Perempuan Penjual Nasi Boran

Rian Sindu

Bila suatu saat engkau bertandang ke kotaku. Cobalah mampir sejenak. Sekedar melepas penat sambil menikmati indahnya malam di sana. Kotaku selalu ramai. Apalagi di sebuah pertigaan yang terletak tepat beberapa meter dari alun-alun. Tempat berjajar-jajar perempuan menjajakan nasi boran.*) Makanan bercita rasa asli resep daerahku. Engkau belum pernah merasakan nikmatnya nasi boran, kan? Makanya, mampirlah dulu ke kotaku!
***

Bulan merangkak naik. Malam makin redup. Namun kotaku belum juga lelap. Apalagi di pertigaan ini. Tempat keramaian malam tertumpah. Terlihat beberapa lelaki lesehan di atas tikar pandan. sekadar mengendurkan ketegangan akan rutinitas. Juga yang sengaja berniat merasakan nikmatnya ikan sili, puh dan rempeyek sebagai lauk nasi hangat yang dibalur dengan sambal. Membuat kombinasi yang pas dilidah setiap orang. Sambalnya pedas mengigit dan terasa agak sengak, namun itulah yang membuat nasi boran ini begitu digemari. Anak-anak kecil bergelayut di lengan ibunya yang tegak dengan mulut komat-kamit bertransaksi dengan perempuan-perempuan penjual nasi boran. Bapak-bapak lahap memakan nasi hasil kepalan tangannya sambil ndodok di atas tikar pandan. Ramai sekali pertigaan ini persis seperi biasanya.

Seperti biasanya juga perempuan tambun yang punya tahi lalat persis di bawah dagunya itu terdiam. Di saat penjual yang lain sibuk dengan pincuk demi pincuk nasi melayani pembeli. Ia sibuk mengulur angan-angan. Matanya menerawang tinggi, menerobos pekat, memilah-milah memori masa yang telah lama berlalu. Ya, tepat di bawah lampu jalan pertigaan ini, ia dan tole sering sering menghabiskan malam berdua. Mengais rupiah dari sebakul nasi yang selalu mereka bawa sehabis senja.

Pertigaan ramai ini terasa sepi bagi perempuan itu. Nampaknya ada sesuatu yang telah hilang dari kehidupannya. Ia tak lagi bergairah berjualan. Seakan-akan yang ia lakukan sekarang hanya rutinitas yang harus ia jalani setiap malam. Bahkan ia tak pernah menghitung berapa rupiahkah yang telah masuk ke kantong setiap hari. ” Kalau begitu untuk apa mbok berjualan tiap malam?” Seperti itulah kata-kata yang selalu ditanyakan orang pada perempuan itu. Lalu hampir selalu ia menjawab ” Untuk mengenang Tole.”

” Siapa Tole, Mbok?” Tanya seorang lelaki pembeli.
”Dia putra kesayanganku, Tiap malam ia membantuku berjualan.”
”Lalu kenapa malam ini ia tak ikut jualan?” Lelaki itu nampaknya begitu tertarik dengan tokoh kebanggaan perempuan itu. Tentu, ia tak mengenalnya sama sekali.

“Putraku sekarang sudah bekerja. Nak”
“Di mana tempat putramu bekerja, Mbok?”
”Di sana, di kantor bupati.”
”Sebagai apa?”
”Sebagai abdi negara. ”

”Oh pemelihara gedung negara…?” Lelaki itu pasti tak menyangka dari rahim perempuan itu telah lahir seorang pemimpin.

”Tapi nampaknya, Mbok tak suka ia kerja di sana?” Lelaki itu terus bertanya-tanya.
Perempuan itu mendesah. Kegundahan terselip dari nanar matanya.
”Ada benarnya omongan sampean…. Karena itulah, kini tole tak bisa membantuku lagi berjualan.”

”Ia kan putra mbok, Mustinya ia membantu mbok! Dasar anak tak tahu balas budi!” Kata lelaki itu tersungut-sungut serasa ikut merasakan kesedihan perempuan itu.

Perempuan itu tiba-tiba mengeram geram. Matanya nyalang. Seketika wajah lelaki itu pias. Ia mengambil beberapa lembar ribuan dari saku celananya. Mengucapkan kata maaf dan terimakasih sekenanya. Lalu ngeloyor meninggalkan perempuan itu sendiri. Di hati perempuan itu. Malam terasa begitu sepi.

Sejauh apapun ia dariku. Tole tetap putraku. Walaupun ia telah lupa dengan ibunya tapi aku takkan pernah lupa dengannya. Tak seorangpun kuijinkan menghinanya. Gumam perempuan itu mencericau sendiri. Ia mencium syal yang selalu ia kenakan. Ketika melihat benda itu, hatinya tiba-tiba menjadi haru. ” Mak pakai saja syal ini! Emak lebih butuh dari pada tole.” Ia teringat tole memakaikan syal itu melingkar di pundak perempuan itu. Meski akhirnya tole terbatuk-batuk dan ingusnya deras keluar. Anak itu benci sekali dengan udara dingin. Ia teringat begitu besar semangatnya untuk membantu emaknya. Perempuan itu terbatuk-batuk. Telah lama paru-parunya terserang radang. Makin parah saja semenjak tole tak di sisinya. Tak ada yang merawat perempuan itu lagi.
***

Walaupun dulu penjual nasi boran sangat banyak dibanding sekarang. Namun perempuan itu tak pernah sepi pembeli. Masakannya memang khas. Itu yang sering dikatakan pelanggannya. Terlebih kekhasan itu dibumbui dengan cerita-cerita heroik jaman perjuangan dulu. Ya, masa mudanya dihabiskan dari satu dapur ke dapur lain. Menyediakan makan bagi para pejuang kemerdekaan. Kadang harus merangkap jadi perawat kadang juga harus berani memanggul senapan. Cerita-ceritanya membuat para pembeli betah berlama-lama lesehan di samping bakul nasi boran miliknya. Biasanya Tole kebagian bersih-bersih sendok dan membuangi pincuk-pincuk bekas wadah nasi boran. Mereka terlihat sangat kompak.

Dan kekompakan itu seakan sirna semenjak Tole menang dalam PILKADA tahun lalu. Karena kesibukan tugas. Tole sekarang semakin jarang bersua dengan ibunya. Mungkin hanya sebulan sekali. Itupun tak lama. Bahkan telah empat bulan tole tak datang mengunjungi ibunya. Bulan ini hampir habis. Namun tak ada tanda-tanda tole akan datang bertandang. Kadang perempuan itu masygul dan mulai berpikir bahwa putranya benar-benar telah lupa dengannya.

Walaupun rasa sedih selalu membuncah ketika mengingat Tole. Namun Perempuan itu bangga dengan anak satu-satunya itu. Telah dari balita ia yatim. Namun ia tak pernah manja. Semangatnya untuk terus maju dan merubah kehidupan miskin yang melilitnya tak pernah padam. Suatu ketika perempuan itu kehabisan ide untuk mendapatkan uang, Tole sangat membutuhkan uang untuk biaya studinya. Sedang untung menjual nasi boran tak begitu banyak. Namun Tole dengan gigih nekat bekerja sebagai kuli panggul di pasar. Saat itu tubuhnya kurus kering tak berotot seperti kuli panggul yang lainnya. Namun semangatnya untuk terus sekolah mengalahkan keterbatasan yang ia punyai.

Tole tumbuh jadi pribadi tangguh dan kuat. Otak yang cerdas ditunjang dengan kegigihan untuk terus maju membuatnya pantas untuk membuat keputusan penting dalam hidupnya. Maju sebagai calon bupati periode kedepan. Membuat banyak orang terkejut karena ia hanyalah anak seorang rakyat biasa. Tak ada silsilah kaum berada pada hirarki moyangnya. Lebih terkejut lagi ketioka akhirnya dia menang. Padahal pesaingnya adalah orang-orang bernama dan berkantong tebal. Tak aneh jika ada yang nyeletuk. ” Dia , pasti menang karena langganan nasi boran emaknya banyak!” Mungkin juga benar. Karena rata-rata penggemar makanan itu di kota ini memang mengenal emaknya.
***

Bila suatu saat engkau bertandang di kotaku. Cobalah mampir sejenak di pertigaan ramai itu. Sekedar melepas penat perjalanan atau turut merasakan nikmatnya menyantap nasi boran di pinggir jalan. Sambil melihat kesibukan perempuan-perempuan penjual nasi boran atau lalu lalang kendaraan beraneka jenis. Mungkin juga ingin menikmati malam yang temaram dan damai seperti malam itu. Terlebih jika engkau ingin mendengar langsung cerita seorang perempuan penjual nasi boran yang kesepian karena telah lama ia tak melihat putranya.

Perempuan itu masih saja terpekur di atas sandaran tangannya. Matanya nanar dawarnai keharuan. Lalu beberapa bulir air meleleh dari kelopak matanya. Lampu jalanan yang terang membuatnya bias. Ia masih larut dalam lamunan bahkan ketika ada sebuah avanza berplat merah berhenti tepat di depan bakul nasi borannya.

Seorang lelaki kurus turun dari mobil. Langkahnya wibawa sahaja mendekati perempuan itu. Nampaknya ia bukanlah laki-laki biasa. Di belakangnya, beberapa orang sangar berbadan kekar menguntit laju jalannya lelaki kurus itu.
” Emak!”

Perempuan itu terkesiap. Ia begitu mengenal suara itu. Belum lama perempuan itu bangkit dari duduknya tubuhnya limbung karena sebuah pelukan telah meremas tubunya. Aroma tubuh itu tak asing lagi. Kehangatan seketika melumuri badannya. Dan air mata perempuan itu mengalir makin deras.

”Maafkan Tole, Mak! Telah lama tole tak mengunjungi emak.” Laki-laki itu terisak-isak. Tangannya menyeka air mata yang deras keluar dari mata perempuan itu.

”Ndak papa, Le. Gimana kabar kamu, Le? Sehat?
”Sehat, Mak.”
”Bagaimana pekerjaan kamu?”

”Itulah mak kadang tole menyesal menjadi sekarang. Kenikmatan menjadi orang besar kadang membuat lupa bahwa kita pernah jadi kecil.”
”Ndak boleh begitu, Le, Bagaimanapun itu adalah amanah rakyat.”

Beberapa orang yang lain sedang tersihir dengan situasi yang amat mencengangkan itu. Mereka seperti sedang melihat episode akhir sebuah sinetron. Siapapun yang mengenal lelaki itu pasti akan berubah sikap. Ada yang serupa budak dengan tuannya. Ada yang ketakutan seperti melihat hantu. ada yang sengaja menjauh. Namun banyak juga yang tak mengenal laki-laki itu. Bisa dimaklumi, karena tak semua rakyat mengenali pemimpinnya. Demikian juga pemimpin sering lupa mengenal rakyatnya.

”Kamu tak lupa dengan nikmatnya nasi boran buatan Mak kan? Perempuan itu menyodorkan sepucuk nasi. Dua bungkus lagi buat pengawal laki-laki itu yang sangar-sangar.
”Pasti Mak. Pasti. Oh ya! Habis ini kita beres-beres lalu boyongan kerumah baru kita ya mak!”
Perempuan itu menghela nafas berat. Bola matanya menangkap bakul nasi dan bertumpuk-tumpuk lauk pauk miliknya.
”Itu bukan rumah kita le. Rumah itu adalah titipan yang sewaktu-waktu diambil lagi oleh pemiliknya! Kita adalah rakyat biasa.”
***

Bila suatu saat engkau bertandang kekotaku. Coba mampir sejenak di pertigaan ramai itu. Sekedar melepas penat perjalanan atau sekedar merasakan nikmatnya menyantap nasi boran di pinggir jalan. Sambil melihat kesibukan jual beli nasi boran atau lalu-lalang kendaraan beraneka jenis. Mungkin juga ingin menghabiskan malam dikotaku yang temaram dan damai.

Namun maaf kali ini aku tak bisa menemanimu. Karena pekerjaanku seperti tak habis-habis. Tapi tak usah khawatir. Akan kutunjukkan penjual nasi boran mana yang menjadi langgananku. Ya, perempuan tambun yang ada tahi lalat di dagunya itu. Dijamin engkau akan rindu bertandang kembali kekotaku. Engaku tak hanya akan disuguhi masakan yang enak saja. Namun juga diceritakan bagaimana gigihnya perempuan itu bertahan sebagai penjual nasi boran. Karena ia hendak membuat nasi boran tak dilupakan rakyat kotaku. Tak kalah dengan masakan-masakan luar negeri yang makin deras berdatangan ke kota ini.

Jangan lupa juga minta diceritakan tentang anaknya yang kini menjadi orang besar. Walau begitu, ia tak pernah sombong dan selalu rendah hati. Ia hebatkan? Ya, perempuan itu memang sangat hebat. Dia adalah ibuku. Aku sangat menyayanginya. Walaupun dia masih belum mau tinggal bersamaku di rumah dinas yang luas ini.

Lamongan, Kota Cahaya Oktober 2007

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *