Bhineka Tunggal Ika dalam Prosa

Dwi Fitria
http://jurnalnasional.com/

Pengarang kita memaknai keindonesiaannya dengan cara masing-masing.
Max Lane, penerjemah karya-karya Pramoedya pernah mengatakan bahwa sejarah dan sastra adalah dua alat paling andal untuk membentuk konsep kebangsaan dalam diri individu sebuah bangsa. Dalam bukunya Bangsa yang Belum Selesai, Max Lane menekankan bagaimana pentingnya memelajari ulang sejarah dan sastra untuk membentuk karakter bangsa Indonesia. Continue reading “Bhineka Tunggal Ika dalam Prosa”

Tersengat Masa Lalu di Penyengat

Raudal Tanjung Banua
korantempo.com

Betapa pulau kecil ini ajaib, hampir di tiap jengkal ada situs bersejarah peninggalan sejumlah sultan.

Jika hendak mengenal orang berbangsa, Lihat kepada budi dan bahasa. Itulah cuplikan dari “Gurindam Dua Belas” karya Raja Ali Haji yang termasyhur. Gurindam 83 bait yang sarat pesan moral itu ikut mengukuhkan masa lalu Pulau Penyengat Indra Sakti sebagai salah satu pusat kerajaan dan budaya kebanggaan orang Melayu. Betapa senangnya, akhirnya saya bisa bertandang ke pulau tempat Raja Ali Haji dimakamkan, awal Februari 2008, sehari menjelang perayaan Imlek. Continue reading “Tersengat Masa Lalu di Penyengat”

BELAJAR MENULIS DARI AZYUMARDI AZRA

Sutejo
Ponorogo Pos

Sejak mahasiswa tingkat S1, Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah ini sudah rajin menulis. Awalnya dia menulis sajak dan puisi yang dimuat majalah Time. Berangkat dari kelompok diskusi mulailah dia menulis artikel di berbagai media massa, dan buku pertama yang diterbitkan adalah tesis dan disertasinya. Hingga kini –paling tidak- telah menghasilkan 18 judul. Continue reading “BELAJAR MENULIS DARI AZYUMARDI AZRA”

Bahasa »