AMADHAHI POLA-POLA ANGGIT ING CENGKOK GUNA-BUDAYA

Suryanto Sastroatmodjo

Pertama, mungkin sekali, apa yang diketahui oleh Vernon Gill Carter dan Tom Dale, bahwa manusia dan peradabannya itu tergantung dari tanah, sebagai seorang ibu memelihara dan membersihkan anak-anaknya, adalah benar. (The Physical relief features of land, that is, the landforms of earth’s surface, are another measuring-stick for human society: Relief dan tanah, mempengaruhi jaring-jaring lalulintas, pemuatan penduduk, biaya hidup dan jenis pengangkutan serta usaha-usaha di bidang pertanian dan kebudayaan. Yang menekankan, bahwa lingkungan tersebut “diemban” oleh suatu manifestasi kasih sayang yang tulus, dalam pengabdiannya melestarikan sumberdaya energi, insani dan segala gumelar.

Sebagai contoh digambarkan, di bagian timur daerah Kentucky, relief lalu landreformnya sebagian berbukit kasar dan sebagian lagi datar. Kedua tempat tersebut didiami oleh bangsa yang sama atau mengikuti dasar leluhur atau latar sosial serupa. Namun karena pengaruh land reform yang berbeda satu sama lain, maka mereka kini mempunyai kemajuan yang berbeda; demikian pula dalam perkembangan kebudayaannya, dari waktu ke waktu.

Kedua, dalam hal yang lebih azasi, pakar geografi Amerika, E. Huntington mengatakan: “Climate is often the measuring stick of human society, yang tegas-tegas menekankan, bagaimana iklim sebagai kunci dari segala kebudayaan. Iklim memang sanggup mempengaruhi kesehatan dan vitalitas penduduk, tetapi pada masa kini, kalau dikatakan bahwa dia sebagai kunci kultur, apakah masih tepat? Sedangkan jika kita perhatikan negara-negara yang terletak di daerah beriklim tropis, yang menurut beberapa sarjana, punya sifat-sifat negatif, tentunya hal-hal ini tak dijumpai di negara-negara merdeka di kawasan tropis ini.

Kualitas hidup, kelayakan berkarya, berkreasi, bermodalkan semangat yang berbeda-beda – namun demikian aktivitas ruhani tak bisa menguras tenaga. Kemampuan manusia dalam mengatasi perintang yang berasal dari alam, haruslah dicari dari sumber spiritual setiap bangsa yang mengembannya. Andaikata Huntington (dalam bukunya, civilization and climate) mencoba menerangkan, kemunduran peradaban suatu bangsa diakibatkan oleh semakin memburuknya iklim, maka dia memberikan suatu contoh: daerah-daerah yang teramat dingin, daerah teramat panas dan daerah kering, merupakan kawasan yang membatasi kegiatan lahir-batin penduduknya.

Sedangkan wilayah-wilayah yang punya iklim sesuai dengan kebutuhan insani (suitable climates) dan mendukungnya, terletak pada daerah-daerah lintang-tengah (middle lattitude). Namun ditambahkan pula, unsur pengembangan lainnya, seperti kebutuhan primer dan kebutuhan lain yang lebih tinggi (material needs and higher needs) tergantung dari faktor geografis lain: tanah, air, dan sejauh mana warga bangsa ini memiliki motivasi pembangunan dan kredo yang mendukung setiap gaya dan daya paling natural!

Ketiga, tatkala menyimak Babad Perang Dipanegaran, yang berlangsung selama lima tahun; 1825-1830, di mana pasukan Sang pangeran pernah terjebak di rawa-rawa mematikan, serta musuh dari berbagai pihak mengepungnya di kawasan Kalibawang, maka ketika itu bergumamlah Diponegoro seperti berikut: “Saupama Allah isih paring panas lan udan, mbok menawa wadyabalaku unggul-yudane. Ning saupama wus ora ana udan lan panas, lan amung ana langit timbreng sarta wengi kang peteng, aku kabeh ora bisa gumregah tumandang” (Andaikata Allah masih melimpahkan cuaca panas dan hujan, barangkali para prajuritku masih sanggup memenangkan peperangan ini. Akan tetapi, andaikata langit muram mengabut, dan alam diselimuti gelap malam yang pekat, sulit bagi kita untuk menggerakkan tubuh kita sendiri).

Ucapan itu disampaikan kepada Alibasah Sentot Prawiradirdjo dan Kyai Mojo, yang menyertai dalam pertahanan sepetak bukit subur menghijau, pada tahun 1827, tepat di ujung tahun. Dari apa yang dilontarkan tadi, terasa pengakuan akan betapa wigat iklim yang sanggup mengatur peredaran makhluk-makhluk langit, siklus dan konstelasi antariksa, sehingga insan di kaki langit akan menerima pengaruh kebesarannya. Kita sanggup hidup, bergerak, bahkan menang, manakala kesiur angin dapat menentramkan syaraf, dan pemandangan cantik di kaki bukit mengusap batin. Kita teguh, tabah, bertahan!

Keempat, masihkah manusia berbicara tentang perang dan perebutan mahkota, pada saat dirinya menyadari, di mana batas terpasti dari ketahanan diri di mana wibawanya harus dilantunkan untuk membangun solidaritas yang paling kokoh itu? Rasanya beralasan untuk mengatakan, bagaimana para pendekar peperangan melihat perluasan jajahan, kebesaran politik serta kelimpahruahan hasil bumi itu sebagai sesuatu yang kudu direbut dengan darah nan kental – lebih daripada apa yang sanggup dirasakan oleh kawula cilik.

Suatu kesunyatan, dalam sejarah yang kita reguk di Tanah Air, bahwa masalahnya bukan hanya terletak pada pahitnya politik penjajahan dan kolonisasi kaum agresor; tetapi juga karena kita belum sanggup bicara tentang benteng pertahanan diri, kesatuan wawasan Nusantara, yang belum digalikembangkan. Lebih daripada penyerahan individual yang memberikan kemungkinan dari setiap orang untuk meladeni sikap politiknya masing-masing, sebagai “arus-alir” yang prinsipal.

Kalau kita amati perkembangan sejarah perang di Nusantara, di mana pertahanan wilayah jadi masalah wigati, maka kita didewasakan oleh perang-perang gerilya, yang lebih banyak menuntut persatuan suku dan kelompok etnis, dan tandon perbekalan besar, dana dari kaum bangsawan, dan ikatan patrimonial. Andai pembicaraan selingkup geografis ini kita langkahkan kepada pembangunan martabat bangsa pada abad-abad kemudian, rasanya relevan juga, jikalau setiap sosok putera bangsa harus mengikuti tugas-tugas kemiliteran, pada usia relatif muda, di samping setiap saat berusaha mempelajari medan yang terserak, yang memiliki prabeda iklim dan ciri kulturalnya.

Kelima, hujan dan angin telah menjadikan kulit kita peka terhadap iklim yang ada; dan dengan demikian, kita mempersembahkan kehidupan ini kepada seluruh sinar yang membangun adab budaya yang tanpa watas ini. Karena, apabila kita berbicara tentang iklim, niscaya dengan sendirinya terkait pula untuk mengerling tanah sebagai faktor penunjangnya, dalam arti bahwasanya tanah itulah yang paling awal sekali memberikan sumberdaya alami kepada “gerak” dan “tindak” untuk suatu ikhtiar kultural, apa pun soalnya. Lagipula, tanpa mesti lebih ceriwis mempersoalkan guliran pola-tanam yang dimungkinkan oleh sejumlah bibit, serta memperhitungkan kemapanan satwa-satwa tertentu, untuk bisa “lungguh-jenak” pada habitat terpasti, maka tanah telah melemparkan sisi-sisi dinamisnya, secara lebih gemilang.

Kemudian, bagaimana manusia sebagai pengemban firman Yang Maha Tinggi, harus sanggup mengantarkan makhluk-makhluk lainnya kepada lahan dimaksud, tanpa dijejali pamrih bagi diri sendiri. Sudah barang tentu, seraya menghitung arah, ketegaran dan serbuan dari iklim yang dikehendaki, sehingga kehadiran makhluk hidup pada tanah lapang, lembah, lurah, bukit, gunung, bahkan rawa-rawa serta bengawan, bisa menciptakan keteraturan pada lingkungan itu sendiri, sehingga tiada yang dirugikan, tiada yang disepelekan, tiada yang tercicir.

Keenam, keberangkatan setiap gegremet, krumembyah, dan kumelip di kaki langit ini, sepanjang keyakinan agamawi, tiada lain dan tiada bukan adalah untuk menghaturkan sembah kepada Tuhan Yang Maha rahman dan rahim, untuk mewujudkan pengabdian yang setulus-tulusnya. Maka, tiada bisa dipungkiri, bagaimana manusia sebagai titah terluhur ini dapat menyumbangkan suatu suara, yang mungkin bisa berkumandang hingga jauh ke seberang-menyeberang. Tiada ternilai harganya Kebudayaan ini, manakala manusia bisa merambah tanah-tanah yang belum pernah disentuh sebelumnya, kemudian disebarkannya benih-benih (setelah dilambuk dan didangir sebagaimana harusnya) dan cara ini merupakan ungkapan baktinya yang terbaik kepada sesamanya.

Adalah intens, bahwa seraya menyembahkan telempap-telempap ladang yang dimungkinkan bagi hidup lingkar-binar yang maha-lapang, maka cucuran peluh menjadi siraman sempana paling penting untuk menyuburkan kawasan tersebut. Sungguh suatu kekuatan, bahwasanya hawa yang menguasai sepanjang lembah dan perbukitan, yang dipelajari secara seksama oleh angkatan demi angkatan, juga merupakan sekrup-sekrup penguat pasak rumah tinggal kita ini. Masyarakat tak kan melupakan sumbangan “ilmu tentang nuansa iklim” tersebut di tengah pergaulan hidup yang membawa sejahtera bumi, hingga kapan pun.

Ketujuh, lugasnya penghargaan niscaya identik dengan kristalisasi kepercayaan itu sendiri, yang terpanggul oleh anak-anak manusia sepanjang waktu. Dimensi ke-sejarah-an ada diemban oleh perhitungan struktural dari Bumi dan Rakyatnya, di kala kita mempertanyakan bentuk-bentuk dari perlangkahan energi yang menuju hari depan. Di sini, energi harus menjadi sumbu dari keberangkatan kelompok-kelompok etnis, sebelum yang bersangkutan menempuh jalannya sendiri, menyongsong badai. Di sini energi harus dimodifikasikan sebagai runtutan ekologi, sebelum gugus-gugus masyarakat yang mengandalkannya menemukan muara paling wigati.

Di sini energi kudu dimanifestasikan sebagai kegiatan mengolah bumi dengan perangkat canggih, sehingga pengabdian kepada Ibu pertiwi takkan menemu kebuntuan. Di sini energi menjadi rengkuhan kesetiaan terhadap iklim, kadar kesuburan kawasan, derajat kebesaran sejarah, tingkat keilmuan masyarakat, dan kesadaran ekologis setiap individu, sehingga berbicara tentang Sejarah, ibarat bicara hidup nan tegar!

Kedelapan, di kala masih sering menyelenggarakan Kuliah Dinihari dan Seminar Kelana selama satu dasawarsa (1977-1987), saya acapkali mengajak para murid dan peserta untuk menaiki lembah, sebuah tebing sungai, gundukan situs-situs kepurbakalaan dan reruntuhan candi seputar Yogyakarta, untuk menanamkan kesadaran berwawasan lingkungan kepada generasi muda itu. Tiada yang terlewatkan dari jelajah-jelajah yang berlangsung, selain bahwa kami semua berjalan kaki, dari rumah ke pusat pemusatan wacana yang berlangsung, seraya mengungkapkan bahwa perbendaharaan alam di daerah nan rahayu ini, adalah petaruh dari Yang Maha Menjadikan, agar supaya kita menjadi bijak bestari, menjadi faham terhadap cita-cita untuk membangun peradaban lebih mulia, pada masa datang.

Wawasan lingkungan harus senafas dengan konsep-konsep religius yang ada, sehingga di kala angkatan baru ini kepingin memasuki relung-relung yang lebih luas ketimbang sekedar dogma, kita bisa mengajaknya untuk menyalakan nalar wening, perjalin-anyaman batin, serta keinsyafan insaniah itu, sehingga terbina sifat lembut, rendah hati, sikap jujur terhadap fitrahnya sendiri, keberanian bekerja keras dan punya cengkorongan hidup yang genah. Satu studi kelayakan tentang pribadi manusia, di tengah kancah pendewasaan Nur-Hayat sejati, yang tiada bergulir.

Kesembilan, kenalilah diri-Sendiri (Gnoti seauton), yang diteruskan dengan sesanti Tatwam Asi (Aku adalah Dirimu, Aku adalah Semesta, Aku berada pada Setiap Makhluk dan Kejadian), tak pelak lagi, mengajar manusia untuk lebih menekuni keberadaan hayati ini. Kiranya wajar, pengalaman ruhani membuat setiap penjelajahan itu menggumpal dan menciptakan gelombangnya sendiri. Di tengah masyarakat yang sedang membangun, dan di tengah titinada pembangunan yang keras serta menanjak setiap tebing terjal, selumrahnyalah jikalau kita memberikan kesempatan bagi angkatan-angkatan hari kini dan hari esok agar lebih menghargai lumpur sawah ladang bergluprut luluk-hitam, aroma tanah bercampur tahi sebagai rabuk-penyubur lahan. Lebih akrab dengan kambing, kerbau dan sapi, yang dalam istilah Jawa disebut Raja-Kaya (perbendaharaan yang menjadi inti Kerajaan Bumi nan Sejahtera), sehingga keturunan kita akan merasa betah menikmati alam dusun, setia dan mencintainya, sebegitu rupa, sehingga sanggup mempertahankan mati-matian dalam semangat kerja.

Kesepuluh, sewaktu beranjak dewasa, aku banyak menyimak Sastra Pedesaan di sekitar kawasan Sindoro Sumbing, dan dalam bimbingan kakakku yang gemar berolah susastra, kutemukan banyak piwulang kawicaksanaan dari sosok-sosok tetunggul dusun masa lampau, yang pada paruh abad ke-17 masih larut dalam sastra Jawa Hindu tahapan tumilas. Agaknya suatu kebahagiaan tersendiri, bagaimana dalam ilmu-ilmu yang bernuansa rengkuh-rangkah-rungkih, dalam tumpuan tiga setala bakti: pertama, prasetya abadi terhadap Ibu Bumi nan terkasih, dengan kesediaan untuk mengolahnya sepanjang masa. Kedua, keyakinan untuk rajin mempelajari iklim setiap lingkung di kaki langit ini, agar supaya mengetahui konsepsi Widy-Sastra, sejauh yang berhubungan dengan pengawetan alam seisinya. Sedang yang ketiga, suatu kesadaran terhadap lingkungan hidup, sehingga manusia bukan sekadar obyek peradaban nan pasif, melainkan kudu menjadi subyek budaya yang sanggup pula menggelar laku dan langgam kultural sedemikian rupa, sehingga tak pernah tercabut dari akarnya, bahkan dirinya bisa menjadi sepohon beringin yang memperkuat sisi-sisi hidup selengkapnya; di mana persahabatan tak pernah retak oleh keserakahan pribadi.

Penanggung jawab tulisan oleh Penerbit PUstaka puJAngga (PuJa).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*