Sajak-Sajak Mashuri

Membaca Surat di Bawah Gerimis
: Lukman al Hakim

1
kubaca suratmu di bawah gerimis
di bawah menara tinggi, di bawah angka-angka
yang tertera di lingkar jamnya
kubaca suratmu dengan sudut mata yang luka
serupa peziarah di padang tandus
yang dihunus asa sendiri untuk menyembah beribu
dewa; sebab cakrawala seakan mati
dan zenit mengapung di ufuk tak teraih
kubaca suratmu dengan kekosongan kalbu
seperti pembaca yang letih pada batu, pada jalan
pada sorga yang diangankan khayalan
kubaca suratmu lewat kerapuhan hati
bak ritus yang terus dilesakkan matahari
menyinari bumi tanpa keinginan memiliki
kubaca suratmu…

di ujung suratmu, kutemu kiblat yang sepi
mungkin hanya arah mati atau darah yang mendidih
tak tergali: segalanya berubah magma
dapur raksasa yang siap meledakkan dunia
segalanya berubah amarah karena yang disembah
terus dentingkan irama-irama luka

aku telah membaca suratmu dengan tanpa membacanya
aku pun terantuk pada kutukan-kutukan yang terwarta
dari matamu yang membius doa: agar langit terbuka
dan bumi disapih segala goda
termasuk juga godaan perempuan

kini, di bawah menara, di bawah gerimis,
angka-angka telah merangkum tangis waktu
kini, dengan mataku luka, kupapah arah berdarah
kini, kalbuku batu dalam kekosongan
kini, aku kehilangan segalanya
kini…

aku anakmu yang terasing seakan bising dengan ucapmu
gelap kugambar di retina; gegap kupahat dijejak-jejak kata
bening pun terbanting ke lubuk tak terduga
sebab kupuja kesementaraan, kupuja apa yang tidak kaupuja

lewat suratmu, lewat kelebat-kelebat gaibmu
aku ingin menjadi putera yang kau peram
dalam malam; ketika beribu galaksi dijadikan api
membuhul beribu mimpi
aku ingin kau tuang hujan di kepalaku
lalu kau rajah dadaku dengan pipih batu
batu yang diungsikan kemarau
batu yang menjadi saksi alir sungai
sungaimu yang membeningkan kening
batu yang ingin kukenang dalam riuh bandangku
yang berangin

kututup kembali suratmu, aku kembali mengigau
seperti anjing yang dikurung dan dipaksa tak bertaring
lalu mati dalam keterasingan ingin
berharap: segala godaan hilang
juga goda tuhan yang bernama perempuan

2
asa yang kau pahat di mata
telah kutemukan dalam kata
kusapa ia dengan perempuan: kesatuan tuhan
yang merimbun ke tulang
igaku yang patah, di penciptaan pertama

3
tapi kini nama serupamu laksana duri
yang tak henti menghujani
diamku; meski aku dikandung sunyi

Surabaya, 2007

Laut yang Cedera
: somebody

akhirnya kau cederai juga lautku
: “biru yang terhampar, angin yang terhantar
juga geletar-geletar yang menguap bersama angkasa
mencipta hujan terus berlambang…”
kini lautku sesunyi mimpi, kau tak henti mengalirkan
limbah-limbah, sampah api, sepi yang ternoda
juga kebusukan cinta —aku pun sembunyi ke bilik rahasia
mungkin palung asa yang retak di dasar jejakku
mungkin juga ke ruang-ruang rinduku
yang diratapi segala batu

bahkan karang yang terjal dan tegak
pun tak lagi bernyanyi, ketika gelombang menghantarkan bunyi
: “ombak yang menabuh, lenguh camar yang menubuh
juga pantai-pantai yang menjadi…”
segalanya seakan hilang diri, ambruk ke relung tak terpahami
jiwaku pun tak cukup meratap, aku pun kembali gelap

pada malam, ketika bintang menghias angkasa,
aku temukan jiwa —aku tulis rasi-rasi yang menari
mencarikan jejak-jejak mimpi baru
mimpi yang bisa kujadikan mimpi
dari lautku yang ternoda, cedera, terberai
mimpi yang bisa membuatku tetap menatap api
sebagai api

kukayuh sampan dalam keterpurukan
bak nelayan yang hilang ingatan
melayari puing-puing laut
melayari kesunyianku yang kau renggut
melayari bunyi maut

aku pun mengapung dan terasing
dan dalam keterasinganku, kusebut kembali ibu,
di pangkuannya, aku gambar kembali mula biru
bak kanak-kanak yang belajar mewarna
lalu menciptakan laut baru di seberang sana
laut dengan irama-irama yang tak jauh dari riak rumah
rumah muasalku; air tanahku
“nyiur melambai…”

Surabaya, 2007

Perempuan Sunyi

aku ingin mengutip sunyi dari rambutmu yang terurai
agar aku mampu berperahu tanpa laut
aku ingin merangkum bintang yang memancar dari netramu
agar aku bisa membaca arah yang tergambar di tiap mata

tapi kini sunyi kurasakan lebih mati dari mati
lahat seakan mengikatku dengan bau tanah baru
dengan anyir belatung yang merubung jasadku

tapi kini kiblatku seakan tersesat dan piatu
setiap mata seakan merajamkan batu ke hulu kalbu
dan dadaku darah yang menyepikan segala arah

sebermula dari imajinasi, aku pun kembali
aku susun ratap-ratap panjang seperti ratib
agar gelap yang kusulang tak lagi menyalib

aku pun samadi seperti sunyimu
sunyi yang lesakkan ke batu
batu yang tumbuh dari riuh
gemuruh renjana
aku pun menukar api dengan mimpi;
menyulap sepi menjadi perigi
memberkati keinginan mati
bagi yang sudah sampai

aih, alangkah lacur jiwaku
seperti perawan yang tak punya pegangan waktu
aih, alangkah hancur ingatanku
seperti jasad yang dicabik-cabik jasad renik

aku pun tak bisa berdiam diri dalam keterasingan birahi
aku lihat wujudmu dengan mata seorang pejantan
dari timur, yang telah disapih bebukit kapur
dan kini sedang membongkar segala kubur

lalu kukutip sunyi dari rambutmu nan wangi
lalu kukecup bintang dari matamu yang menawan

aku pun berbagi sebagai laki-laki

Surabaya, 2007

Sembahyang Dedaunan

kupuja kau melampaui keraguanku
seperti daun-daun yang gugur
karena aku tahu, ragu selalu membuat lagu
sebagai nyanyian di jalan-jalan
membuhul siul-siul suara, lalu memberi ruang
ruang renjana
pepohonan bergoyang
melantunkan puji-pujian, meski kekeringan
telah menjanjikan sebuah perempatan
bernama: maut!

kupuja kau melampaui harapanku
seperti daun-daun yang tumbuh
ketika tubuh tak lagi bangkit dari riuh
dan segala ruh terjungkal ke penggal akal
bernama: kekal

kupuja kau dengan doa daun-daun
sebagaimana kuhikmati gurat yang terpatri
lalu larut bersama kerumun burung-burung
yang terbang tanpa sayap, tanpa kaki
menujumu,
menujuku

Surabaya, 2007

Cintaku Mengapung

cintaku mengapung bersama hujan
ketika di rongga matamu, kutemukan gelombang
demi gelombang
aku pun susut senyawa laut: pasang pun merenggut
aku tatap rintik-rintik gelap, menuju bilik dan pengap
membaca guyur asin yang kau dentingkan dari pandang
yang melumuri sisa luka yang membercak darah
di cakrawalaku yang goyah

o gadis bermata malam, mungkinkah pertemuan kita
hanyalah kata
kata yang ringkih mewujudkan dunia, kata yang disapih
dari getih peziarah, kata yang terluka dan musnah oleh dirinya
mungkinkah kita sama asing di ujung pantai ini
lalu kita bertiarap di bawah atap: sambil berguman tentang rumah
rumah jauh, ingatan-ingatan kita yang melangkah
sendiri, membelukar ke dalam sepi masing-masing
dan kita sungguh saling asing

cintaku demikian sunyi; mengambang di antara langit-bumi
berpijak udara; memberi ruang pada sisa-sisa hampa
memberkati luka agar terus berdiwana sebagai arah
kelana;
karena di korneamu, kutemukan sepi membatu
kusaksikan lipatan-lipatan kenang ke lalu
kenang yang selalu menculikmu untuk terus berlabuh
ke hamparan-hamparan tak kukenal
sebuah wilayah, yang membuatmu terjarah dan merasa kekal
di buaian waktu
waktu lalu

—aku pun tak tergali untuk mencari
denah-denah rahasia yang kau pendam di hati
aku seakan terpatri di tapal batas: mencatat nafas
yang lewat: agar segala yang mengalir tidak sia-sia
menuju akhir;
agar aku masih bisa mengenal takdir
sebagai kelir yang terus bergoyang diterpa angin
agar aku masih bisa menghirup degung gasing
yang bergaung di pusar tak berangin: nir ingin

hujan kurasakan semakin deras, cinta kurasakan semakin tumpas
kau pun bergegas menuju dermaga: mengecup beranda
lalu berperahu menuju ke balik hulu
kau lambaikan tangan seiring dengan suara rintik
yang semakin seru menderu di bilik
dadaku: memerahkan luka yang masih kucurkan darah
dari gagang anak panah

Surabaya, 2007

Surga yang Diperdebatkan

di bawah kubah, kita berdebat soal surga
kau mengacungkan parang, sambil berteriak lantang
“surga menanti bagi mereka yang mati berkubang darah
di atas panji-panji” katamu, “surga adalah
mutu manikam, sungai madu dan bidadari”

aku lihat matamu merah
aku rasakah nafasmu tak henti mendesah
aku mendengar gemuruh dari lingkar dadamu
seperti magma; siap meledak dan membuat tungku

aku pun diam tepekur, seperti seseorang yang sedang
mengukur langkah dan jarak: antara kubur dan jejak
“surga harus dibangun di sini,” kataku, “ia terekam di mata
dan nafasmu, juga di telapak kaki ibu”.

kau menatapku, aku masih menatap tanah berpijakku
sungguh kita masih di bawah kubah, belum melangkah
kita pun tak kuasa membayangkan rupa pasti di atasnya
juga jika ia runtuh menimpa kita bersama

Surabaya, 2007

Lubang Hitam Hati

kau membuat lubang di hatiku untuk selalu mengingatmu
meski hitam, aku akan merawatnya
sebagaimana aku merawat bunga
yang kini berada di beranda
yang selalu menerima angin menerpanya,
sehingga wangi, putik dan benangsarinya terbawa
ke seberang sana: ke sebuah perjamuan yang aku tak ada

lubang hitam yang kau lesakkan di dada ini
sungguh begitu indah, apalagi kini
aku sedang dilanda keraguan untuk berbagi
aku sedang dirundung sepi bertubi-tubi

Surabaya, 2007

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *