Puisi Harus Memberontak

Ibnu Rusydi
tempointeraktif.com

Kebenaran puisi dengan kebenaran agama tak akan pernah bertemu. Wahyu Islam adalah jawaban. Sedangkan puisi, yang ilhamnya hadir bagaikan dibisikkan jin, adalah pertanyaan-pertanyaan. Puisi adalah pintu kejelekan. Kata-kata itu meluncur dari penyair Suriah, Adonis, di Komunitas Salihara, Jakarta, Senin malam lalu.

Di salah satu ruang di komunitas itu, di bawah sorot lampu, dalam balutan jas kelabu, penyair bernama asli Ali Ahmad Said Asbar itu menyampaikan ceramah bertajuk “Kebenaran Puisi dan Kebenaran Agama”. Audiens tekun mendengar.

Ceramah tertulis itu melirik ke masa sebelum wahyu agama (Islam) turun, saat puisi tak sekadar seni bahasa. Puisi adalah pengetahuan supranatural yang bersumber dari alam gaib yang tak diketahui. Maka sering dikatakan puisi “diturunkan” kepada penyair.

Wahyu agama kemudian membatalkan “wahyu” puisi, dengan bahasa puisi sendiri, yakni bahasa Arab. Puisi pun tersingkir oleh wahyu agama dengan risalah Ilahi terakhir bagi manusia. Rasul-Nya adalah penutup para nabi.

Lalu bagaimana kebenaran dalam puisi bisa dihidupkan? Menurut Adonis, puisi harus memberontak. Puisi bisa hidup dalam kondisi yang terpisah dari wahyu agama. Sekularisme yang menumbuhkan pembaruan, sementara pembaruan tidak didorong oleh karakter asli agama–wahyu yang final.

Padahal akal manusia selalu menginginkan pembaruan melalui pertanyaan, keraguan, penciptaan, penolakan, terobosan, dan kebebasan. Maka, “Akal tidak akan mampu melakukan pembaruan kecuali terbebas dari perintah dan larangan agama,” kata Adonis.

Menjawab pertanyaan hadirin, Adonis mengatakan tak pernah menyesal dilahirkan sebagai muslim. Dia mencintai Islam, maka ia mengkritik pemahaman terhadap Islam. Dia menegaskan, dirinya tak setitik pun ragu terhadap otentisitas teks wahyu Al-Quran.

Namun, seagung apa pun teks itu, akan menjadi kecil ketika melalui akal yang sempit. “Persoalannya, nalar muslim tak standar seperti teksnya (yang Agung).”

Adonis lahir di Al-Qassabin, Suriah, pada 1930. Sejak usia muda ia bertani. Ayahnya mengajar mengingat sejumlah puisi. Dia lalu mulai mengarang puisinya sendiri. Pada 1947, dia membaca puisi di hadapan Presiden Suriah Syukri al-Kuwatli. Ini mengantarnya meraih sejumlah beasiswa, yang berujung pada gelar sarjana filsafat pada 1954.

Ia sempat mencicipi penjara setahun karena terlibat dalam gerakan politik. Setelah bebas pada 1956, dia pindah ke Beirut, Libanon. Pada 1960-1961, dia mendapat beasiswa ke Paris. Setelah mengajar di Universitas Libanon dan Universitas Damaskus, Adonis hijrah ke Paris pada 1980, mengajar di Universitas Sorbonne. Saat itu Libanon terjerumus dalam kancah perang sipil.

Sudah lebih dari 30 puisi dan prosa ia lahirkan. Buku-buku itu diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Beberapa kali namanya disebut sebagai calon kuat penerima Hadiah Nobel Sastra, yakni pada 2005, 2006, dan 2007.

Dalam waktu dekat, salah satu kumpulan puisi Adonis akan terbit dalam bahasa Indonesia: Nyanyian Mihyar dari Damaskus. Buku terbitan Durakindo Publishing ini diterjemahkan Ahmad Mulyadi dari edisi dwibahasa Jerman-Arab. Versi aslinya terbit pada 1961. Budayawan Goenawan Mohamad menulis kata pengantarnya di edisi terjemahan itu.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *