahik (selanjutnya disingkat GF) berjudul “Memeriksa Klaim Pelopor Sastra NTT.” Opini ini bertujuan utama menggugat pendapat saya yang menempatkan Gerson Poyk sebagai Pelopor Sastra NTT. Dalam berbagai tulisan sebetulnya saya tidak pernah menggunakan terminologi pelopor, tetapi perintis, sehingga untuk Gerson Poyk saya sebut sebagai Perintis Sastra NTT. Continue reading “Perihal Pelopor Sastra NTT Gerson Poyk”

Mengenang Dami N. Toda: Penyair yang Beralih Jadi Kritikus

Yohanes Sehandi *
yohanessehandi.blogspot.co.id

Tanggal 10 November 2017 ini kita mengenang 11 tahun kepergian kritikus sastra Indonesia modern Dami N. Toda. Nama lengkapnya Damianus Ndandu Toda. Dami N. Toda meninggal dunia pada 10 November 2006 di Leezen, Hamburg, Jerman pada usia 64 tahun. Lahir pada 29 September 1942 di Cewang, Todo-Pongkor, Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Abu jenazahnya dibawa ke Indonesia pada Oktober 2007, dengan rute perjalanan Jerman-Jakarta-Kupang-Manggarai terus ke Todo-Pongkor tempat peristirahatannya yang abadi. Continue reading “Mengenang Dami N. Toda: Penyair yang Beralih Jadi Kritikus”

Kritik Sastra Indonesia dalam Dua Arus

Yohanes Sehandi *
Flores Pos (Ende), 11 Nov 2017

Kritikus sastra Indonesia Maman S. Mahayana dalam bukunya berjudul Kitab Kritik Sastra (2015) menyatakan bahwa istilah “kritik sastra” di Indonesia pertama kali digunakan Sutan Takdir Alisjahbana (STA) dalam tulisannya di majalah Pandji Poestaka edisi 5 Juli 1932 berjudul “Kritik Kesoesasteraan.” Menurut Mahayana, inilah artikel pertama yang secara eksplisit mencantumkan kata kritik sastra. Sejak saat itulah istilah kritik sastra digunakan orang untuk menunjuk sebuah tulisan (esai atau artikel) di media massa yang membicarakan (karya) sastra sebagai kritik sastra. Setelah keluar dari Pandji Poestaka STA melanjutkan tradisi kritik sastra Indonesia dalam majalah Poedjangga Baroe yang dipimpinnya. Continue reading “Kritik Sastra Indonesia dalam Dua Arus”