TAMBUR TAFFAKUR

KRT. Suryanto Sastroatmodjo

Demikianlah pada mulanya, bahwa tatapan mata yang mengurai kesemestaan adalah telah lebih jauh melewati rimba larangan, dan selanjutnya tanpa dihantui siapapun, meneruskan perlintasan ke arah barat. Kita mengunci bisik-dingin sang bayu, di kala ketukan-ketukan yang menghampir sudah teramat berderap dan kemudian menderu, semirip dengan taufan pada kemarau garang.

Spada! Aku uluk-salam kepada para leluhur, kepada para karuhun, kepada sang hambaureksa, yang senantiasa perkasa dan menindih keletihan diri sendiri, untuk sampai kepada nirwanaloka. Aku intai lubang-lubang kunci dari langkah yang keduapuluhsatu dari regol pertama, dan baru kutahu: tiada seorang pun menunggu pisowanku. Wahai, kalau tiada keliru, bukankah aku menuju ke Seri Manganti?, tempat para priyagung menunggu sinewaka Daulat Gusti Maharaja? Bukankah aku layak buat mengacungkan tangan untuk meminta para dhayoh seba puri, agar menyusun sembahan jemari, menghaturkan suatu persembahan?

Surat ini kutulis, mbakyu Wardhani – tepat pada harijadimu, selikur April tahun tujuh-tujuh, dan baru kali ini, rasanya segar-bugar sekali ingatanku buat melayangkan warkah yang memplak bertengadah. Kukira mbakyu Wardhani akan sangat bersyukur, jika teringat, betapa dunia ikut bertempik-sorak bersama parak siang yang memangku bangunmu dari tidur sekarang. Ya, mbakyu, sesungguhnya kita tak pernah meninggalkan kubu yang sama. Belum sepuluh tahun terbisikkan kehendak bersimpang-jalan. Sudut kanan dan sudut kiri yang mengawali kunjungan kangen yang menghentak-hentak, memanglah kudu ditempuh karena pada hakekatnya kita takkan rela kehilangan matahari, yang memiliki kadar ‘sembur-sinar’ begitu cerah. Hingga kalau tangan merangkai gubahan, belum pernah tilas tumingalnya Sang Bagaskara itu meninggalkan daku seorang diri. Aku dilingkungi kelonggaran dan kesantaian di kala memperkatakan tentang guyub yang dirindukan. Aku diterangi kelangutan tatkala bersanding dengan kaca-kaca-benggala yang tiada hentinya melukiskan kridha-yudha dari mancanegara, dan alangkah dahsyatnya itu!

Mbakyu Wardhani, sudah pantaskah jika layang kusampaikan ke haribaanmu, lamin dirimu ditangsuli oleh seribusatu permohonan-bantuan dari orang-orang yang kehilangan masadepan? Pada tanganmu, lengkaplah pagut-kasih dari pribadi-pribadi yang berdegup-damba. Bocah yang kehilangan rangkulan sayang dan kaum sepuh yang telah dilemparkan dari dunia-damai, menuju ladang sepetak. Biarlah titik embun yang mengalir dari matamu, dan kuyup-hujan yang tercurah dari jemarimu sanggup mendinginkan unggun dan bara di pedalaman jantung. Moga dirimu mampu menanggulangi serbuan jelus dan dendam-kesumat yang mungkin terlahir dari berbagai sosok yang mempertanyakan saham-juangmu semasa pergolakan.

Mbakyu, Revolusi tak bisa berjalan sendiri, dan tak bisa dipacu oleh limpah-goyahnya si sebatangkara. Ia hanya sanggup meledak karena picu-picunya ditarik oleh beberapa kekuatan yang saling berhadapan. Kau jangan tersaruk, jangan terantuk gundukan semacam ini. Pabila musik-sumber-hayatmu masih berdawai tulus, kuharapkan gesekan dari tanganmu menyelenggarakan simfoni termerdu. Dengarlah!

Sedemikian lebar jangkah-jumangkah bisa ditentukan oleh pengawal maslahat yang menjalani lebuh-raya yang nampak di sana. Namun sedemikian lebar pula mbakyu Wardhani mesti memasang pasak demi pasak, agar supaya Irama Zaman mengikuti, mentaati, mengimbangi. Seandai dalam tugasnya nanti, mbakyu merasakan kesebalan dan perih tiada terkira, cobalah menimang gatra-gatra Mawas-diri. Di perbincangan penuh nuansa itu, niscaya tertinggal sepercik ampunan jua!

Mbakyu Wardhani nan penyabar.
Kemudian, kuingatkan kembali kepada ujar bekas Komandan Pasukan Pelajar di Kota M., Pak Wahyudi, yang mengatakan begini: “Suatu saat nanti, keadaan akan aman-tentram, kendatipun sekarang belum dapat diramalkan, kapan banjir darah ini berhenti. Yang kuharapkan, bahwa anakbuahku memiliki sikap hidup yang genah, prinsip yang takkan goyah selamanya.” Waktu itu, kaumencoba mempertegas ucapan itu dengan kalimat-kalimat begini: “Pak, sepenuhnya aku setuju. Namun demikian, bukan satu-satunya jalan kita tempuh lewat perang, penyembelihan, kemiliteran. Kalau keadaan aman, kita justru mendandani ekonomi masyarakat.”

Sejenak mataku melayang ke sekeliling. Tiang-tiang rumahpanggung yang terbuat dari kayu jati yang utuh, dan berwarna coklat-kehitaman. Di sana-sini mulai nampak keropos dimakan rayap. Juga genting yang tanpa langit-langit satupun, sehingga bagian-bagiannya yang pecah mengantarkan sinar-putih panas dari atas. Sedangkan dinding dan lantainya terbikin dari kayu sonokeling yang direkat dengan damar, sebagian dicat murahan (yang sana-sini mulai lecet), sedang rekatan-sambung lainnya diberi ter pekat yang sangat jelaga warnanya. Karena retakan-sambung satu sama lain tak lagi kuat, maka sedikit pemandangan di luar melintas masuk. Misalnya, beberapa warga laskar yang masih muda dan berpakaian kain blacu yang diwenter tak-rata, lisat-lisut tak bersetrika. Nyaris kesemuanya hanya bersenjatakan keris, golok, pedang, dan tombak, seperti pasukan abad silam. Penyandang pistol hanya komandan dan Mbak Wardhani, itu saja. Lagipula pistol pithi yang digayutkan ke sabuk kehijauan itu nampak seperti pistol mainan bocah layaknya. Aku hela nafasku, seraya merasakan kesiur angin di daun-daun trembesi yang tumbuh lekat samping barat rumah tinggal yang jadi markas darurat ini. Nampaknya pohon ini lengket dengan tiang sebelah kulon yang agak rapuh itu. Bayangan suram jatuh pada kening Warga Pasukan yang berbaring malas-malasan di beranda.

“Lantas kaitannya dengan prinsip yang musti dipegang itu…?” demikian aku yang masih tergolong kurcaci, mengajukan timpalan tanya. Maka segera dihincit oleh Wahyudi: “Begini, nak. Prinsip yang mandiri, tak kenal owah gingsir selamanya. Prajurit bisa berlaga di palagan kisruh. Tekadnya, mempertahankan keutuhan wilayah dan kemerdekaan jiwa bangsa. Tapi manakala perangpun berakhir, prajurit bukan lagi memanggul senapan, bukan berkelewang, melainkan menjamah cangkul untuk menggarap tanah. Atau, giat membenahi pendidikan rakyat, membangun sekolah-sekolah, menulis buku-buku pencerdas lingkungan. Kuyakin, di antara kita masih menyoalkan babak-pungkasan-juang, yang samar-samar…”

“Waduuuuh, Pak Wahyudi terlampau cepat berang, nih!” komentar Wardhani sengit. Sebermula, saya sendiri agak kikuk juga berada di garis depan. Lama kelamaan segalanya terbiasa, dan semangat terbangkitkan oleh bau mesiu, bau darah amis. Pada detik-detik menegangkan, syarafku sering terguncang.

“Kepingin buka warung, barangkali?” ucapku bergumam. “Kalau peperangan purna, anak-anak kembali ke dusun, ketrampilan Mbakyu Wardhani akan sangat bermanfaat buat pembangunan desa-desa yang hancur oleh perang ini…”

“Tak jauh dari gagasanku sendiri,” sambutnya kalem, seraya mengenakan selendang pelangi yang pernah disampaikan Letnan Wahyudi sebulan sebelumnya. “Aku ingin mendirikan warung besar, yang dapat menyediakan berbagai kebutuhan wargadusun, terutama obat-obatan, beras, bumbu dapur, dan lain-lain. Kalau mungkin, toko serba ada. Itu yang pertama. Seterusnya, sebuah Koperasi Simpan-Pinjam yang mampu menyumberi dana kepada para pedagang kecil di pedalaman. Sesudah sukses yang kedua, menyusul kubentuk yayasan penampung para bocah yatim-piatu dan mereka yang lahir di luar nikah, atau yang sering dilecehkan sebagai ‘anak haram jadah’ itu. Lalu, Panti Jompo yang memadai, dik.”

“Mulia sekali, Mbakyu,” bisikku terharu. Kulihat Letnan Wahyudi memandang lembut kepada Srikandi muda yang selama setahun lebih menjadi anggota laskar-putri nan gigih. Ia ternyata berhasil membentuk jaringan-jaringan citanya yang khas, yang hanya mungkin lahir dari kematangan jiwa. Tahun-tahun penuh pergolakan yang bersimbah darah, bermandikan airmata, telah dipupusnya dengan bayangan perdamaian yang luhur, yang dibeberkan secara manis sekali.

Mbakyu Wardhani, adakah hari ini kau lagi mengenangkan kembali kancah yang begitu menegangkan, serta mengajak anak-anak manusia membenam di lumpur panas, dengan kehendak sendiri ataupun tidak. Aku hanya heran, mengapa hingga usia meninggalkan puluhan yang kelima, dirimu masih betah menyendiri. Agaknya tak seorang pun perwira medan-juang yang berhasil membakar asmaramu.
Mbakyu Wardhani, jika pena ini kugoreskan, aku masih juga belum menemukan jawaban, kenapa ‘masa bertapa’ masih merimbun merungkut langut.

*) Tanggung jawab penulisan pada PuJa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *