Adonis, Pemberang yang Terbuang

Qaris Tajudin
http://www.korantempo.com/

di atas luka kita berlaksa-laksa batang garam gugur, tertahan tiada nyeri.

Ia adalah Adonis si pemberang yang terbuang. Sastrawan Arab paling berpengaruh saat ini. Setiap kali mendengar nama ini yang terbayang adalah sketsa wajah seorang tua dengan rambut perak bergelombang yang awut-awutan dan mata bulat yang menantang. Sketsa itu hadir bersama esai yang ditulisnya, setiap dua minggu sekali pada pertengahan 1990-an di Afaq, suplemen sastra koran berbahasa Arab terbitan London, Al-Hayah.

Entah kenapa belakangan esai-esai itu tak muncul lagi. Mungkin ia bernasib sama dengan Nizar Qabbani, juga penyair dari Suriah, yang dimasukkan daftar hitam koran itu setelah sahamnya dibeli keluarga kerajaan Saudi yang berpikiran sempit. Keduanya memang sastrawan yang bersuara kencang terhadap pemerintah negara-negara Arab yang tunduk pada asing. Meski dipuja di Timur Tengah, Adonis bahkan harus mengasingkan diri ke Prancis untuk menghindari cengeram para penguasa.

“Namaku Odiseus/datang dari negeri tanpa batas/dipanggul orang ramai./Aku sesat di sini, sesat di sana dengan sajakku/Dan kini aku di sini, cemas dan jadi alum/tak tahu bagaimana tinggal/tak tahu bagaimana pulang,” begitu tulisnya dalam sajak berjudul Odiseus.

Adonis lahir dengan nama Ali Ahmad Asbar di Al-Qassabin, di utara Suriah pada 1930. Masa kecilnya dihabiskan di lahan pertanian. Ia baru belajar pada usia 12 tahun dari seorang guru desa. Ia pertama kali menginjak sekolah pada 1947 di Lattakia dan kemudian melanjutkan ke Universitas Suriah di Damaskus dan lulus dalam bidang filsafat pada 1954.

Nama Adonis mulai dipakainya setelah karya-karya sastranya ditolah oleh sejumlah majalah. Baru setahun lulus ia dipenjara selama enam bulan karena menjadi anggota partai radikal pan-Suriah, Partai Nasionalis Sosialis Suriah. Sekeluarnya dari penjara ia tinggal di Beirut, Libanon dan mendirikan majalah Syi’r (Syair) bersama sastrawan Suriah-Libanon Yusuf Al-Khal. Seperti juga Qabbani, ia kemudian beralih dari nasionalisme Suriah menjadi penganut Pan Arabisme yang diusung oleh Gamal Abden Nasser. Saat perang saudara Libanon pecah pada 1980-1981, ia pindah ke Prancis dan menjadi profesor di Sorbonne.

Sumbangannya pada sastra Arab amat besar. Ia adalah penyair Arab yang meninggalkan bentuk-bentuk lama puisi berbait dan menuliskannya seperti esai atau cerita. Ia melepaskan puisi dari kungkungan gramatika, karena puisi lebih dulu tercipta dari kaidah-kaidah bahasa.

Di antara karya-karyanya adalah Qashaid Uula (Sajak-sajak Pertama, 1957), Awraq fi al-Riih (Dedaunan Dalam Angin, 1957), Aghani Mihyar al-Dimasyqi (Nyanyian-nyanyian Mihyar dari Damaskus, 1961), Kitab Tahawulat wa al-Hijrah fi Aqalim al-Nahar wa al-Lail (Kitab Perubahan dan Migrasi ke Wilayah Siang dan Malam, 1965).

Menurut Edward Said, dia adalah penyair Arab pertama yang berskala internasional. Pada 2005 ia masuk dalam bursa calon penerima Nobel Sastra. Sayang, Nobel tahun itu terbang ke Turki bersama Orhan Pamuk.

Selain sebagai calon pemenang Nobel, dia berkali-kali mendapat penghargaan seperti dari International Poetry Forum di Pittsburg (1971), Jean Malrieu Etranger (1991), Prix de La Mediterranee dan Goethe Gesellschaft (2001).

Di Indonesia, dia memang tidak seterkenal Gibran, karena meski puisi-puisi cinta yang sensual, puisi Adonis lebih kompleks, tidak semudah Gibran. Salah satu buku Adonis yang diterjemahkan adalah Adonis: Perubahan-perubahan Sang Pencinta yang diterbitkan oleh Grasindo. Buku ini berisi enam kumpulan puisi Adonis. Tentang cinta dan juga perjuangan kebangsaan. Sebagian ditulis saat dia masih mengelola Syi’r pada akhir 1950an hingga 1960-an.

Meski sudah hampir setengah abad berlalu, tak ada yang berubah dari Adonis. Dia masih lantang dan berteriak. Kadang didengar, kadang tidak.

aku dan waktu tiada bertukar sapa kubiarkan langkah-langkahku tumbuh di atas tanah berwarna lupa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *