Matra Hijau

A Rodhi Murtadho

Matra hijau. Kerlap-kerlip lampu menggantikan lenggang daun pepohonan. Udara sejuk dan hawa segar terisolasi asap knalpot dan luapan pabrik. Muntahan tai tak teruruk. Buangan-buangan yang tak terurus: plastik, kertas, daun, bangkai tikus, bangkai kucing, orok busuk, bahkan mayat manusia. Benak selalu tak mengerti kewajaran. Memaafkan segala gerak tangan dan pemikiran. Meski salah. Aksi dan reaksi terjadi begitu cepat. Lelah. Hanya bisa meruncingkan keinginan tidur dalam lingkungan apek. Kota.

Taman firdaus. Bukan impian kalau kita mau. Hamparan hijau. Tai-tai yang menyuburkan. Hembusan nafas cepat tergantikan angin segar. Bahkan kentut pun tak bau. Aliran air seni cepat bereaksi dan terurai biar seribu ompol yang menggenangi. Kicauan burung mengenakkan lelap dalam kenyamanan. Bahkan bau tanah pun melegakan nafas apalagi sesudah hujan. Danau susu pun menggenang selagi sapi tak dimusnahkan secara masal. Desa.

“Hai desa kau sungguh antik. Tapi kasihan benar kau tak ada teknologi canggih. Lihat diriku penuh dengan pabrik-pabrik, mesin kelas tinggi, jalan yang mulus, bangunan yang megah dan indah. Berjalan pun sudah pakai motor.”

“Jangan kau sombong kota. Memang aku kumel dengan banyak tanaman liar. Berjalan dengan terengah-engah. Tapi lihatlah dirimu. Kotor penuh debu. Asap tersembul di mana-mana. Suara meraung-raung memekakkan telinga. Banyak orang idiot lahir gara-gara radiasimu. Mengenaskan. Apa itu yang mau kau banggakan?”

Percakapan mereka terdengar jelas oleh Kasmo yang berdiri di samping mereka. Semakin bingung ia dibuatnya. Tak hanya itu, ia hanya bisa melongo dengan ulah Desa dan Kota. Bingung akan berbicara apa. Memihak siapa. Paling tidak ada sesuatu yang harus ia utarakan. Tanpa memihak.

“Eh…tuan-tuan, mengapa mesti bertengkar…”
“Diam kau,” potong mereka berucap bersama.

Kasmo semakin tak berkutik dibuat. Pikirannya mulai kelu untuk berpikir. Hanya desahan nafas dan pompaan jantung yang ada. Bukti ia masih hidup.

“Kota, apa kau tidak malu dengan gunung-gunung yang kau punya. Gunung sampah, gunung pengangguran, gunung pelacuran, gunung kejahatan. Saya pikir kamu harus punya malu dengan yang ada padamu. Memang kau canggih, namun dampak yang kau timbulkan memalukan negeri ini.”

“Bisanya kau berkata itu. Negeri ini terkenal karena kota. Bukan karena desa yang usang seperti kau. Orang pandai, jenius lahir di sini. Sementara kau, di sana yang lahir paling tikus comberan, orang-orang tak kenal pendidikan. Maklum susah majunya.”

Kasmo mendadak teringat Maryati, mantan istrinya yang sekarang hidup di desa. Istrinya memang banyak mengeluh dengan kehidupan kota. Lebih memilih hidup di desa. Namun Kasmo memaksanya untuk hidup di kota. Tantu saja percecokan rumah tangga terjadi. Maryati yang benar-benar sangat ingin hidup di desa dan tidak bisa hidup di kota. Sedangkan Kasmo yang harus hidup di kota dan tidak bisa hidup di desa. Keduanya saling mempertahankan pendirian. Sampai pendirian itu benar-benar berdiri sendiri. Berjalan di tempat yang memang terpisah.

“Kalau begitu kita bercerai saja, Mas. Daripada kita tidak bisa bersatu lagi. Aku tidak bisa menuruti keinginanmu. Dan kamu sendiri tak paham dengan keinginanku. Jelas ini sudah berbeda jalan. Bersimpangan. Kita bercerai saja!”

“Baik, kita bercerai. Kau bisa pulang ke desa yang kau banggakan itu. Aku akan tetap di sini dengan kebanggan kota yang sudah termiliki.”

Cerai memang sakral. Tak terhindarkan dari perpisahan. Tentu saja emosi yang ada mengkomando semuanya. Tidak bisa dipungkiri. Kecewa datang tanpa diundang. Menyesal jelas menghantui. Sudah barang tentu keinginan menyatu masih ada. Keinginan mereka memiliki anak belum bisa mereka wujudkan. Memang usia pernikahan mereka baru mencapai enam bulan. Tapi tanda-tanda datang seorang anak belum ada.

“Hai, Kasmo! Kau melamun saja. Tak punya pekerjaan lain apa? Mengapa kau memikirkan Desa? Sudah jelas kalau Desa itu bobrok, tak mengerti kemajuan. Apa mau kau bergaul dengan idiot. Enakan bersamaku. Hidup gemerlapan. Tak ada susah. Hiburan selalu ada di setiap simpang jalan. Kalau ingin apapun tinggal memesan.”

“Kasmo, jangan dengarkan Kota. Kau tahu sendiri kalau kau bersamanya banyak ruginya. Setiap hari kau mencium bau yang menusuk hidung. Perih. Menampar telinga dengan dentuman suara bising teknologi canggih yang dibanggakannya. Mana ada enaknya. Apalagi kemarin kau kehilangan istrimu gara-gara kau mempertahankan mau bersamanya. Rugi Kasmo, jelas rugi. Pasti kecewa, yakinlah Kasmo.”

Maryati memang istri yang tak begitu cantik. Namun manis dan tak membosankan untuk dipandang. Setiap senyum dengan gigi miji timun menentramkan hati. Kesetiaan tak diragukan lagi. Apalagi dia pandai mengaji dan sangat menjunjung tata krama. Bersikap baik kepada setiap orang. Tak heran kalau Kasmo sering dicela dan dicaci orang gara-gara perceraiannya dengan Maryati.

“Kasmo buat apa istri, kau tahu kan? Di sini kau tinggal membelinya. Banyak perempuan cantik bahkan melebihi Maryati. Buat apa perempuan desa yang hanya merepotkanmu dengan ceramahnya setiap hari. Mengomel dengan dalih agama. Buat apa, itu lebih pekak rasanya daripada suara mesin pabrik. Atau mesin sepeda motor.”

“Eh…Tuan-tuan, Kota dan Desa. Lantas saya harus bagaimana? Kalian tahu sendiri kalau sejak kecil saya hidup di kota. Tidak pernah sama sekali hidup di desa. Bahkan mungkin saya takut hidup di desa yang kesemuanya menggantungkan pada alam. Saya takut nanti kalau…”

“Kasmo…Kasmo. Kau ini sungguh lucu. Tidak pernah hidup di desa tapi sudah mengatakan kalau desa itu tempat yang tak layak huni. Hanya menggantungkan pada hutan. Jelas salah Kasmo. Desa sekarang sudah maju. Berpendidikan.”

“Itu bohong Kasmo. Jelas sekali kalau desa yang tampak di depanmu itu. Kau lihat sendiri tampangnya yang amburadul tak karuan hancurnya. Usang. Tak terawat. Pendidikan memang berpendidikan tapi masih saja ndesit.”

Kasmo bingung. Bagaimana bisa Desa dan Kota saling mengumpat. Ia memanggil Desa dan Kota untuk membantunya. Memberi pertimbangan. Bukan saling mengadu otak. Masalah desa dan kota hanya ada dalam pikiran mereka. Kasmo hanya terdiam. Seakan membiarkan Desa dan Kota sekehendak hati mereka.

“Kasmo, ingat Maryati…”

Tergeragap Kasmo dengan pengingatan yang dilakukan Desa kepadanya. Kasmo baru saja dikabari kalau Maryati hamil. Sudah tiga bulan. Sementara perceraian Kasmo dengan Maryati baru dua bulan. Tentu tak dapat diragukan kalau jabang bayi di rahim Maryati berasal dari benih Kasmo. Keinginan Kasmo kembali kepada Maryati dan jabang bayi yang dikandungnya semakin kuat.

“Mas, kalau kita punya anak nanti, Mas minta laki-laki apa perempuan?” tanya Maryati di sela-sela malam pengantin barunya dulu.

“Bagiku sama saja dik. Di kota tak ada perbedaan laki-laki dan perempuan. Sudah ada kesetaraan. Tak tahu kalau di desa. Mungkin masih ada perbedaan perlakuan.”

Malam yang remang menggerayangi setiap sela yang tak tersentuh. Kalbu yang tenang tergetar halus mengingkari. Pujian hati selalu berdendang tak bertuan. Hanya syukur yang ada dalam setiap desahan nafas panas berbirahi. Pasang surut anggukan leher memuncakkan hasrat. Desiran angin tak mengganggu. Pucuk-pucuk baju mulai tercincang dengan halus. Menampakkan kegetiran dan ingin menyentuh. Lamat-lamat gerakan lidah tak lagi tertahan oleh bibir yang terkatup. Menyapu bersih segala bulu yang ada. Menimbulkan kegalauan yang memuncak.

Pucuk-pucuk lidah bertuan makin tak terkendali. Tangan-tangan mulai kencang memegang. Semuanya menegang. Hanya kecupan yang semakin buat bimbang. Bersilat, mengeluarkan jurus yang tak bisa ditebak arah dan gerakannya. Semakin sempoyongan memenuhi ancaman.

Bidak-bidak senjata terus menghujam di antara reruntuhan gedung yang sengaja dirobohkan demi perbaikan tata ruang kota. Kelu kesah memuncratkan kebimbangan yang lahir dari bising dan nyala terang lampu. Merayap di lubang-lubang udara berasap penuh dengan debu. Menyesakkan. Gairah pun tak memudar dan ingin mengulang. Bersama menatap rembulan yang hanya pasrah menunggu suasana haru dan lemas. Tak bertenaga. Terpuaskan.

“Kasmo,” Desa mengagetkan, “mengapa kau hanya diam? Paling tidak ikutlah bersamaku. Ke desa.”

“Tidak Kasmo, jangan kau turuti Desa, jangan kau terjebak. Kau akan merasa sangat terasing dengan kehidupan yang tak kau ketahui. Bagaimana mungkin kau akan tinggal di sana dengan Maryati. Berarti kau yang kalah Kasmo.”

Kasmo semakin tak mengerti dengan apa yang dihadapinya. Ia kembali teringat dengan Maryati. Bagaimana ia bertemu mata dengannya di kota. Saat Maryati bekerja di pabrik rokok ternama. Ia sebenarnya tak tahu dengan matra hijau yang digembar-gemborkan pejabat. Yang ia tahu memang desa lebih hijau dari kota. Bagaimana pun kota dipoles dengan warna hijau tetap saja keadaan tetap dominan pada gedung bertingkat.

Ia teringat kalau Maryati pernah mengatakan kalau desa yang dihuninya sekarang sedang dibangun. Namun bagaimanapun dibangun, kepercayaan membuat desa tak terjaga dan mudah pudar. Paling hanya bertahan sampai beberapa bulan terus hilang.

“Tuan-tuan, saya mohon maaf. Apa kalian bisa pergi dari hadapanku sekarang?”

“Memangnya siapa kau Kasmo. Berani mengusir kami. Ibumu dulu berasal dariku. Dari desa. Memang ayahmu dari kota. Tapi kau tidak bisa seenaknya mengusir kami begitu saja. Kau saja yang pergi. Tak mungkin kau dapat tempat selain tempat salah satu dari kami.”

“Tapi kalian memusingkanku.”

Desa dan Kota semakin marah dengan perkataan Kasmo. Merasa tersinggung dan sangat dipenuhi dengan emosi. Nyalang mata tak terkendalikan. Memancar kemerahan hendak menyundang. Kepalan tangan semakin tergenggam erat. Kuda-kuda sudah dipasang dengan rapi. Kokoh.

“Sialan kau Kasmo!” Desa begitu marah.
“Kau akan kuhajar Kasmo.”

“Tunggu, tunggu. Kalian sabar dulu ya. Saya hargai kalian telah membantu saya. Namun bagaimanapun keputusan akhir ada di tangan saya kan,” Kasmo mencoba meredakan emosi Desa dan Kota.

Kasmo terus melawan. Keinginannya untuk menjumpai Maryati sudah menjadi tekad bulat yang ketat. Namun kemarahan Desa dan Kota tak bisa dibendung lagi. Pukulan bertubi-tubi jatuh telak di wajah Kasmo. Membuatnya tersungkur tanpa bisa membalas. Tendangan-tendangan yang diarahkan ke wajah dan tubuhnya tak bisa dihindari. Kasmo dikeroyok.

Surabaya, 22 Mei 2006

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *