Dwi Fitria
http://jurnalnasional.com/
Tersengat Masa Lalu di Penyengat
Raudal Tanjung Banua
korantempo.com
Betapa pulau kecil ini ajaib, hampir di tiap jengkal ada situs bersejarah peninggalan sejumlah sultan.
Jika hendak mengenal orang berbangsa, Lihat kepada budi dan bahasa. Itulah cuplikan dari “Gurindam Dua Belas” karya Raja Ali Haji yang termasyhur. Gurindam 83 bait yang sarat pesan moral itu ikut mengukuhkan masa lalu Pulau Penyengat Indra Sakti sebagai salah satu pusat kerajaan dan budaya kebanggaan orang Melayu. Betapa senangnya, akhirnya saya bisa bertandang ke pulau tempat Raja Ali Haji dimakamkan, awal Februari 2008, sehari menjelang perayaan Imlek. Continue reading “Tersengat Masa Lalu di Penyengat”
Balada-Balada, Suryanto Sastroatmodjo
BALADA BIANGLALA
I
Tarian tanah gamping di celup suntukku
O, derap kajian ufuk
Menjenguk setugal malam. Pelatuk sangsi ke situ
Dan adalah rengkuhan pundak
Malahan ada yang silam berkepundan
pabila bukit boyong ke pedalaman
dan para dalang, mengulir blencong Continue reading “Balada-Balada, Suryanto Sastroatmodjo”
BELAJAR MENULIS DARI AZYUMARDI AZRA
Sutejo
Ponorogo Pos
Sejak mahasiswa tingkat S1, Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah ini sudah rajin menulis. Awalnya dia menulis sajak dan puisi yang dimuat majalah Time. Berangkat dari kelompok diskusi mulailah dia menulis artikel di berbagai media massa, dan buku pertama yang diterbitkan adalah tesis dan disertasinya. Hingga kini –paling tidak- telah menghasilkan 18 judul. Continue reading “BELAJAR MENULIS DARI AZYUMARDI AZRA”
Nyanyian Penyambut Malam
Naqib Najah *
lampungpost.com
Kalau kau buta, mudah saja mengetahui kapan senja hendak rebah kemudian datanglah malam. Senja hendak rebah, terdengarlah nyanyian perempuan dengan suara miris seperti orang tercekik. Ia bernyanyi menelusuri jalan setapak. Sesekali saja ia berhenti, memetik kelopak tetumbuhan merambat, atau kuntum enceng gondok yang terdampar di tepi jalan itu. Continue reading “Nyanyian Penyambut Malam”
