Sastra: Menjadikan Perubahan

M. Bagus Pribadi

“Suatu masyarakat yang paling primitif pun, contoh di jantung Afrika, yang tak pernah duduk di bangku sekolah, tak pernah melihat kitab dalam hidupnya, dan tak kenal baca-tulis, masih dapat mencintai sastra, walau sastra lisan.” (Bumi Manusia, hal. 233). Kalimat yang tersadur dari pernyataan Pramoedya Ananta Tour di atas, paling tepat untuk menggambarkan keadaan, di mana ada suatu negara terbelakang, pun masih terdapat kecintaan pada dunia sastra. Walau mereka belum mengenal tulisan-menulis, namun peduli melestarikan sastra (: lisan), sebagaimana masyarakat kita tempo dulu.

Lalu bagaimana dengan kondisi kita sekarang, yang katanya telah sampai pada alam masyarakat modern? Ini bisa terlihat dari daftar prioritas kebutuhan hidup, yang lebih mementingkan pakaian baru, kosmetik, makanan ringan serta kendaraan, sebagai daftar belanja bulanan. Sehingga bisa dipahami, tingkat kepentingan masyarakat kita terhadap karya sastra, pembelian buku jauh lebih rendah dibanding kebutuhan beli pulsa iseng sms dsb.

Balik kepada pernyataan di atas. Tingkat kebutuhan masyarakat untuk mengkonsumsi sebuah karya sastra dapat diperoleh pengertian, lebih cenderung anti sastra. Ini dapat di golongkan kaum bebal atau malas berpikir. Sehingga tidak menuju kemajuan, tapi melangkah pada bentuk kehancuran.

Apa yang menjadi landasan menyebut masyarakat yang anti sastra itu bebal? Karena karya sastra bagaikan anak tangga menuju peradaban tinggi. Mengenai hal ini dapat diketahui dari bangsa-bangsa terdahulu yang telah memiliki peradaban maju, ketika bangsa lainnya masih bergelut ketidaktahuan, kebodohan terhadap teknologi. Ini bukan lain di sebabkan kemajuan tingkat kesastraan dari masyarakatnya. Lihat saja bangsa Arab yang telah melahirkan para penyair sekaligus ulama’ yang mampu menulis kalimat-kalimat agung di samping indah, dalam karya-karyanya. Kita saksikan pula bangsa Inggris telah melahirkan Shakerspears dengan karya sastranya yang mengguncang.

Dari sini bisa diketahui, taklah mampu menyangkal peran sastra dalam mempengaruhi kehidupan insani. Bahkan mendiang John F. Kennedy, seorang presiden negara adidaya, yang memimpin bangsa paling rajin berperang. Pun pernah mengatakan: Jika sebuah prilaku politik itu kotor, maka puisilah yang membersihkan. Jika prilaku politik itu bengkok, sastralah yang meluruskan.

Pada masyarakat kita yang kurang menghargai atau tak menempatkan kesusastraan pada posisi selayaknya. Kondisi ini dapat mempengaruhi kualitas karya pada sastrawan di negeri kita. Puisi, misalnya. Di tangan penyair yang canggih-mutakhir, hanyalah deretan huruf, barisan kata-kata, dan tumpukan kalimat yang disusun sedemikian rupa. Ia hanya omong besar, bunga plastik. Sebagaimana persepsi masyarakat terhadap kembang palsu, keindahan semu belaka, dan puisi sekadar kata-kata indah menipu, kalimat besar yang tak punya ruh.

Akibatnya, puisi-puisi dari penyair mutakhir di negeri ini dapat dikatakan, hadir sekadar mengadopsi puisi-puisi yang ditulis penyair terdahulu. Baik bentuk, tema pun isi. Seakan-akan penyair itu telah menyerah pada bentuk dan gaya tradisi penulisan puisi yang dirintis para pendahulunya. Sehingga timbullah kesan: generasi sisa yang tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak ada upaya atau keberanian melakukan terobosan dalam kerja kreatif berkarya sastra yang mampu “membangunkan” penikmatnya.

Lebih dikhawatirkan lagi, dari akibat tak dihargainya sebuah karya sastra di posisi semestinya, para sastrawan hanya memiliki keinginan menembus koran atau media massa semata. Mereka tidak peduli lagi terhadap isi serta makna karyanya, yang tak mampu dicerna masyarakat awam. Dan menjadi kepedulian paling pokok, kritikus sastra dan penyair papan atas mengakui kualitasnya. “Walau tanpa puisi, Indonesia tetap berlangsung hidup, terus bergerak tiada berubah keadaan” begitu komentarnya bagi penegas sikap eksklusifnya.

Pada akhirnya, kita berharap agar paparan di atas tidak menimpa penyair di negeri ini. Dan puisi-puisi dari penyair kita tetap menjadi karya sastra yang “baik.” Menjadi awal sebuah inspirasi yang mampu dicerna masyarakat awam, bahkan oleh para pembantu rumah tangga sekalipun. Kemudian karya tersebut sanggup menyodokkan inspirasi kepada pembaca, hikmah bagi banyak orang.

Karya sastra yang “baik” dapat memberi inspirasi bagi bangsanya. Karya semacam itulah yang sebenarnya sanggup menggerakkan masyarakat demi mencintainya, sebagai bagian kehidupan. Yang menjadikannya mampu mengasah jiwa, membuka kepekaan pribadi akan situasi yang berkembang. Ketika perang (kekerasan) membuat kemanusiaan beku, kondisi sosial budaya merosot. Ketika ekonomi terjepit, sastra diharapkan melahirkan norma dari yang bersifat estetis menuju kemunculan etika dalam menjalani hubungan antara umat. Penyair Sutardji Calzoum Bachri pernah mengatakan bahwa jika tentara punya panser dan peluru, penyair punya kata-kata. Sesungguhnya yang di harapkan darinya ialah karya sastra yang sanggup membuka mata hati dunia: kata-kata syair, puisi dan bentuk lainnya, merupakan alat terpenting menyelesaikan masalah demi mencapai titik temu menuju perdamaian, pintu pemecah keheningan kosong, dibandingkan dengan cara-cara militeristik, anarkis, kesewenangan, berbagai bentuk penghalalkan segala cara, serupa yang sering kita saksikan. Karena keindahan dapat meningkatkan kepekaan perasaan, sehingga banyak yang memahami: etika itu diperlukan dalam berhubungan sosial.

Yang menjadi pertanyaan sekarang: Adakah karya sastra dari para penyair kita yang mempunyai kriteria “baik,” mampu mengasah jiwa, membuka kepekaan diri, sebagai alat-alat perdamaian dalam keadaan pertikaian, perang, kemelut kehidupan?

Jawabnya; ada! Ya, karya sastra yang di maksud itu tidak pernah di perbincangkan dalam diskusi sastra, karena memang tidak dipandang sebagai suatu puisi. Namun sebagai karya sastra abadi, yakni teks sumpah pemuda 28 Oktober 1928.

Seperti halnya puisi, yang terbangun pada rangkaian larik-larik Sumpah Pemuda itu wahana imaji. Bahasanya sederhana, dan sengaja disusun sebagai visi politik, menciptakan imagined community (istilah Ben Anderson). Daya pukau teks tersebut yang kemudian menggerakkan para pemuda serta pemimpin bangsa, seperti; Soekarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka dll, sanggup menempuh pengorbanan panjang, perjuangan merebut makna kemerdekaan, mewujudkan suatu bangsa bersemangat sumpah.

Karya sastra sejenis itulah yang diharapkan kembali untuk negeri yang tengah di landa krisis multidimensi di semua lini kehidupan. Dibutuhkan puisi yang hadir dari imaji, mampu menggerakkan oase pembaca melakukan inovasi. Bukan karya sastra melangit, yang hanya bicara keindahan, cinta lahiriah semata atau mencapai puncak gading retak.

Ada lagi yang seharusnya jadi perhatian lebih bagi pengamat sastra, yaitu kecendrungan para sastrawan di negeri kita yang sekadar membahas seputar sarung (seks), ini menjelma anti klimaks dari peran sastrawan sebagai agent perubahan, yang seyogyanya membawa masyarakat bangsa ini, pada pencerahan penuh santun.

Sedang realitanya saat ini. Sastrawan jatuh dari wakil pencerahan pada peran sekadar menghibur. Sastra jatuh dari transenden kepada yang profan. Semisal karya Ayu Utami, menjadi pemicu dereligiusitasi (gerakan anti visi agama) dalam masyarakat, khususnya mengenai seksual. Gagasannya berhasrat membebaskan seks, dari peran agama semakin tampak jika kita baca esai-esainya.

Kecenderungan itu dapat dianggap kerugian besar bagi sejarah sastra kita, karena karya sastra seksual tak dapat memberi catatan jujur, tajam dan objektif atas perkembangan sastra kita yang sesungguhnya.

Sesuai apa yang menjadi hasil analisis Katrin Bandel di bukunya: Seks, Sastra, Perempuan (2006), bahwa sensasi yang muncul atas novelnya Ayu Utami adalah sebuah metafora (berlebihan). Karena, karya itu sebenarnya biasa saja. Menurut Katrin, sensasi berlebihan itu justru merugikan sastra kita. Sebab sensasi itu mengalihkan perhatian masyarakat dan pengamat sastra dari karya-karya yang sesungguhnya lebih pantas diperbincangkan. Ini bisa kita lihat Joko Pinurbo, berhasil memperoleh penghargaan Khatulistiwa Literary Award 2005. Di mana ia lebih mampu mengambil perhatian dewan juri dengan karya sastra yang juga mengangkat citraan sederhana seputar seks, di banding perhatian para juri terhadap sastra kemanusiaan maupun sastra Islam.

Padahal selain sastra seksual, ada yang seharusnya dapat perhatian lebih dari masyarakat dan pengamat sastra, yaitu sastra Islam, karena mayoritas dan yang bertema kemanusiaan (humanisme universal). Sastra Islam kini mulai bangkit, menjadi bacaan alternatif yang mampu memberi pengajaran bagi masyarakat kita. Di antaranya karya Asma Nadia, Pipiet Senja, Habiburrahman El-Shirazy, yang berhasil mencapai best seller dengan Novel Ayat-Ayat Cinta-nya, penuh fenomenal dalam masyarakat kita, dibanding minat baca kepada novel Saman.

Ada juga sastra insani yang mengeksplorasi kearifan serta kekayaan budaya lokal, seperti karya-karya Ahmad Tohari, Kuntowijoyo dll. Belakangan ini, banyak bermunculan novel-novel yang mengangkat sejarah, seperti Dyah Pitaloka (2005) karya Hermawan Aksan dan trilogi novel Gajah Mada (2006-2007) karya Langit Kresna Hariadi

Alih perhatian dari pengamatan sastra seks kepada sastra Islam dan sastra kebudayaan adalah mutlak di perlukan. Karena ini sangat berpengaruh terhadap sastrawan di negeri kita, guna kembali menjadikan karya sastra itu pencerahan. Bukan hanya berbicara keindahan kenikmatan duniawi, tapi yang mampu memberi bonus inspirasi putih, dan kepekaan terhadap lingkungan baik. Diharapkan para sastrawan dapat membuktikan, bahwa mereka adalah “agent of change.”

Mengapa sastra menjadi begitu memegang peranan penting dalam perubahan? Jawaban ini ternyata kembali pada asal teori kebudayaan yang menyatakan sastra ialah tanggapan evaluatif terhadap kehidupan, kaca cermin memantulkan segala pernik kehidupan sehari-hari. Jika membaca sebuah karya sastra, akan utuh melihat diri kita berprilaku dalam kehidupan.

Dengan kita mampu menciptakan karya sastra yang baik (berakhlak mulia), diharapkan para penikmat karya sastra, bisa mengapresiasikan dirinya dalam berbudaya, berprilaku baik sebagai kunci dasar kesuksesan, dari tonggak perjuangan. Meninggalkan krisis multidimensi yang mencekam di segala bidang hidup kita, jikalau mau mengingat perjuangan para pahlawan kita tempu dulu, yang berkorban dengan harta, darah serta nyawa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *