Tag Archives: Yohanes Sehandi

Sejarah Awal Sastra NTT

Yohanes Sehandi *
Flores Pos (Ende), 10 Mar 2015

Sastra NTT yang kini mulai dikenal luas memiliki sejarah yang panjang. Sejarah panjang sastra NTT itu diketahui setelah dilakukan pelacakan sejarah awal kelahiran, pertumbuhan, dan perkembangannya sampai dengan tahun 2015 ini.

Kritik Sastra Indonesia dalam Dua Arus

Yohanes Sehandi *
Flores Pos (Ende), 11 Nov 2017

Kritikus sastra Indonesia Maman S. Mahayana dalam bukunya berjudul Kitab Kritik Sastra (2015) menyatakan bahwa istilah “kritik sastra” di Indonesia pertama kali digunakan Sutan Takdir Alisjahbana (STA) dalam tulisannya di majalah Pandji Poestaka edisi 5 Juli 1932 berjudul “Kritik Kesoesasteraan.” Menurut Mahayana, inilah artikel pertama yang secara eksplisit mencantumkan kata kritik sastra. Sejak saat itulah istilah kritik sastra digunakan orang untuk menunjuk sebuah tulisan (esai atau artikel) di media massa yang membicarakan (karya) sastra sebagai kritik sastra. Setelah keluar dari Pandji Poestaka STA melanjutkan tradisi kritik sastra Indonesia dalam majalah Poedjangga Baroe yang dipimpinnya.

Segi Sosiologis Sastra NTT, Inilah Penjelasannya

Yohanes Sehandi *
Pos Kupang, 17 Juli 2017

Secara umum disiplin ilmu sastra terdiri atas dua bidang kajian, yakni bidang kajian yang bersifat monodisiplin dan yang bersifat multidisiplin. Monodisiplin fokus pada satu bidang kajian, sebaliknya multidisiplin gabungan beberapa bidang kajian.

Puisi yang Baik dan yang Buruk

Yohanes Sehandi *
Pos Kupang, 13 Sep 2016

Puisi sering menjadi pilihan untuk melampiaskan isi hati dan pikiran seseorang. Anak muda yang sedang dimabuk asmara, puisi menjadi sarana mengungkapkan cintanya, apakah cinta murni atau palsu. Seseorang yang sedang diliputi gembira atau galau dengan gampang menulis puisi, menghiasi buku harian atau status Facebooknya. Mahasiswa yang demonstrasi membakar semangat dengan berpuisi. Berbagai surat kabar dan majalah memuat beragam puisi. Sebagian besar filsuf pencinta puisi bahkan rangkap menjadi sastrawan. Kitab suci agama-agama ditulis dalam bentuk puisi.

Debat Sastra Berujung Pidana?

Yohanes Sehandi *
Flores Pos (Ende), 14 Apr 2015).

Akhir Maret 2015 lalu, sejumlah media massa di tanah air, baik media cetak maupun elektronik dan media online, ramai memberitakan penjemputan paksa sastrawan Saut Situmorang oleh tiga orang polisi dari Polres Jakarta Timur, terkait kasus pencemaran nama baik yang dilaporkan sastrawan Fatin Hamama. Saut dijemput paksa di rumahnya di Yogyakarta, karena dua kali dipanggil penyidik tidak datang.