Nyanyian Matahari

Hudan Hidayat
korantempo.com

Saat Tuhan sembunyi dalam dunia yang berteka-teki, manusia melayani teka-teki Tuhan dengan kesadaran yang membelah dirinya: ia menghidupkan hatinya dan mengembangkan akalnya. Dengan akalnya ia mengolah dunia empirik. Dengan hatinya ia mengolah iman. Begitulah dua kesadaran yang membelah dunia. Sampai kesadaran itu memisahkan dirinya: menjadi sepenuhnya akal. Dan orang pun sampai pada atheisme.

Tapi atheisme tak bisa utuh. Orang memberontak pada Tuhan, tapi tak punya jawaban tuntas tentang dunia tanpa Tuhan. Kemana pun ia memandang, akan tertumbuk pada bayang-bayang Tuhan. Ia bisa mewacanakan menolak Tuhan, tapi jejak Tuhan tetap dalam dunia, dan sang atheis terperangkap di dalamnya.

Sang atheis yang tak hendak menyerah, hanya bisa membuat jejak “yang bukan Tuhan”, dan itulah saat orang-orang menyeru Tuhan dengan nama-nama lain. Seperti yang ditunjukkan Goenawan Mohamad dalam esainya, “Tentang Atheisme dan Tuhan yang Tak Harus Ada”. Karena, “Tuhan… akan selamanya berhubungan dengan benda-benda.”

Jejak yang bukan Tuhan itu, atau saat orang menyeru Tuhan dengan nama lain itu, dimainkan dengan istimewa oleh Albert Camus dalam novelnya Orang Asing, yang memasang “matahari” sebagai lambang penyebab kemalangan yang menimpa tokohnya, Meursault, yang tak percaya pada Tuhan, dan menunjuk pada matahari untuk alasan mengapa ia membunuh sang Arab.

Bila Tuhan membuat teka-teki ke dalam dunia benda, ke dalam nilai dan tujuannya, yang telah ditolak karena “ketaknyataannya” oleh sang atheis, maka manusia membalas teka-teki Tuhan ke dalam ciptaan (novel) yang tak kurang berteka-tekinya.

Inilah yang dilakukan Camus dengan Orang Asing, dengan menciptakan tokoh Meursault, yang jiwanya seolah sebuah gua dengan lorong-lorong yang tak terduga. Seolah Camus, dengan teka-teki jiwa tokohnya, meniru “Tuhan” dengan kerja-Nya yang rahasia mencipta semesta dengan lekuk dan misterinya. Seolah ia hendak berkata, “Kau menciptakan dunia yang absurd. Aku pun menciptakan manusia yang absurd. Kita sama, Tuhanku.”

Absurditas tokoh ciptaan Camus bukanlah ide yang dibentang dalam pemikiran diskursif (seperti dalam bukunya Mite Sisipus), tapi dikemas dalam cerita yang teknik penceritaannya menjaga ruang dari seorang Meursault yang sukar diduga tindak-tanduknya.

Meursault adalah repsentasi Camus tentang dunia yang penuh tafsir, di mana novel berisi jawaban menggantung, yang menjadi tipikal novel ini. Dalam tiap peristiwa yang dialami Meursault, ia membuat pelukisan yang tak hendak memfinalkan situasi (jawaban dan alasan yang sudah diketahui). Selalu dia menciptakan ruang bagi ketakjelasan, meskipun persoalan yang mengemuka tampak sederhana.

Orang Asing adalah paradoks dari anasir-anasir dunia. Dari kontradiksi Tuhan yang memberikan kehidupan tapi sekaligus Tuhan yang mencabut kehidupan, yang dilambangkan Camus sebagai “matahari” yang membuat Meursault hidup tetapi sekaligus membunuhnya.

Dan, Camus yang memberontak menyadari paradoks dan kontradiksi itu, melawannya dengan menembakkan pistolnya ke dalam tubuh yang telah terjatuh oleh tembakan pertama.

Bila pada tembakan pertama matahari menjadi sebuah argumen, maka tembakan selanjutnya kita tidak lagi melihat alasan. Yang tampil hanya sebuah pernyataan tanpa muatan (Lalu, aku menembak lagi empat kali pada tubuh yang tidak bergerak…).

Saya tergoda untuk menafsir, bahwa tembakkan selanjutnya memang bukan untuk membunuh. Pistol itu diledakkan bukan untuk apa-apa. Pistol itu diledakkan untuk menunjukkan sebuah keburaman dari nasib yang menimpa manusia: ketakmengertian akan ke mana hidup ini.

Camus meramu “ketakmengertian” itu ke dalam sebuah keruwetan psikologi yang sukar dicari dasar-dasar logisnya: mengapa Meursault menembakkan pistol itu kembali.

Tapi, pistol itu telah ditembakkan. Dan, dengan menembakkan pistol, seolah Camus ingin mengatakan, “Lihat Tuhanku, hidup-Mu tak bisa dimengerti. Maka aku membalas-Mu dengan cara menembak seperti ini.”

Ruang bagi ketakjelasan dalam Orang Asing ini mencapai puncaknya saat Meursault menghadapi situasi “sakratulmaut” bagi dirinya. Itulah saat ia harus membela diri di hadapan pengadilan, saat di mana dia menerima kemarahan dan limpahan kasih sayang. (“Aku merasa betapa orang-orang itu begitu membenciku” berselang-seling dengan “Itulah untuk pertama kalinya aku ingin memeluk seorang lelaki dalam hidupku”.)

Meursault, sebagai tokoh (novel) yang dipasang untuk memberontak melawan Tuhan, mengerjakan misi yang diembannya dengan sebaik-baiknya. Ia pun “membongkar” ketakjelasan dunia dengan menampilkan laku yang sukar dimengerti dari perasaan dan jalan pikirannya sebagai manusia. Sebagai lambang bagi absurditas dari kehidupan yang ditimpakan pada manusia. Yang telah dilawannya atau harus dilawannya. Dengan membalasnya ke dalam laku yang membuat otoritas sidang penasaran (Saya tidak mengerti dengan cara Anda membela diri). Dan ketika diberi kesempatan terakhir menjawab, dengan konyol ia mengatakan, “Itu karena matahari”.

Maka sempurnalah absurditas itu. Absurditas dari dunia. Absurditas dari dalam diri manusia. Kesempurnaan yang harus dibayar dengan kepala yang dipenggal dari sebuah kehendak untuk memberontak terhadap Tuhan.

Sebuah pemberontakan telah dilancarkan, atau sebuah penolakan terhadap absurditas telah dilakukan. Maka, apa lagi yang tersisa?

Tidak ada yang tersisa dalam dunia hampa nilai seperti itu (setelah Tuhan ditolak). Tidak ada sesuatu pun yang penting, kata Meursault (kata yang berulang ia ucapkan). Kecuali menjalani hidup secara iseng, yang di dalam novel digambarkan dengan kata-kata “Yok kita pergi ke sana” untuk sebuah ajakan teman kerja yang ingin naik ke dalam truk terbuka (seolah kanak-kanak yang iseng), dan sang Meursault yang baru saja kehilangan ibunya telah berlari mengejar truk itu.

Atau, ia mengamati detail-detail lucu dari kehidupan (persidangan) yang telah atau sedang menjeratnya sebagai manusia terhukum–yang dalam novel digambarkan dirinya seolah penumpang sebuah trem di mana semua mata memandang kepadanya untuk mencari hal-hal lucu darinya. Tapi segera disadarinya posisinya sebenarnya. (“Aku tahu itu pikiran yang tolol, karena di tempat ini bukan hal yang lucu yang mereka cari, tapi kejahatan.”)

Atau, ia menikmati kekinian dalam hidup yang bersatu dengan alam–yang tampil sebagai bau laut dan warna langit, yang begitu indah dilukiskannya saat harus berjuang melawan kesepian di dalam penjara (“…Aku hidup dalam sebatang pohon dan aku akan menunggu awan-awan dan burung-burung bertemu.”)

Tidak ada apa-apa kecuali menunggu saat-saat kematian sebagai nasib manusia yang terhukum itu. Meresapi masa kini dari sebuah kehidupan biasa yang bersahaja. Juga memanggil masa lalu pada saat kekinian, dan itulah yang dikerjakan Meursault saat nasibnya sebagai sang terhukum tinggal menunggu detik-detik kematiannya.

“Aku diserbu oleh kenang-kenangan sebuah kehidupan yang bukan lagi milikku, tetapi di mana kutemukan kebahagiaan yang paling melarat dan paling kokoh: bau-bauan musim panas, daerah tempat tinggal yang kucintai, suatu langit malam, tawa dan gaun Marie.”

Dan, Meursault sampai pada pengertian mengapa ibunya mengambil “tunangan” di saat-saat akhir hidupnya, saat orang begitu menerima kehidupan dan alam secara apa adanya.

Aku bisa mengerti ibu, katanya. Ibu yang telah meninggal tapi telah menghidupkan seluruh cerita ini. Ibu dari hidup kita sendiri.

Jakarta, 18 Januari 2008

(Terima kasih kepada Ibu Apsanti Djokosujatno, yang telah dengan indah menerjemahkan novel Orang Asing ini)

*) Penulis buku esai Nabi Tanpa Wahyu (PustakaPujangga, 2008) dan novel Tuan dan Nona Kosong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *