KEGILAAN VINCENT VAN GOGH

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=87

?dengan keluguannya, wanita juga bisa indah? (Van Gogh).

I. Sejarah cat
(I) Dunia berwarna-warni,
malam-siang, senja dan fajar,
menoreh menghampar memeluk langit;
kelelawar, burung gagak, menjelma sejarah.

(II) Tari-tarian tajam cat menghunus,
serupa kematangan tubuh-gemulai bidadari;
matahari itu disergap bala tentara mendung,
berderap kaki-kaki kepada hari-hari kematian.

(III) Cat melukai tubuh kanvas, cair kental amarah,
itulah darah mengucur, dari dalam jasad bergolak keras.

(IV) Di sini tempat kesintingan diatur,
wewarna dunia, tak lagi memuaskan mata,
kata-kata, tak satu pun kenyangkan telinga;
dipotong zaman tiada mengagungkan karya,
lantas keindahan tersungkur di kubangan purba.

(V) Palet mengingkari cat, khianat merobek kanvas;
hati penuh luka, tanpa asam cuka tiada warna perasaan.

(VI) Seperti toak bersanggup memabukkan galaksi;
menjungkir-balikkan planet, susah-payah gila,
tak memberikan kesegaran.

(VII) Kala nenek moyang, belum mengenal warna,
pahatan di dinding gua, dalam nan dangkal cahayanya;
mengalir melewati sungai legenda, dan banjir air mata
mencipta keheningan, menambah puncak semedinya.

(VIII) Cahaya-warna penghiasi dunia,
unsur-unsurnya menemui jagad sunyi.
Segala aliran ke muara; ?mereka saling bercerita,
bertemu luapan laut, padat berkeringat garam.?

(IX) Pada ruangan sempit,
berseliweran udara mencipta warna,
aromanya tak terpaku masa-masa.

(X) Pandangan dijauhkan, coraknya tersembunyi,
menyetubuhi kebebasan menerka,
dengan partikel galaksi cahaya rasa.

(XI) Serupa panggilan;
warna kematian diawal musim kerinduan,
menapaki tanah lempung, pasir berbencah,
alunan lagu menggapai mimpi-mimpi rindu.

(XII) Van Gogh; ?musim anak-anak,
membentuk lempung mencipta boneka.?
Gundukan pasir menjadikan bangunan,
dan dunia tercipta atas orang-orang setia.

(XIII) Malam-siang berkumpul,
memberi paras lain bagi kembara sejarah;
menguliti kanvas hati, kuas takdir tergerak lincah.
Hanya sang gila, yang sanggup mengaduk perasaan,
tubuh berjumpa maya pada alamat bersila,
lalu malam purnama menerangi rawa-rawa,
teratai bermekaran dalam dada.

(XIV) Siapa menghabiskan warna menjadi yang utama,
sepadan kata pujangga; derita pena pada hitamnya tinta.
Kertas-kertas persembahan, serpihan kabut bersayap,
bau dupa ciumilah, sebelum kau kehabisan usia.?

(XV) Wewaktu menjelajah sewarna pemberani,
serupa debu-debu halus terbang ke kelopak mata;
atau sepyuran airmata, atas kupasan bawang merah.

(XVI) Kali memandang karya bergetarlah tanda,
sempurna gila pada warna komposisi keblinger
menyesatkan penikmat, yang tak mereka-reka.

(XVII) Ia dahaga menceburkan diri,
bermandian cat menyetubuhi musim kemarau,
melukis kesakitan dunia subyek, bergentayangan
momok rindu pujangga, bagi anak-anak jamannya.

(XVIII) Sesak berjubel warna menghentikan permainan,
berbaring antara karya, terpejam bermimpi cat seluruh;
tubuh-tubuh dicabik palet, kuas dilempar pada kanvas,
tersempal-menggelantung, mencari selubung tulang.

II. Pernikahan Van Gogh
(I) Keluguanmu mempelanting hingga setuju,
tak menjadikan obyek seluruh;
lukisan tak sempurna memberikan kematangan,
kau keganjilan sungsang, pemotong harapan.

(II) Hati berdebar tiada pernah usai menunggu,
kau cemas merindu, wewarna langit senja menderu.

(III) Petang menyeretku tenggelam di malam-malam,
pada keranjang bunga busuk, wanita luka terobati kuluman
bibir mawar hitam; selembut salep borok masa kan datang.

(IV) Hari-hari kesakitan juga bahagia;
memandangi karya menikmati dengan mata gelisa,
mendung bergerimis lalu, kepada ruh-ruh kegilaan biru.

(V) Ia campakkan jubah pengganggu, tubuh petapa
menjelma kuas di kanvas menyatu; campur-aduk dalam
dada, tumpah aroma derita, sedari budhi pekerti semu.

(VI) Pada bukit matahari, menunggu tubuh terbakar,
malam-malam merangkum dingin mengambili kembang;
ini lukisan masa-masa sebelum puas melerai,
meninggalkan kering waktu penghakiman.

(VII) Sendiri jiwa beku, sebatang lilin tak diciumi nyala api;
derita telinga menjelma lukisan, lantas mereka gila perhatikan.

(VIII) Hawa panas berenangan di kedalaman,
daya sempit angin timur-barat menampar muka;
aku telanjang kekasih, demi hidup memuaskanmu,
lantas nafas-nafas nyawa penikmat, atas perhatianmu.

(IX) Perkawinan menyakitkan, takkan mudah terlepas,
kekasih lukisan-lukisannya habis, dan penipuan lebih seronok,
awan-gemawan bercerita kucuran darah padat masa kan datang.

(X) Derita panjang membayar penuh sayang;
ia sedang berkubang, menggedor retakan tanah,
demi kecintaan kepada mereka, rindu kegilaan.

(XI) Pasir pesisir berserakan di wajah senja,
campakkan dirinya pada tepian samudera rasa;
begitu ia membangun dunia, hampir akhir di gubuk reot,
dan debu-debu jatuh ke lantai, dari langit semakin rapuh.

III. Potret Diri Van Gogh
(I) Di kanvas sakit,
cat sejarah nenek moyang menderapkan kematian,
mendekat-leka masa-masa muda di akhir hidupmu;
ialah laki-laki sekarat, antara bahagia warna gemerlap.

(II) Ia terseret dalam alunan pusaran kesadaran,
rasa tegak lurus menghidupkan beku terpotong naas;
Siapakah yang berani menerima dengan tegas?

(III) Melukis terus berharap bayangannya jauh
di belakang kematian, sayap-sayapnya menuju impian;
ia bangun bertahun-tahun, langit tak menentu lapisannya.
Kata Van Gogh; ?kupampang wajah, kugantung berpaku
dengan jendela bulan, dan genting kaca sebagai matahari.?

(IV) Siang menguras keringat, sadar gila berkarya,
seperti masa keremajaan bodoh dalam jeruji kecewa;
waktu-waktu berbingkai lukisan bagi cakrawala jiwa,
dan kelak, para pelajar menjenguk kamar bersejarah.

(V) Dengan mantap kugambar wajah paling tampan
di antara potret diri; ?akulah Van Gogh menghantuimu.
Mimpi, itulah alamku sesudah kematian, dan tulisan ini,
membimbing tuan mencapai kerajaan jiwaku.?

(VI) Degup jantung bergetaran; ?lihatlah gambarku,
wewarna kugunakan mengikutnya, dan anak-anakkannya
mendukungku dalam setiap jaman. Lukisanku terpampang
pada dinding-dinding kesaksian.?

(VII) Aku bergoyang sakit dalam permainan warna;
ketololan, itulah kecerdasanku laksana pedang berkarat,
kebahagiaan tiada tara, melingkar-dempul sakit mengabad,
persekutuan wewarna catku, kepada kanvas-kanvas mereka.?

(VIII) ?Oh, pernah kulempar potret diri itu tersenyum,
lantas kuambil, kutempel pada dinding langit kamarku.
Setiap tamu datang ke rumah, pulang membawa tawa,
pun sama dendam rindu menghunus, pada lukisan itu
yang tetap bergolak, bersama kawan-kawan mudaku.?

IV. Kematian Van Gogh
(I) Gerbang langit terbuka, tanah retak menganga;
tak menghindari masuk dalam keranda,
tak dibawa apa yang dicinta,
tak ditemani apa yang dibenci.

(II) Tidur bersama kidungan serangga, harum kering
kemboja; tangisan sesal, tertinggal melobangi tubuh-jiwa.

(III) Di atas langit nan resah,
jangan-jangan diseret demi menuruni jalan hidup kembali.

(IV) Usungan keranda yang lalu ia tersenyum;
para malaikat mencubit pipi, katanya,
bidadari menjemput cium, persoalannya.

(V) Kematian tak menentu, sepi dari keramaian spekulan.

(VI) Dirasakan tentram, dalam lingkup lemah kelahiran,
kesegaran dari sesuatu, setelah sakit menuwai purnama.

(VII) Beginilah, bidadari mengelilingi perjamuan tak
butuhkan waktu, semua berjalan penuh warna biru;
tak dihirau malam-siang seluruh tampak murni.
Lukisan abad silam nan mendatang terpampang
dalam istirahku kata mereka, aku telah terpejam.

(VIII) Di sini bayu berwarna, menelusup di dedahan awan,
dan warna bunga-bunga tak sama, ini jelas lebih punya nafas.

(IX) Van Gogh menandaskan kalimah;
?kegilaan tak seharusnya penuh, andaipun perasaan meluber
pada warna berbeda. Sedang kepurnaan hayat dalam kematian.
Bersamaan ini,
kutinggalkan sketsa-sketsa kasar yang terpenggal.?

———————-
5 Oktober 2000, Eska di dekat GajahWong.
*) Pengelana asal Lamongan, JaTim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *