Penyair John Dami Mukese di Panggung Sastra

Yohanes Sehandi *
Indonesiakoran.com 3 Apr 2018

Penyair John Dami Mukese telah meninggalkan kita semua pada Kamis, 26 Oktober 2017 di RSUD Ende dalam usia 67 tahun. Lahir pada 24 Maret 1950 di Menggol, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Beliau seorang imam Katolik, misionaris SVD, penulis, dan penyair. Setiap kita yang mengenal beliau tentu mempunyai kenangan tersendiri terhadapnya. Bagi saya, mengenang John Dami Mukese adalah mengenang jejak langkahnya sebagai seorang penulis dan penyair lewat karya-karya tulis yang ditorehkan selama hidupnya, antara lain sebagai berikut. Continue reading “Penyair John Dami Mukese di Panggung Sastra”

Kontroversi Puisi Esai 2018

Yohanes Sehandi *
harian Stabilitas (Bima, NTB) 9 Apr 2018.

Kontroversi puisi esai memasuki babak baru tahun 2018 ini. Kontroversi baru ini dipicu sang penggagas sekaligus dedengkot puisi esai Denny JA (Denny Januar Ali) dengan gerakan penulisan puisi esai nasional 2018. Gerakan ini melibatkan 5 orang penulis puisi esai setiap provinsi dari 34 provinsi di Indonesia. Setiap penulis puisi diberi honorarium yang pantas dan layak untuk sebuah karya seni/intelektual. Sponsor utama Denny JA. Program ini mendapat sambutan meriah dari para pendukung puisi esai di seluruh Tanah Air. Continue reading “Kontroversi Puisi Esai 2018”

Mencari Ilmu Hitam dalam Sastra NTT

Yohanes Sehandi *
Pos Kupang, 2 Jan 2018

SEPERTINYA sulit sekali menemukan cerita ilmu hitam dalam karya para sastrawan NTT, padahal cerita ilmu hitam banyak sekali dalam masyarakat kita, diwariskan dengan cara bisik-bisik dari mulut ke mulut. Ceritanya bisa merinding bulu kuduk. Sejumlah istilah berkaitan dengan ilmu hitam, antara lain santet, leu-leu, rasung, suanggi, dukun, potiwolo, dan lain-lain. Continue reading “Mencari Ilmu Hitam dalam Sastra NTT”

Taktik Mendikbud Meredam Para Sastrawan

Yohanes Sehandi *
Pos Kupang, 1 Agu 2017

MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, Muhadjir Effendy, mempunyai taktik tersendiri meredam sorotan dan kritikan para sastrawan Indonesia terhadap berbagai kebijakan kementeriannya di bidang pendidikan dan kebudayaan. Hal itu terjadi pada waktu Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (Munsi) ke-2 yang berlangsung di Hotel Mercure Ancol, Jakarta, pada 18-20 Juli 2017. Continue reading “Taktik Mendikbud Meredam Para Sastrawan”

Mawar Tak Berduri Bidan Flores (Novel Maria Matildis Banda)

Yohanes Sehandi *
Pos Kupang, 17 Okt 2017

“Jangan takut ibu, kita harus bertahan! Karena ketakutan meningkatkan penindasan.” Kutipan ini adalah baris puisi penyair WS Rendra yang berjudul “Jangan Takut Ibu” untuk menguatkan hati kaum ibu yang berjuang melawan penindasan.

Dua baris puisi WS Rendra di atas dikutip dalam novel Wijaya Kusuma dari Kamar Nomor Tiga karya novelis Maria Matildis Banda, biasa disapa Mery Banda. Novel ini diterbitkan Penerbit Kanisius Yogyakarta (2015) tebal 568 halaman. Novelis ini suka memberi judul novel berkaitan dengan bunga. Sebelumnya sudah terbit novel Liontin Sakura Patah, Bugenvil di Tengah Karang, dan Pada Taman Bahagia. Continue reading “Mawar Tak Berduri Bidan Flores (Novel Maria Matildis Banda)”