Solzhenitsyn: Gairah Agung dari Gulag

7 Sep 2008, Jawa Pos

Binhad Nurrohmat*

Solzhenitsyn (1911-2008) telah menuliskan yang mesti dikenang manusia, dan kematian sastrawan itu kian menghidupkan pesan: misi kemanusiaan dalam kesusastraan selamanya melekati ingatan dunia, dan tak sebatas ihwal tragedi Gulag, sebuah genre penjara amat keji ”karya besar” rezim totaliter Sovyet di masa kekuasaan Stalin yang oleh Solzhenitsyn dalam sebuah suratnya disebut sebagai ”pria brengosan” itu. Kesusastraan Solzhenitsyn menorehkan percikan-percikan keluhuran dan kedalaman pengertian dari sejarah panjang kezaliman kekuasaan di negerinya, tanah Rusia.

Kemasyhuran kesusastraannya amat mencekam dan bergaung hingga melintasi negerinya bukan lantaran Solzhenitsyn menuliskannya di atas tumpukan jerami busuk yang jadi pembaringannya bertahun-tahun di Gulag ataupun di tempat lain. Ia menulis dari kedalaman batinnya dengan penuh gairah ihwal keluhuran yang menembus sekat kemanusiaan di mana pun, yaitu tentang (seperti tergurat di novelnya) ”garis pemisah antara kebaikan dan kebatilan yang melintas di tengah semua hati manusia”.

Solzhenitsyn meninggal di rumahnya, di Troitese-Lykovo, di pinggiran Moskwa, Rusia, jauh setelah kematian Stalin, ”pria brengosan” itu. Salah seorang putra sang sastrawan peraih Nobel Sastra 1970 itu, Stephan Solzhenitsyn, berkata saat mengabarkan meninggalnya sang ayah: ”Dia masih bekerja seperti hari-hari sebelumnya. Tapi, saat malam, kematian datang amat cepat.”

Menjelang ujung hidupnya, Solzhenitsyn masih sibuk menyiapkan karya lengkapnya yang berjumlah 30 jilid, termasuk The Gulag Archipelago yang telah membuyarkan dukungan kaum cendekia Sayap Kiri di Eropa terhadap Stalin dan juga novel tentang seorang tukang kayu yang disekap di Gulag One Day in the Life of Ivan Danisovich yang diberi izin terbit oleh penguasa Sovyet Khruscev guna menelanjangi kekejaman rezim Stalin yang berkuasa di Sovyet sebelumnya.

Karya-karya Solzhenitsyn membuktikan daya kesusastraan membebaskan diri dari cengkeraman tangan besi kekuasaan yang bengis. Melalui karya-karyanya, dia membuat jutaan orang tahu, bahwa di lingkungan yang begitu membelenggu kesusastraan bisa hadir dan jadi simbol dan ekspresi martabat kemanusiaan yang tak menyerah. Di tangan Solzhenitsyn, kesusastraan menggerakkan kemanusiaan dan batin dunia dengan dilambari keteguhannya terhadap risiko yang bisa memberangus karya dan menyita hidupnya dengan mudah.

Karya Solzhenitsyn merupakan kesaksian yang berani (dan) membangunkan kesadaran manusia di mana pun bahwa betapa sempurnanya kejahatan sehingga manusia tak berdaya dan terpaksa membiarkannya meski terselenggara di depan hidung mereka. Spirit kesusastraan seperti inilah yang melantari kesusastraan Solzhenitsyn menggetarkan hati manusia, tak sebatas bagi mereka yang hidup di negeri beruang merah itu. Kesusastraan Solzhenitsyn dibesarkan oleh naluri kemanusiaan kolektif, bukan sekadar diagung-agungkan oleh olah wacana kritik kesusastraan belaka.

Hasil kesusastraan Solzhenitsyn itu merupakan buah pengalaman empiriknya selama menjalani masa perbudakan di Gulag. Kesusastraannya itu tercerahi kontemplasi yang dikerahkannya sampai merengkuh inti kemanusiaan serta menguraikan jejaring kompleksitas yang bersemayam di dalamnya. Solzhenitisyn jadi ”mata sejarah” bagi kemanusiaan yang hendak diperbudak dan dilenyapkan demi mewujudkan cita-cita kekuasaan belaka.

Melalui karya-karyanya, sesungguhnya, Solzhenitsyn tak bermisi sekadar mengkritik atau membenci Stalin. Kemunculan karyanya lantaran ia tak bisa menahan keprihatinannya terhadap kemanusiaan yang lenyap dari diri manusia. Stalin tak jadi ancaman besar tanpa para antek yang memuja, menjilat, dan mendukung rezimnya. ”Kawanan Stalin” inilah yang bernafsu merobohkan pagar pembatas kebaikan dan kebatilan itu untuk merayakan hasrat kezaliman dengan menumbalkan kemanusiaan. Kemanusiaan yang terancam oleh hasrat anti-kemanusiaanlah yang jadi inti dan menggerakkan kelahiran kesusastraan Solzhenitsyn sehingga bisa diwarisi dan dikenang bukan saja oleh bangsa Rusia.

Tapi, kenapa Gulag diciptakan di Siberia, bukan di tempat lain, dan kenapa pula Solzenitsyn yang menuliskannya jadi karya kesusastraan, dan bukan oleh sastrawan lain? Apakah tanpa rezim Stalin Gulag tak pernah muncul di muka bumi mana pun dan membunuh ratusan ribu manusia sebagai budak dan pekerja paksa?

Sejarah Gulag bukan semata sebuah nama penjara mengerikan bagi kaum pembangkang atau yang dianggap membangkang rezim Stalin. Gulag merupakan kisah panjang anti-kemanusiaan yang diselenggarakan oleh kekuasaan yang menjadikan manusia sebagai alat, tujuan, dan sekaligus korban. Gulag tak lagi jadi sebuah nama penjara belaka di Siberia yang beku dan berbahaya atau sebuah ”gerinda daging” raksasa semenjak Solzhenitsyn menuliskannya. Gulag telah menjadi sebuah ruang kemanusiaan yang melahirkan dan menyimpan khazanah pengalaman lahiriah dan batiniah bagi (ke)manusia(an) yang tak terlupakan di hati jutaan orang yang mengalami atau mengetahuinya.

Gulag jadi satu kosa-kata baru bagi dunia dan juga metafor besar bagi kekejian setelah Solzhenitsyn menorehkannya jadi karya sastra. Mungkin, ada ”gulag-gulag” lain di tempat dan masa lain yang belum tertuliskan atau akan terjadi kelak. Sebab, ketika anti-kemanusian jadi kanker yang menjalari tubuh kemanusiaan, hasrat ”gulag” senantiasa hadir dalam bentuk yang lain untuk menggeroti kemanusiaan dengan cara amat mengerikan, seperti satir Solzhenitsyn yang menjadikan jenis penyakit mematikan itu sebagai metafor bagi fatalnya rezim Sovyet dalam novelnya Cancer Ward itu. Waspadalah! (*)

*) Penyair, pemuka Majelis Kata Indonesia dan Bale Sastra Kecapi. Saat ini tinggal di Seoul, Korea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *