Warisan Peradaban Bengawan Solo

Gugun el-Guyanie

Dalam catatan sejarah, peradaban suatu bangsa selalu dilahirkan oleh peradaban sungai. Mesir dengan Peradaban lembah Sungai Nil-nya , China dengan peradaban Sungai Yang Tse Kiang-nya, India dengan peradaban Sungai Gangga. Yang jelas, tinggi rendahnya peradaban ataupun kebudayaan umat manusia berkaitan erat dengan interaksinya dengan sungai. System religi, adat istiadat, teknologi, dan juga sistem ekonomi dan politik amat sangat ditentukan oleh keintiman bercinta dengan sungai.

Ekspedisi Bengawan Solo yang berlangsung selama 16 hari dengan menempuh jarak 548 kilometer, setidaknya menjadi penanda (semiotika) yang mengingatkan kepada generasi bangsa di Nusantara tercinta ini agar kembali menengok posisi sungai yang begitu sacral dan legendaries. Sungai sebagai salah satu bagian sekaligus symbol ekologis, selama ini sama sekali tidak dianggap memiliki nilai histories yang sacral oleh penghuni bumi sendiri. Sepanjang revolusi industri yang menjadi titik awal abad modern menyembah posisi dan peran manusia di muka bumi, hampir peradaban umat manusia memandang sebelah mata alam semesta.

Paradigma masyarakat abad modern inilah yang melahirkan ketidakseimbangan kosmosentris. Etika kosmosentrisme tidak menjadi landasan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Teknologi pada awalnya lahir sebagai upaya untuk mempermudah dan membuat kehidupan umat manusia menjadi bahagia dan sejahtera. Namun pada perjalanannya teknologi hanya menyediakan kenyamanan, kesejahteraan dan kebahagiaan yang semu. Selanjutnya, teknologi yang tanpa disandarkan pada etika kosmosentrisme, berubah menjadi bencana besar yang siap menjerumuskan umat manusia ke jurang kehancuran.

Peradaban ekologis
Dalam konteks ekspedisi Bengawan Solo sebenarnya bangsa Indonesia khususnya, diajak kembali untuk memberi nilai berharga terhadap alam ekologis. Sungai bukan sekedar alam fisik yang mati. Namun sungai memiliki dimensi metafisik yang layak diperlakukan sebagaimana makhluk ciptaan lain dengan sejajar. Sungai dan unsure-unsur di dalamnya seperti air, memiliki peran yang begitu besar melahirkan system kehidupan masyarakat di sekitarnya. Bagaimana kecerdasan manusia mengelola sungai, memberikan hak-hak ekologisnya, akan sangat menentukan tinggi rendahnya martabat manusia. Kearifan local (local wisdom) dalam hal ini memiliki nilai tawar yang begitu tinggi. Artinya sejauh mana masyarakat sebagai pewaris peradaban sungai mampu menangkap nilai-nilai dan lokalitas budaya, social, politik dan agama.

Bengawan Solo secara histories maupun geosospol memiliki posisi yang begitu agung dalam khazanah budaya Nusantara. Bengawan Solo menjadi brand yang amat popular, sehingga mampu menjadi ikon kasultanan Surakarta maupun daerah Jawa sekitarnya. Secara geografis, sungai bengawan Solo ini membentang hingga sampai daerah Tuban, Bojonegoro di wilayah Jawa Timur. Namun sungainya tetap disebut sebagai bengawan Solo. Secara historis, sebenarnya wilayah di tepi bengawan Solo memiliki kultur agraris yang lumayan subur, stabilitas politik yang terkontrol, dan karakter budaya yang khas.

Namun kini, daerah sekitar bengawan Solo yang mayoritas masyarakatnya menggantungkan hidupnya pada pertanian, tingkat kesejahteraannya sangat memprihatinkan. Curah hujan dan sumber mata air sungai yang tidak termanage dengan optimal, melahirkan petaka bagi perekonomian masyarakat. Gagal panen, banjir, krisis air bersih, menjadi wajah baru bagi peradaban sungai bengawan Solo. Sungai tidak lagi berwajah ramah, namun menunjukkan kemarahan kepada manusia yang menginjak-injak hak-haknya, mengeksploitasi sakralitasnya. Dengan demikian Solo pun menjadi pudar indegeneous wisdom-nya. Sudah tidak ada lagi trade mark yang bisa dikibarkan untuk memberikan nilai tawar kepada public tentang khazanah kebudayaan Solo.

Seni Budaya Bengawan Solo
Kekhawatiran pudarnya peradaban sunagi-sungai di belahan bumi manapun, termasuk perdaban bengawan Solo ini hendaknya menjadi evaluasi masyarakat global setelah isu pemanasan global menggelinding seperti bom waktu. Bagaimana nasib para petani di sepanjang bengawan Solo, bagaimana krisis air bersih yang harus menimpa warga tepi benagawan Solo dsb. Bagaimana regulasi ekonomi perdagangan di sepanjang Sungai yang terbesar dan terpanjang di pulau Jawa ini?

Dan kegelisahan selanjutnya, menginjak pada eksistensi nilai-nilai budaya yang eksentrik di sepanjang Bengawan Solo. Berbagai karya seni budaya yang dicipta oleh sejarah nenek moyang sebagian besar lahir dari peradaban sepanjang Bengawan Solo. Dan karya-karya itu memiliki nilai-nilai yang perenial dan kearifan spiritual budaya Jawa yang adiluhung.

Seni wayang, seni tari, seni batik, seni rupa dan yang lainnya sangat produktif dilahirkan dari rahim kota-kota sekitar Bengawan Solo. Begitu juga dengan alat musik gamelan, sebagai ciri khas seni musik Jawa telah melegenda sampai di berbagai belahan negara asing seperti Eropa, Jepang, Hongkong dsb. Tokoh karawitan dari golongan karya kontemporer, Ki Nartosabdo dari Semarang yang juga seorang dalang kondang sangat populer dalam khazanah seni wayang di dalam negeri ataupun luar negeri.

Yang menarik pada dekade 1990-an muncul genre baru musik tradisi popular Campursari yang memadu instrumentasi gamelan dengan keyboard dan alat-alat musik Barat lainnya. Sajian mereka berada di antara musik keroncong dan gamelan Jawa. Campursari yang merupakan produk akulturasi musik Barat dan Jawa, juga lahir dari daerah Bengawan Solo.

Bengawan Solo yang adiluhung telah membuka pintu kreatifitas seni budaya yang begitu kaya khazanah kearifan dan spiritualitas. Dengan rusaknya oase mata air Bengawan Solo secara ekologis, dikhawatirkan juga menyeret pada krisis kebudayaan dan peradaban tanah Jawa yang dulu gemah ripah loh jinawe, tata tenterem karta raharjo. Bengawan Solo yang berabad-abad telah memberi inspirasi para seniman-seniman yang tulus kini harus tercemar oleh ulah tangan budaya modern yang arogan. Bengawan Solo, dimana riwayatmu kini?

Penulis adalah Direktur Eksekutif Institute for Social Empowerment Yogyakarta (ISEY).

One Reply to “Warisan Peradaban Bengawan Solo”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *