LUPA, HUTANG DAN REVOLUSI

Nurel Javissyarqi

Lupa menyebabkan hutang, dan atau pun hakikat lupa ialah hutang. Hutang dapat terlupa, menambah bengkak nominal bunga. Lantas kesadaran hadir mencekik menghapus kenangan. Tetapi sungguh di depan itulah jurang, maka kita harus mundur ke belakang, merevolusi diri, berperang melawan kebijakan. Kembali kepada waktu semula untuk mendapatkan waktu kini dan nantinya, dengan kesungguhan bertambah keyakinan dari pengalaman lupa, hutang serta terlena.

Di setiap lapis kesadaran kita baca. Merasakan betapa fitroh pengembangan membutuhkan kebertemuan hukum serta pendapat yang bersilang-saling pengertian, jika tak ingin terjebak berbalik pada sudut tepian. Marilah membongkar sederet peristiwa di atas dengan menggunakan beberapa pandangan, agar tidak terhanyut lamunan seorang peneliti yang kebablasan mengenai harapan tinggi tanpa tendensi kehakikian.

Kita sadar, setiap yang mengisi denyutan kehidupan, sarat dengan esensi dan manfaatnya akan didapat kalau meletakkan isi tersebut pada tempat yang pasti. Pasti di sini bukan hukum saklek satu pandangan kebenaran, juga bukan hukum dualitas membingungkan. Namun bagaimana kita seperti pelukis, mengambil obyek lewat beberapa sudut mata batin nan cantik. Setiap sudut yang hadir terbaca, dan terlaksana; memiliki arti bertambahnya maksud dari penelitian diulang-ulang.

Atau bisa disebutkan keberadaan ruang itu kesadaran akan hutang yang harus dibayar kreativitas, dan masa-masa memaknai ruangan lebih dimengerti lewat adanya tenggang masa renungan jarak pergumulan. Bermula dari keadaan menyerupai atau kebenaran itu hadir sungguhlah berkait. Pun besarnya kuasa bangsa atau perorangan tentu masih ada sisi-sisi membutuhkan kekuatan daya lain demi topangan keseimbangan kemajuan, menanggulangi kejatuhan yang tak terpikirkan. Apalagi suatu negara yang masih carut-marut dalam pencarian struktur tubuh serta jiwanya.

Kita seperti bayangan enggan memeluk tubuh pula enggan memanjangkan bayangan. Selalu berada di daerah remang-remang, tak percaya diri, was-was kurang berani melakukan lompatan inisiatif, keraguan tak mendekte ke arah pendewasaan. Padahal kejatuhan diri, tidak seharusnya dibiarkan terlupa begitu saja sebagai hal biasa. Apa memang sebab dengkul otak sudah ngapal atas kegagalan, sampai merasa tak mungkin tersembuhkan, apalagi sukses membayar hutang (?).

Mungkin sebaiknya kita menyepi di perkampungan masing-masing demi tersadarkan, atau dikerangkeng kondisi sakit tubuh ini, agar yang dalam jiwa sanggup diterbangkan. Sebab tak mungkin akan mengepak melesat sambil membawa bayangan, apalagi masih segan berbuat pembebasan. Kita harus memuntahkan hal-hal pokok yang tidak pernah dikeluarkan, darah kental di dalam diri harus dibuang, dendam direalisasikan lewat kerja terindah kemesraan.

Baiklah, meski awalnya ragu dikarena gentar hawa menyerang pintu rumah, maka sejak awal berakrablah sapaan angan, pastikan mengenal beberapa kabar berita, agar yang diterima tidak lagi asing, dan menemukan sela-sela menerobos tubuh dengan jiwa. Kita tahu “lupa” lantaran sering melena, enggan merawat tahap-tahap rasa untuk dirasai lebih dari sekadar rutinitas.

Setiap berpapasan, usahakan jeli merekam. Dan di kala santai, rekaman itu pengintip mencuri waktu, lantas kesempatan akan berbicara; kita mendapati pada di waktunya. Maka seharusnya sedikit demi sedikit menabung ingatan, membayar hutang lewat tahap memungkinkan berjalan. Yang perlu diperhatikan, sarana transportasi dalam keadaan terjaga, istirah cukup memulihkan daya demi gairah terpenjara keluar dengan ledakan kesadaran. Olehnya setiap lapisan masalah, harus merasakan kesadaran diri hingga topangannya bertambah; sama berjuang melaksanakan cemburu, jika menguntungkan sisi kesadaran, merawat perhatian agar tak lepas dari tanggung jawab.

Kita biarkan sakit ringan, itulah cara mendapati kekebalan saat berhadapan atau persinggungan yang ada, dijadikan jarak tempuh lebih bermakna. Oleh ketika garis-garis dimaknai, nama-nama pendapat kita masukkan, meramu perasaan logika yang ada, barulah memperolah yang sejati dari beberapa elemen, sebab menarik ialah mencabut akar serabut.

Olehnya kehati-hatian harus dituntut, mewaspadai hutang nantinya mencekik, untuk menambah gairah kerja, bukannya malah mengungkung melupakannya, lantaran teramat berat beban derita. Karenanya, anggaplah sakit itu latihan, cemooh, rasa malu tak beralasan harus dilampaui, bukan dihindari yang nantinya mentok saat dalam keadaan tak lagi memiliki suatu apa dikarena malu berlebihan.

Perlunya kasih membangun sesama, akan membantu memulihkan kesadaran yang pernah kita lakukan. Atau ternyata cerminan kasih memantulkan rasa sayang kepada diri, dengan bersikap santun melangkah, bersih dari nalar atau perhatian yang tak menyandang makna berlebih. Atau sebaiknya sapaan dimaknai, sejauh memberi arti dengan selalu melapangkan penerimaan baik.

Atau marilah masuk ke dalam mencari yang diselami David Home: Ketika aku memasuki apa yang aku namakan diriku, aku selalu ragu akan persepsi tertentu, mengenai panas atau dingin, cahaya atau bayangan, cinta atau benci, rasa sakit atau kenikmatan. Aku tak pernah mendapati diriku…(kutipan T.Z. Lavine). Di sini kita melihat Home meragukan realitas umum, nilai-nilai yang disepakati kadang bertolak belakang, ini tergantung penerimaan kita dalam mengerjakan tugas dengan ringan atau berat.

Ada patut diperhatikan dari situ, tubuh menjaga kondisi dengan selalu berpikiran positif agar panerimaan sesuai dengan yang diingini. Juga tak jadi nilai tambah yang kadang berkebalikan dari nilai universal yang diidam. Namun nyatalah, kita mengembangkan diri dengan tetap dalam kondisi dinamis atau ambruk, tergantung kelihaian menyikapi persoalan, agar tak tumpah sia-sia.

Atau David Home serupa mengatakan; insan senantiasa dalam keadaan miris, timbangan selalu bergoyangan tertiup angin, kalau sekiranya tidak menempatkan mengenai suatu pilihan. Inilah ambang di mana insan dalam keadaan terlena, kalau tidak selalu melatih diri dengan kesadaran yang dikelola, agar menjadi dan terus menjadi dari keadaan yang genting.

Dan keyakinan mengantarkan rasa mencecap nikmatnya madu perjuangan. Sebuah istirah dari kerja kemungkinan damai terbesar, sebelum datangnya fajar dijanjikan berupa balasan. Yakni terus melaksanakan titah yang kita yakini, dari kondisi yang selalu jempalitan dalam diri. Di sinilah penekanan Home akan keraguan itu terjadi, menjadi gugusan keyakinan jikalau benar meyakini kondisi dengan rasa senang berjalan di jalur penalaran positif, mengambil hasil-hasil perjuangan tak lagi sia-sia.

2 Agustus 2006

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *