Balada-Balada, Suryanto Sastroatmodjo

http://pembebasan-sastra.blogspot.com/

BALADA BIANGLALA

I
Tarian tanah gamping di celup suntukku
O, derap kajian ufuk
Menjenguk setugal malam. Pelatuk sangsi ke situ

Dan adalah rengkuhan pundak
Malahan ada yang silam berkepundan
pabila bukit boyong ke pedalaman
dan para dalang, mengulir blencong

II
Terpasrah lagu-laguan masyuk
namun lengkup lengkapan pengantin
Sebut juring-juring Kyai dan Nyai Puring
yang menapak perantauan desa Kuning

Adapun salamnya ternyunyuk lelatu
yaris pada kobaran birahi
dengan sontak ditelampak

III
Terang bagai manikmata pencelang
aku merogoh lambung lubuk
lantas bicara bahwa ada cuaca kuyup

Maka adalah merdunya kidung
seonggop pangestu bundakandung
Wahai, jalan setapak ini adalah goresanku!

IV
Meski usia muda bukan pelengkap derita
adakah dikau menggalang siksa
dalam peantian kisruh tanpa nada?

Watak ‘lah dilambuk bencah sawah
padahal tiap jengkal gesang ugahari
adalah juga sejelang jurubicara
O, aku sendiri menistai Kyai-Nyai Puring
dan memerankan Jaka Landrang nan gempal

V
Sampai akhirnya kutemuka benua baru
bukan dalam lelatu. Bukan pendaman justa leluhur
Bukan siapa pun. Cuma gelegak rerasan bergeboyar

Lantas para jiran mengusap tangis
Desa Kuning mengucap selamat tinggal
bagi Jaka Ladrang yang raib
dari haribaan kadang-karuh.

BALADA KEPOPONGAN

I
Sangsi menggejala pada rompak-rompak tua
kala mentari lingsir. Dada gumingsir
lantaran mewarta jlentreh dongengan lenggang

Sontak dia menyebut nama Siti Rohmah
o, sanjungan mimpi berhalimun
Di saat terawang perjaka ada di landasan tiara
dan semangat pun mencucuk-cucuk seroja

II
Barangkali langit membara masih
Dan dari sana daku menyeret tangisnya
Siti Rohmah di pigura manis:
jentera asihku, asihmu
ke gaung lonceng purba. Kumandang senja!

Dan rangkuman bocah tanpa bapa
adakah dikau mengucapkan doa rela
dengan acungan rindu, tapi lekat serapah?

III
Kipas kerinduan duka kampung
Usap-usapkan pada puting beliung
Bila sore tiba dan kubaca lakon Siti Rohmah
Kar’na adanya layar dan laut, di puser-puser jelita

Kelemari lengkap menyergap pekat. Dinding-dinding kita
memperangkap para penyerbu mahligai kaca
o, alangkah pepak hidup yang mengerjap

IV
Seiring langkah burung. Tangis margasatwa liwung
Aku kawal mendung pelaminan
Akhirnya ladang cengkar jadi jawabannya

Telunjuk lurus pada belita n kasih Siti Rohmah
adalah pagut ulang-kelahiran. Diam menyepak
sarat-hari berpeluang masih. Senja pun bercendawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *