Beribadah ala Cak Nun

Judul Buku : Tidak. Jibril Tidak Pensiun
Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Progress
Cetakan : I, Juli 2007
Tebal : 244 hlm
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*
http://indonimut.blogspot.com/

Esai-esai gubahan Cak Nun panggilan akrab Emha Ainun Nadjib ini, masih survival-eksis membincang praktik ibadah keseharian umat Islam. Urat pena energi kreatif Cak Nun membenahi wilayah eksoteris (ibadah tampak) dan esoteris (ibadah tak tampak) ubudiyah keumatan. Ia bidik kinerja pendakwah atau muballig yang seharusnya (kata Cak Nun) benar-benar memiliki emban tanggungan terhadap kualitas kesalehan umat Islam.

Cak Nun, budayawan merakyat. “Banyak kita temui dikampung-kampung aneka ragam pengajian, yang pada dasarnya mempunyai seruan terhadap amar ma’ruf nahi munkar, namun terlepas daripada itu esensi pengajian belum teraih dan masih berkutat mandek pada tataran ritual-seremoni sesaat”, ujarnya. Bak menegakkan benang basah, acara pengajian tidak betul-betul memberikan tausiyah hakiki, menghantarkan umat Islam menuju amal saleh dan kemapanan spiritualitas yang bermuara pada pemahaman urgensi ibadah sosial.

Di salah judul esainya: “Mauidhah Dakwah Kita Kurang Hasanah”, Cak Nun mempertegas bahwa dakwah itu diselenggarakan terutama untuk proses perubahan munuju kondisi salih, dari kondisi yang tidak atau belum salih. Ia skeptik, apakah frekuensi dakwah tidak berbanding terbalik dengan kondisi kesalihan kita semua? Bukankah semakin ‘kosong’ semakin diperlukan pengisian? Sehingga peningkatan kapasitas pengisian justru menunjukkan tingkat kekosongan?

Cak Nun tidak bermaksud menuduh, sekadar mengajak berhati-hati dan menyadari selalu perlunya ishlah diri. Lebih jauh, Cak Nun menghimbau muballig agar apa yang diucapkan atau kalimat-kalimat dakwah yang disampaikan juga mempertimbangkan determinasi psikologis para pendengar. Banyak muballig tak pintar merayu pendengar, melainkan menekan. Bukan mencuri hatinya, tapi membuat ngeri, dan orang yang merasa ngeri tidak banyak kecenderungan lain kecuali melarikan diri.

Himbauan Cak Nun itu berbasis pada pengalamannya. Ia sangat kaya pengalaman mengisi dakwah di tempat-tempat pengajian yang dibikin bersama jama’ahnya. Beragam wahana transformasi dakwah yang dimiliki Cak Nun: Padhang Mbulan (Jombang), Mocopat Syafaat (Yogyakarta), Kenduri Cinta (Jakarta), Gambang Syafaat (Semarang), dan Obor Ilahi (Malang). Selain itu, bersama Kiai Kanjeng, terhitung dari tahun ke-6 berdirinya (Juni 1998) hingga Desember 2006, Cak Nun telah mengunjungi lebih dari 22 provinsi, 376 kabupaten, 1430 kecamatan, dan 1850 desa di seluruh pelosok Indonesia. Pernah pula, Cak Nun bersama Kiai Kanjeng diundang ke berbagai belahan manca Negara.

Beserah

Betapa hebatnya manusia, tingginya kadar intelektualitas, bahkan mapan dalam sisi karir, tak pantas bersombong atau takabbur. Semuanya berpuncak pada kekuasaan Allah. Allah yang menentukan semuanya, manusia hanya berikhtiar dan berseru. Sebagian lain esai Cak Nun, “Tidak. Jibril Tidak Pensiun”, sekaligus menjadi judul buku ini, bernada profetik yang bermuara pada ketawakkalan seseorang.

Apabila manusia telah merasa mampu menemukan sesuatu, mengadakan yang tak ada, menciptakan sesuatu, dan berkat itu ia menjadi seniman Nobel, doktor akademik atau sarjana kehidupan, maka karya-karyanya, kata-katanya, lukisannya, musiknya, tak bisa disebut semuanya adalah miliknya (hamba) melainkan berkat kasih karya Allah semata. Kalau kita membaca karya itu, kita membaca karya Allah. Kalau kita dengarkan ia baca puisi, itu puisi Allah. Kalau kita nonton pameran lukisannya, hakikatnya kita nonton lukisan Allah.

Meneroka keakar teologisnya, menghasilkan rincian titian pemahaman demikian: Allah bisa cukup bilang Kun (fa-yakuun) demi kepentingan apapun saja. Takaran dibawah wahyu tak diperlukan Jibril (malaikat). Pekerjaan-pekerjaan kecil begitu Allah tak memerlukan organisasi birokrasi, tukang-tukang pos, dan ahli-ahli agen penyalur, hanya cukup saja Allah berkata Kun (fa-yakuun), maka terealisasilah.

Buku ini dihadirkan dengan pewajahan yang sangat kental suasana esoteris, sehingga mencerminkan gejala-gejala batin manusia. Pembaca dibantu dengan tulisan esai, pembahasan berat beralih ringan, dan juga hal ini tak lepas dari gaya tutur bahasa Cak Nun yang renyah.

Oktober 05, 2007

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*