DUNIA GILA KEHIDUPAN GELANDANGAN

Maman S. Mahayana*)
http://mahayana-mahadewa.com/

Joni Ariadinata, Kali Mati (Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1999) vi + 164 hlm.

Dunia sastra adalah dunia yang seba mungkin. Dan keserbamungkinan ini lahir dari sebuah proses penjelajahan imajinasi. Mengingat penjelajahan imajinasi dapat mene-robos dimensi ruang dan waktu, maka dunia sastra boleh jadi bolak-balik antara masa lalu, kini, dan masa datang; atau ia juga dapat menclak-menclok dari ruang yang satu ke ruang yang lain. Bahwa kemudian penjelajahan imajinatif itu terkesan terbata-bata, jum-palitan, atau ngalor-ngidul dan semrawut, persoalannya terletak pada sarana ekspresinya yang sangat terbatas dan tidak dapat mewakili secara sempurna kegelisahan pikiran dan perasaan seseorang. Bahasa sebagai sarana ekspresi, ternyata tidak mampu mengungkap-kan keliaran imajinasi. Inilah yang terjadi dalam antologi Kali Mati karya Joni Ariadinata.

Ada 15 cerpen yang terkumpul dalam antologi ini. Dan semuanya mengungkap-kan gambaran, betapa keliaran imajinasi yang coba diekspresikan lewat bahasa, nyaris membuat kita ikut jumpalitan. Memang ada logika formal yang hendak diselusupkan la-tar cerita dan ungkapan para tokoh yang digambarkannya, tetapi kemudian logika formal itu menjadi mubazir, lantaran imajinasi memang tidak tunduk pada logika. Akibatnya, tata bahasa, urutan sintaksis, kosa kata baku, benar-benar dibuat berantakan. Luar biasa!

Inilah antologi cerpen yang paling kurang ajar dalam memperlakukan bahasa. Tidak cuma itu, majas atau gaya bahasa yang selama ini kita kenal dalam buku pelajaran, ikut dibuat kocar-kacir dan ngawur. Tetapi justru dengan cara itu, Joni sesungguhnya hendak memotret problem sosial kita yang memang serba ngawur dan amburadul. Sebuah potret acakadul yang banyak kita jumpai dalam kehidupan para gelandangan, orang gendeng, sableng, gemblung. Itulah tema yang mendominasi antologi cerpen ini.

Secara tematis, Joni bukanlah orang pertama yang mengangkat kehidupan dunia kere. Muhammad Ali dalam Gerhana mengangkat kere perkotaan dalam berhadapan de-ngan keserakahan orang-orang kaya. Jika tidak, Ali membalurinya dengan akhir yang tra-gis. Ahmad Tohari dalam Senyum Karyamin dan Nyanyian Malam, mengangkat wong cilik pedesaan. Meskipun keduanya memperlihatkan cara bertutur yang berbeda, keberpihakan pada wong cilik tampak jelas melatari sikap kepengarangannya.

Dalam konteks itu, sikap kepengarangan Joni tidak wujud dalam bentuk berpihak, melainkan dalam amuk terhadap nasib yang terus dikungkungi kesengsaraan abadi, keke-rean, dan tragikal yang lengket menempel gelandangan dan dunia gila orang-orang yang ternistakan. Lalu bahasa macam apa yang diperlukan untuk mengungkapkan dunia gila yang seperti itu? Pentingkah logika untuk menjelaskannya? Di sinilah bahasa manusia tak mampu mewadahi lompatan-lompatan pikiran; logika gagal merumuskan realitas. Akibat-nya, dapat dipahami jika yang muncul kemudian adalah pembebasan sintaksis dan pembe-lotan atas kosa kata baku.

Pilihan tema dan gaya yang diambil Joni, memang memberi peluang baginya un-tuk mengumbar imajinasinya secara liar dan bebas. Juga membuka kemungkinan kebe-basan berkreasinya dapat dimanfaatkan secara maksimal. Akibatnya, ia juga dapat sekali-gus membangun dunia orang-orang gelandangannya tanpa beban, yang kadang kala jus-tru mengesankan ekspresi kreatifnya, dalam beberapa cerpen, menyerupai puisi.

Meskipun demikian, perlu diingat bahwa ekspresi apapun yang tertuang dalam teks, perlu dicurigai punya makna. Siasat untuk mengecoh pembaca mesti ditempatkan dalam kerangka interpretasi. Oleh karena itu pula, setiap tanda apapun, mesti punya kon-tribusi bagi bangunan teks itu sendiri. Ia mesti menjadi bagian integral dalam keterkaitan-nya dengan unsur lain dalam sebuah wacana. Tanpa adanya sinyal yang memperlihatkan keterkaitan itu, masih patut jika kita menyebutnya sekadar main-main. Inilah yang terjadi pada cerpen “Dardanela” (hlm. 105–114).

Sembilan alinea pertama cerpen itu, ditulis dalam ejaan van Ophuijsen. Tetapi aneh, logatnya sama dengan bahasa Indonesia sekarang. Memang tidak ada hubungannya dengan soal logika. Meski begitu, sastra juga tidak terlepas dari persoalan wawasan. Jadi, jika ia hendak menggambarkan masa lalu (sebelum Indonesia merdeka), ia mestinya juga memantulkan potret zamannya. Jika tidak demikian, apa maknanya ejaan van Ophuijsen digunakan di sana, apabila ia tidak mendukung dan tak berkaitan dengan makna yang hendak disampaikan wacana bersangkutan, kecuali sekadar untuk “main-main”.

Persoalannya sangat berbeda dengan pilihan tema dan gaya yang digunakannya. Dalam perjalanan cerpen Indonesia, tema dan gaya dalam antologi ini, sungguh khas, meskipun sebelum itu, dengan gaya dan ragam yang agak berbeda, Arifin C. Noer, per-nah pula menggarapnya. Oleh karena itu, kehadiran antologi ini bolehlah dikatakan meru-pakan sumbangan penting dalam memperkaya khazanah cerpen Indonesia.

Gaya bahasa (style) memang sering kali berurusan dengan tema, atau sebaliknya, tema terpaksa mesti disaranai oleh style. Tidak sedikit karya sastra yang jatuh pada ku-bangan, hanya lantaran tidak memperhatikan persoalan “remeh-temeh” seperti itu. Bahwa Joni telah memilih tema kehidupan kaum papa, niscaya itu merupakan pilihan yang tidak main-main. Kita tentu saja amat menghargai pilihannya. Namun, persoalannya lain jika lalu ia membelot pada tema yang menjadi pilihannya itu. Maka, musibah pun terjadilah.

Cerpen “Sampah Tuhan” (hlm. 66–78) yang mengangkat sepak terjang dan per-debatan estetik seorang pelukis dengan Profesor Babir, misalnya, justru terkesan nyinyir dan sok tahu, manakala persoalannya menyentuh dunia yang sesungguhnya asing bagi pengarangnya sendiri. Betul ada eksploitasi wong kere di sana. Namun, penderitaannya justru tidak begitu menonjol, lantaran persoalannya lebih banyak menyorot pada sepak terjang pelukis dan profesor tadi. Boleh jadi, gregetnya akan sangat lain, jika kehidupan tokoh Siti Sapi yang diplintir dan digali secara maksimal, sebagaimana yang dilakukan-nya dalam cerpen-cerpen lainnya.

Kasus yang sama juga terjadi pada cerpen “Jelatang Bundar”. Lompatan-lompat-an pikiran para tokohnya yang modar-mandir dari masa kini ke masa lalu yang pada awalnya cukup meyakinkan –lantaran kesemrawutannya, seolah-olah jadi mubazir mana-kala ada latar kehidupan mewah menimpalinya. Akibatnya, penataan peristiwa yang di-alami para tokohnya, jadi terasa hambar.

Satu cerpen lagi, ”Indonesia” hadir dengan beberapa hingar dan tentu saja itu agak mengganggu. Tokoh Karti yang gemblung dengan latar kehidupan jalanan, pada awalnya cukup memukau. Tetapi ujaran-ujarannya yang tidak berantakan dan ngawur, malah jadi menimbulkan pertanyaan. Adakah wong gemblung menyadari dirinya gem-blung, sehingga ujarannya harus digemblung-gemblungkan? Dalam konteks ini, Joni agaknya perlu menyimak Luxun (“Catatan Harian Seorang Gila”), Iwan Simatupang (“Lebih Hitam dari Hitam”) atau Ahmad Tohari (“Wangon Jatilawang”).
***

Terlepas dari persoalan-persoalan itu, secara keseluruhan antologi Kali Mati sungguh memberi banyak janji. Ia hadir dengan kekhasannya tentang gembel dan orang-orang tergusur di perkotaan. Tema ini menjadi begitu “gila” karena gaya bahasa dan kosa kata yang digunakannya serba “gila”. Dan ini didukung oleh kemarahan dan kesumatnya pada nasib busuk orang-orang “comberan”. Maka sempurnalah penderitaan mereka.

Jika tema dan gaya ini secara konsisten digarap terus secara serius, niscaya dari tangannya, kita tinggal menunggu lahirnya karya yang lebih cerdas yang mengungkap kemiskinan gembel Indonesia yang tidak ada duanya. Dan “Kali Mati” telah memper-lihatkan kecerdasan itu sebagai sebuah monumen!

*) Maman S. Mahayana, Pengajar FSUI, Depok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *