LENGKUNG YANG RANGKUNG

KRT. Suryanto Sastroatmodjo

Cecilia yang manis.
Mengapa menelungkupi kehidupan – di kala manusia hendak mencenungi peruntungan sendiri? Mengapa menelungkupi gairah dalam kedalaman sunyi, padahal apa yang terngiang dan terbilang sebenar-benarnya merupakan gumpalan yang menebal? Mengapa sibuk memilah-milah kepergian satu misal, sedangkan perumpamaan yang derai-derai tiba menjadi intinya? Mengapa menyesali terpugarnya bangunan tua, padahal kala dirimu menelusuri bangsal-bangsalnya yang putih dan bening, ada yang terasa terkecoh?

Persinggahan yang paling kuat dalam lagu dan harapan adalah sungguh mengingatkan kita kepada surat, bagaimanapun tipisnya surat itu, bagaimanapun koyak-moyaknya surat yang datang ke tangan ini. Maka sebenarnya semacam ucapan yang menguatkan hati, ketika jawaban di langit telah bisa menambatkan kuda-kuda yang kita tunggangi di sepanjang perbukitan, kuyakin makin gamblanglah pertemuan dan semakin semarak medannya.

Alangkah rindunya menyenandungkan lagu itu kembali. Sewaktu tiada sedikitpun upaya buat meredakan getaran yang berdebur itu, dan tiap manusia yang berdatangan untuk merebut tempat yang tersedia (karena ada restu untuk melungguhkan kehadiran) –dapat menggenapkan suatu wahana. Barangkali, usah disebut lagi gaung lantun yang pernah tersembul. Dan apabila makhluk-makhluk angkasa menjulangkan persembahan sekali lagi, keras kita menekankan, betapa rapuhnya dada, betapa rapuhnya Asih terakhir.

Cecilia yang gemar menatap keabadian.
Tiada lain untuk menggenapi senyap yang berkertap-kertip. Pada dasarnya, kehidupan menjadi rengkahan batin yang papa, manakala biduk hidup tak mampu kita hanyutkan. Pada dasarnya apa yang melindap dalam rimba-rimba kefanaan, masihlah akan menyiratkan kembali makna tertentu, di saat perkembangan bisa ditukik. Pada liputan yang menentukan, manusia dapat mengakrabkan kembali ibu, bapa, kaum kerabat yang telah membebani kerangka hari lewatnya – asalkan dia tak mengingkari tanggung jawab berlanjut. Alangkah kokohnya serat-serat yang menjalin anyaman bahagia yang merekamnya.

Melihat mataair yang jernih, dengan keriangan nan senantiasa mempesona, agaknya dapat melilihkan dada yang dipenuhi gelita. Namun demikian, adakah dikau masih tekun meneliti karya tulis murid-muridmu yang nyaris tak pernah terhenti mengalir? Setiap kelas terbuka, dan setiap pintunya menganga, kau sering tertabrak persoalan yang meminta seluruh waktu buat menanggapi. Tiap geritan pintu yang berat dan besar itu longkang, kurasa hatimu sarat dengan kesibukan (yang entah kau sadari entah tidak, semakin membenamkan tubuh). Cara-lampah yang memberikan sekedar kemungkinan untuk mengenangkan sesekali, membentangkan dalam sela-sela padatnya kerja, adakalanya sanggup menciptakan rasa-senggang. Tapi jelasnya, bukan kelonggaran yang dihajatkan. Ragam-soal hayati malah masih menggeladrah di rambutmu.

Cecilia tersayang.
Berbagai lahan dalam pengucapan, berbagai makna kertawibawa terbukti memberikan bahan yang melingkupi. Dengan cara demikian, terbuka penjelajahan yang giat dan gemuruh, yang kau sendiri sanggup mewartakannya. Marilah, kita sungkup kebahagiaan yang meleleh. Kalau kaurasa, bahwa di belakangmu masih berbanjar tunas-tunas hijau, hendaknya dirimu mengantarkan secercah maksud (bagaimanapun coraknya) – dan betapa kuatnya tekad berpasrah. Maka tekuklah lutut dan berdoalah sekali lagi, karena esok mungkin terdapat ‘julangan juang’ yang patut diwedarkan.
—-
*) Tanggung jawab penulisan pada PuJa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *