Negara Ini Memang Butuh Pemuda….

Bernando J. Sujibto
http://darisebuahsudut.blogspot.com/

Benar. Negara ini memang butuh pemuda untuk maju dan sehat dalam setiap mekanisme yang dijalaninya. Saya bukan hendak mengatakan kalau pemimpin masa depan Indonesia harus di tangan generasi muda. Tapi yang jelas spirit muda di tubuh yang muda pula akan cepat dirasakan perubahannya dalam setiap denyut kehidupan ini. Hal itu tidak dapat terhindarkan karena peran pemuda telah menjadi sejarah terpenting sejak awal Indonesia berdiri.

Sejak era Soekarno berakhir kendali pemerintahan Indonesia di bawah penguasa lima presiden sejak rezim Orde Baru hingga Susolo B. Yudhoyono telah dilakoni oleh kaum tua. Soeharto maju menjadi presiden dalam usia 57 tahun, Habibie , Gus Dur , Megawati , SBY . Mekanisme kenegaraan yang dipegang kaum tua selama hampir setengah abad lamanya telah menunjukkan gejala apatis. Arena pemerintahan pun menjadi tempat paling ‘basah’ untuk mempertahankan kekuatan absolutisme kekuasaan yang terselubung d bawah “rezim tua”. Sehingga proses regenerasi di negeri ini begitu buruk dalam catatan sejarah karena kenyataannya dalam kurun setengah abad kaum muda memang sengaja dibatasi aksesnya.

Sekarang kita bisa melihat secara kritis apa saja capaian yang ditunjukkan para kaum tua sejak Orba berkuasa hingga Susilo Bambang Yudhoyono saat ini. Kebijakan, citra dan gaya pemerintah, dan segala macam mekanisme birokrasi yang dipraktikkan sejauh ini masih tidak jauh beda. Mereka menganut sistem lama yang berselingkuh di bawah birokrasi yang tidak sehat, apriori, dan jelas apatis terhadap perkembangan yang terjadi. Sehingga saat ini bangsa dan negara Indonesia perlu mereformasi total sistem birokrasi gaya lama dan para birokratnya yang tidak mempunyai proyeksi progresif bagi kemajuan dan kesejahteraan negara ini ke depan.

Satu hal tidak boleh dilupakan sebagai fakta sejarah yang teramat penting pada masa awal kemerdekaan Indonesia. Bangsa ini dapat terbebas dari kolonialisme karena berkat tekad bulad para pemuda yang mempunyai proyeksi jernih bagi masa depan negara yang sejahtera dan berdaulat. Sehingga Soekarno, Sjahrir, dan Hatta mengambil inisiatif atas kemerdekaan negeri ini. Dan bisa dibuktikan kejeniusan mereka dalam menyusun strategic-goal design bagi nakhoda Indonesia pertama. Semua itu tidak bisa dilepaskan dengan usia mereka yang masih berdarah segar sebagai generasi pemuda yang aktif, prioneer dan strategis.

Dalam sejarah dunia, generasi muda memang telah mencatatkan sejarah tersendiri dan tidak diragukan lagi. Salah satu buktinya adalah sosok Fidel Castro, sang revolusioner Kuba, yang menjadi pemimpin dalam usia 33 tahun setelah menumpaskan rezim otoritarianisme Batista. Castro telah membuktikan bisa menggerakkan semua lapisan masyarakat secara masif dan agresif untuk mengkudeta rezim meliter yang kejam.

Begitulah ciri agresifitas gerakan generasi muda yang tidak bisa dihindarkan—aktif, taktis, dan progresif. Dalam konteks Indonesia, sebuah negara yang terjerat dalam persoalan berlapis dan kronis selama bertahun-tahun, pemimpin yang mempunyai visi taktis dan progserif adalah suatu keniscayaan. Indonesia membutuhkan corak pemimpin seperti di atas demi mengembalikan spirit kesejahteraan dan kedaulatan bagi bangsa dan negana Indonesia tanpa terkecuali.

Kini saatnya kaum muda memimpin demi cita-cita luhur bangsa dan negara Indonesia. Semua kepercayaan harus disandarkan kepada generasi terbaik bangsa ini yang hendak membuktikan diri sebagai founding father kedua bagi Indonesia yang bisa menyelesaikan persoalan bangsa yang pelik dan kompleks. Karena tanpa ada tekad perubahan yang segar dan progresif yang berdasarkan kepada kondisi bangsa dana negara secara universal lapangan, kesejahteraan dan kedaulatan Indonesia tidak akan tercapai.

Mengiringi mereka (generasi muda terbaik) yang hendak mempersembahkan perubahan bagi Indonesia, kami generasi muda bangsa, para mahasiswa, mengucapkan selamat berjuang. Buktikan, bung!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *