PELATARAN BUDI

KRT. Suryanto Sastroatmodjo

Masa telah makin memanjang, semenjak manusia gemar berakrab dengan binatang. Sepertinya torehan di dada pengembara, jika aku menyentil soal ini. Karena manusia acapkali harus berkiprah tentang muara-muara keberuntungannya, sebelum dia secara telanjang mengetuk pintu dapur rumahnya sendiri, untuk berhutang garam sesendok.

Barangkali, malah bukan berhutang, melainkan mencuri kentang segenggam, buat mengenyangkan perut yang keroncongan. Soalnya, banyak hal berubah; dan manusia merasa malu memasuki istananya sendiri dari arah depan. Dia lebih merasa dihargai, jika menyelinap dari pintu-pintu darurat, atau mendobrak jendela nan terkunci karena hanya hendak mengambil sesuatu yang kurang berarti. Adakalanya juga, karena hendak memasuki kamar pelayannya yang ayu dan masih perawan, untuk mengambil sesuatu yang susah diterangkan di sini. Atau, hanya untuk mencari sepucuk surat dari seseorang, yang begitu pentingnya sehingga disembunyikan oleh isterinya dalam lemari pakaian. Dan karena itulah ia terpaksa mengambilnya dengan cara yang aneh.

Adik Chistina yang rajin membaca!
Alangkah suntuk dan sumuknya dada, jika selama hari-hari kerja ini, kita menjadi robot melulu. Mungkin sekali, kau berkeberatan, jika abangmu ini menyebut demikian. Bukankah tahun ini dikau telah mencoba bekerja di suatu instansi, dengan resiko untuk ‘tercancang-tertemali’ di kursi selama berjam-jam, sehingga rasanya seperti kehilangan kebebasan yang semula dicecap secara leluasa. Akan tetapi, kalau dipikirkan secara luas, pekerjaan yang ditekuni selama jam-jam dan hari-hari, bahkan kemudian bisa mengangkat hargadiri seseorang itu, ternyata sebetulnya awal dari kemuliaan yang tiada terbatas. Tuahnya akan dirasakan oleh beberapa generasi yang terlibat secara tak langsung oleh tokoh-utama dalam kisah ‘tertemali di kursi’ nan menjemukan itu. Andai saya, bisa menjabarkannya, bisa dilukiskan semua itu seperti tembang yang titinadanya sangatlah laras dan mudah dilacak, setelah kita mendengar lengkingan nyanyian waranggana (biduanita Jawa), yang menyampaikan lagu tersebut ke tengah hadirin. Apa yang bisa terdungkap adalah semacam kelugasan dinihari.

Adik Christina yang kusayang.
Karena itu, abang yang dulu menyesalkan, kenapa adik secepat itu mengakhiri studi pada tingkat Sarjana Muda (padahal, masih duatahun yang harus adik jalani menuju tahapan penghabisan, bukan?) – hanya kauhadapi dengan sebuah senyum nan membekaskan lesung di pipimu. Abang juga belum dapat meraba kemauan adik yang sebenarnya, di balik cita-luhur yang diemban. Jadi, abang hanya menyampaikan pesan Ayahbundamu (yang karena tak sempat menyampaikan sendiri secara langsung, meminta tolong padaku untuk mengatakan hal itu padamu). Mereka punya gambaran, kalau studi dituntaskan, hasilnya akan lebih menggembirakan. Menguak cakrawala, karena hendak menyaksikan langit.

“Perempuan terusik oleh rambat-merambatnya umur, Bang,” ungkapmu waktu itu seraya menyisir rambut ponimu ke samping-menyamping. “Kalau seandainya aku peroleh gelar sarjana penuh di usia larut, tentunya akupun hanya beroleh jabatan yang melompong pada kantor yang telah sesak oleh pekerja-pekerja sebaya denganku, dan telah lebih dahulu melamar dengan bermodalkan ijazah SMTA dan Sarjanamudanya.” Lantas, seperti merenungi dini, dan menatap wajah di cermin, dikau bergumam: “Tiba-tiba saja, ketika kusadar telah duapuluhtiga tahun umurku, aku merasa, ada sesuatu yang tanggal dari diriku. Teman-teman sebayaku telah menikah, dan …” Aku mengelus rambutmu waktu itu.

Adik, adikku manis, Christina. Kau meratap dan sesambat – sebagaimana Ayahbundamu memprihatinkan soal itu, sewaktu aku sowan ke tempat tugasnya yang baru, di Bangkok, sebagai Konsul muda di ujung tahun lewat – “Adikmu itu, entahlah, Jang; belum juga punya pandangan yang serasi.” Lalu aku berbisik: “Kalau saja aku adalah pacarmu dulu-dulu, hari ini sudah kusunting.” Seribu sayang, Adikku. Aku sudah terlanjur bilang pada abangmu dan kakak tertua, bahkan di hadapan orangtuamu (kala kita masih bertetangga di Jakarta, tujuh tahun silam!), bahwa Dik Christina tetap akan kuanggap adikku sendiri. Aku toh harus bertahan dengan sikap semacam ini; tandang terpahat lebih cerah.

Adik Christina, yang kukenal sedari kecil.
Orangtuaku memang tergolong konservatif, kendati dia punya pergaulan luas, dan tampil di kalangan yang memujinya sebagai pengusaha yang sukses. Masih ingatkah Christina, duapuluhan tahun silam, waktu kita masih sama-sama cilik? Christina sangat senang dolan ke rumahku, sehingga lekat betul dengan ibu. Maklum, ibu sebenarnya merindukan seorang anak perempuan, setelah kehadiranku. Sayang, aku tiada kakak, tiada adik, ontang-anting, dan karena itu nakal-bengal dan suka mengganggu bocah-bocah di bawahku. Umurku sudah tujuh tahun masa itu, dan telah duduk di kelas satu Sekolah Dasar. Dikau masih berumur duatahunan, dan kalau sampai sore tak pulang-pulang, maka ibuku memandikan dirimu bersama-sama dengan aku (yang masih suka dimandikan di ember besar dekat sumur yang jernih selalu).

Nah, tentu Christina ingat, kita sama-sama telanjang bulat, dan aku malu-malu berdiri dekat tiang sengget yang satu, sementara dikau tertawa-tawa lucu di arah lain. Ibuku dengan penuh kasih sayang menyabuni kita berganti-ganti dan kala itu, masih kuingat katamu seraya menuding kemaluanku: “Aduh, bulungnya Abang Lulu besaaal sekali. Hi, hi, hi, hi. Kenapa aku tak punya burung sepelti Bang Lulu…?” Aku tentusaja kemalu-maluan, seraya mengepit ‘burung’ku di antara paha dan ibu geli karena pertanyaan bocah yang teramat naif. Sungguh, Christina, kenangan yang tiada seberapa itu amatlah lama tersemat di benakku. Hingga aku kemudian bersekolah di kota lain, mondok dan lupa akan pertautan silaturahmi antara keluarga kita.

Adik Christina yang punya tatapan tajam.
Kemudian, kemudian sekali, abangmu yang menjadi dokter datang ke Yogyakarta, dan menemuiku di tempat kost, seraya menceritakan bahwa adiknya yang bungsu: Christina, kini meneruskan kuliah di kota itu. Dia berpesan, kalau ada waktu, datanglah di pondokannya di utara kota, karena adik kebetulan mondok di seorang keluarga dekat dari ibumu. Kujawab, aku banyak waktu luang sore hari; jadi aku siap untuk menjenguk. Bang Rusli juga menitipkan, agar aku ikut mengawasi kuliah sang adik.

Adik Christina.
Haruslah kuceritakan, Bang Lulu-mu ini telah mulai bekerja sejak tingkat dua, dan karena abang bekerja pada sebuah perusahaan suratkabar, maka jadwal-kegiatan abang tak selalu mengikat. Dengan demikian, secara lambat, namun tepat, abang dapatlah juga meneruskan kuliah hingga rampung. Tapi itu tak penting betul untuk kuceritakan. Aku meminta maaf, karena selama ini abang terus datang menemanimu, saban Sabtu petang, untuk berjalan-jalan dan nonton film. Keluarga Santosa, tempat adik mondok, sudah pula menganggapku sebagai anggota keluarga sendiri. Maka tanpa rikuh-rikuh, mereka mempersilahkan abang beberapa kali berbaring (dan tidur) di kamarmu. Malahan, adik Christina nampaknya juga punya anggapan demikian. Bukankah sering, setelah kita pulang nonton, pukul 21.00 malam, abang masih diperkenankan tidur di ranjang (yang adik tiduri). Tak jarang kita berbaring berdua dan bebas seperti pasangan-pasangan yang saling mencintai. Atau, kalau aku habis menjemput adik dari kampus, pukul 15.00 sore, tanpa canggung pula kita berdua mandi bersama, dan sejenak kita melepaskan ketegangan-ketegangan yang mengamuk dalam sukma.

Biasanya sehabis menikmati saat-saat bermesraan yang mengesankan, kulihat adik Christina bobok tenang dan nafasmu teratur sekali. Sesekali abang mengulum puting payudaramu yang lembut dan indah, atau mengecupi bulu-bulu kalong yang biru tipis dekat pusermu, menikmati ketelanjanganmu. Kendati kita tak pernah saling mengucapkan kata-kata sayang dan cinta sehari-hari, akan tetapi pada saat hanyut dalam api asmara, kudengar lembut desismu mengucapkan kepasrahan total, atau diriku sendiri yang berusaha mengajakmu. Atas segala lantunan surgawi itu, kita takkan mungkin melupakannya begitu saja. Tapi, apakah Dik Christina juga siap dan secara sadar mendenyutkan satu kefahaman, bahwa harus ada pertalian lebih kokoh antara kita ini? Atau semua ini hanya fatamorgana yang begitu hanyut, segera meredup di kehampaan?

Adikku, Adik Christina yang tabah.
Lalu, seperti tiba-tiba saja adik memutuskan untuk keluar dari Universitas yang begitu membanggakan itu, untuk memilih pekerjaan sebagai penerjemah di sebuah penerbitan. “Mengapa?” tanyaku waktu kita berbincang di beranda depan rumah keluarga Santosa, seusai kemesraan yang ulang-berulang kita resapi itu. “Mengapa tiba-tiba keluar? Keluargamu masih sanggup mentuntaskan studimu. Atau, kalau adik bersedia, Bang Lulu ini siap membantu apapun yang adik maksudkan. Bagaimanapun, kita harus merintis haridepan sejak kini.” Tanganmu mencuwil pucuk daun kompring di pot porselin merahmuda berhiaskan ularnaga itu. Lampu-duduk menyala dalam temaram, hingga wajahmu murung sekali. “Hilangkah kepercayaanmu terhadap diriku, Dik? Atau adik sudah punya pilihan hati yang lain, yang sanggup menggantikan orang yang siap mendampingimu?”

Dikau memandang sayu, tanpa makna. Lantas temungkul. Aku menelan ludah. Biasanya, tatapanmu yang demikian secepat itu meruntuhkan ketahananku, dan merengkuhmu secara tegap. Tapi malam itu, aku seperti tergagap dan kehilangan arah. Aku bersandar pada kursi goyang seraya menatap langit-langit. Kelana ini terlampau kering jadinya.

“Bolehkah adik mengucapkan sesuatu, yang abang dapat mengomentarinya?” Pasalnya, kemerdekaan batin teramat menuntut.
Silakan, sayangku. Silakan. Itulah yang kutunggu-tunggu selama ini.” Aku menghela nafas. Sungguh menderaslah air merayap.
“Ya, Bang Lulu. Aku harus segera siap mandiri. Itu harus, harus…” Laku mendekatkan temali lonceng dalam wirama sontak.
“Siapa yang mengharuskan? Beberapa tahun lagi, sempurna kesarjanaanmu, Dik.” Ragamhias perjalanan: Hidup pun tersapa.
“Tak perlu selama itu,” tukasmu dengan suara bergetar. Aku bangkit, memandangmu. Pertanda telah merawikan nyanyi yang samadi.
“Katakanlah, Dik. Itu semua perlu abang ketahui. Abang perlu memahaminya.” Seraya merenungkan kembali, di mana coretan merah.

Dikau berdiri seraya memutus tangkai kembang kompring itu. Daun hijautua itu putus, lalu kaugulung dan segera kaulemparkan padaku. Aku juga berdiri kemudian. “Bang Lulu. Aku benar-benar kecewa. Tak kuduga bahwa abang seorang pengecut. Abang ternyata hanya senang mempermainkan wanita!”

“Adikku, kau termakan hasutan orang-orang yang irihati. Ingatlah.”
“Tidak. Aku malahan dapat merasakan sendiri. Dulu, abang berjanji kepada orangtuaku dan saudara-saudaraku, bahwa kau akan tetap menjaga dan mendampingiku hingga aku tamat kuliah. Tapi abang telah mengingkarinya, bukan? Pamrih di hatimu telah mengkoyakkan kesucian prasetya. Kehormatanku telah abang rusak dan tiap saat, abang memperlakukan aku sebagai boneka permainan. Tapi pernahkah abang mengucapkan janji bahwa abang siap bertanggungjawab terhadap masadepanku? Nol, nol besar. Kau tak berbeda dengan lelaki jalanan yang mudah mengucapkan kata-kata muluk, tetapi sepi tanggungjawab…”

“Tapi, tapi, Dik. Kita lakukan semua itu atas dasar kerelaan diri masing-masing. Kita serahkan segalanya tanpa sesalan, bukan? Kita, kita, kita berdua.”
“Ah, aku tak sudi berbicara kasar padamu, Bang. Orang yang kukenal sedari kecil dan kupuja sebagai pelindung. Tapi abang menyianyiakan dan menyalahgunakan kepercayaan itu. Maka, daripada aku harus menyesal untuk keduakalinya, kini aku lebih baik cepat mandiri, punya pekerjaan tetap, berpenghasilan tetap. Dan tak usah menggantungkan hidup pada seorang lelaki.” Menjadi serpihan dari pori-pori kulit denyutan darah.

“Christina, dengar. Dengar! Aku toh siap untuk menerima tanggungjawab itu, kapanpun. Kapanpun kau menuntutku, atau keluargamu memintaku, Dik.” Sekali lagi, dan sekali lagi, menagihnya keras.
Dikau membanting asbak dan benda perak itu tepat mengenai daguku – sedemikian keras, sehingga gusiku berdarah; Aku minta diri. Aku malu! Bahwasanya, manusia bermuara di laut pula!

Adik Christina nan budiman.
Kemesraan pelan-pelan tinggal larutan hitam di mega gompal jauh di angkasa semayup. Yang tinggal hanyalah kuah kopi yang pekat serta pahit. Kalau kau kini duduk menekuni pekerjaan di kantormu yang modern serta tenang, kuharap sejenak kaukenang segala yang pernah kita alami. Kalau adik kini tertemali di kursi, dan hal itu kaurasa lebih tepat katimbang segera menyelesaikan studi tahap-akhir, baiklah. Kuhormati tekad-bijak seorang gadis yang memilih jalan sendiri, yang dianggapnya lebih terhormat. Akhirnya bakal menggulir sendi pelayaran musim bunga.

Kuakui, aku pengecut, dik. Sangat hina di matamu, bukan? Secara jujur, kukatakan bahwa selama aku berhubungan dengan Dik Christina dulu, sebetulnya aku sudah berkeluarga di kampung-kelahiranku, atas dorongan orangtua; dan memang aku sudah punya seorang anak yang berumur setahun. Aku merasa tersudut dan karena itu aku kejar Dik Christina, karena aku merasa, cinta kita tebal-mengental, hingga kelestarian lebih akan terpatri nanti. Maafkanlah, adik. Boleh-jadi seorang teman sekerjaku membocorkan kenyataan itu, dan adik merasa bahwa aku telah berbohong, mendustai, mempermainkanmu.

Tapi apapun masalahnya, aku tetap hormat dan setia padamu. Tulus tak ternoda oleh apapun. Abang juga masih tetap akan sowan kepada Ayahbundamu untuk sesuatu yang lebih luhur katimbang hanya oleh coklekan kasih yang patah. Tidak, adikku. Aku bukan mengucapkan selamat tinggal, melainkan selamat, selamat dan … selamat jumpa. Siapa tahu, pengampunan tiba kelak, dan kita jumpa kembali dengan hati yang lebih gumolong, lebih resik, tanpa pamrih yang keruh!

*) Tanggung jawab penulisan pada PuJa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *