Bung Karno dan Kuli

D. Zawawi Imron
http://www.jawapos.com/

Bung Karno, presiden RI yang pertama, pandai sekali menyusun kalimat metaforik yang bisa menyegarkan kalbu. Berbicara tentang kemerdekaan saja ia susun kalimat yang ada rasa sastranya. Contohnya, ia pernah berkata bahwa kemerdekaan adalah jembatan emas menuju masyarakat adil dan makmur. Jadi, menurut Bung Karno, kemerdekaan itu bukan tujuan, tapi jembatan atau sarana untuk mencapai tujuan. Tujuan hakiki kemerdekaan ialah masyarakat sejahtera lahir batin, damai dan saling menghormati, sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Ada rasa senasib sepenanggungan, maju dalam pendidikan dan kebudayaan, tidak ada maling dan koruptor yang mencuri uang negara, serta tegaknya hukum yang memuaskan rasa keadilan seluruh komponen bangsa.

Kenyataan seperti itu tidak serta merta turun dari langit, tetapi harus diperjuangkan oleh seluruh bangsa tanpa rasa lelah dan putus asa. Untuk perjuangan menuju kemajuan yang ideal itu kadang Bung Karno menyitir ayat-ayat suci Alquran yang berbunyi, ”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum (bangsa) sehingga kaum itu sendiri berusaha untuk mengubah nasibnya.

Untuk itu, dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur perlu upaya perubahan, menjebol dan membangun. Kalau perlu banting setir, kata Bung Karno. Itu artinya, harus berjuang, harus berjuang, dan harus berjuang.
***

Pada 1960-an, dua orang putra terbaik Indonesia hijrah ke Malaysia. Yang satu seorang cendekiawan yang besar jasanya dalam mengembangkan bahasa Indonesia, dengan majalah yang dipimpinnya ”Poedjangga Baroe”, yaitu Sutan Takdir Alisyahbana. Yang seorang lagi, seorang begawan ekonomi, yaitu Soemitro Djojohadikusumo. Kedua cendekiawan ini mengajar di Malaysia dan murid-muridnya terus mengembangkan perubahan.

Pada 1980-an ada lagi putra Indonesia yang turut membenahi pendidikan di Malaysia. Yaitu Dr Ir Imaduddin bin Abdurahim. Sesudah itu menyusul Umar Yunus dari IKIP Malang, dan beberapa orang lagi yang mengajar di sana.

Hijrahnya putra Indonesia ke Malaysia untuk mengajar di perguruan tinggi terkenal tentu saja turut mewarnai wajah pendidikan di negeri jiran itu. Paling tidak turut memberi spirit dan gairah keilmuan dalam mengubah sejarah pendidikan di sana. Dalam hal ini, orang Malaysia memang merasa hormat atas jasa orang-orang Indonesia itu.

Kemudian kita tahu, Malaysia makin maju, sehingga banyak putra Indonesia yang belajar ke berbagai perguruan tinggi di Malaysia. Kalau dulu mereka banyak belajar kepada orang Indonesia, kini terbalik, kitalah yang berguru kepada mereka.

Hal ini mungkin soal sepele, tapi kalau dipikir, bisa menjadi bahan perenungan, kenapa orang Malaysia tampak tegar melangkah dalam menuju masa depan. Sedangkan orang-orang Indonesia yang datang ke sana sekarang tidak lagi untuk mengajar seperti Pak Takdir, Pak Sumitro, Umar Yunus dan lain-lain, tetapi hanya untuk menjadi pelayan atau kuli.

Saya jadi teringat penyair Agus R. Sarjono beberapa tahun silam, yang bersedih berhari-hari karena nonton TV yang menayangkan tenaga kerja bangsa kita di Malaysia dicambuki aparat. Kenapa bisa terjadi begitu? Itulah masalah yang harus kita cari asal usulnya sampai ke akar. Dan, Bung Karno telah memprediksi hal itu dalam pidatonya ”Vivere Pericoloso” (menyerempet-nyerempet bahaya) yang diucapkan pada 17 Agustus 1964. Proklamator itu berucap, ”di sana, di antara benua Asia dan benua Australia, di antara lautan Teduh dan lautan Indonesia, hiduplah satu bangsa yang mula-mula mencoba untuk hidup kembali sebagai bangsa, namun akhirnya kembali menjadi satu kuli di antara bangsa-bangsa….”

Kita perlu berpikir keras, apakah hal yang diramalkan Bung Karno itu sekarang sudah terjadi? Saya yakin dengan ucapan itu Bung Karno tidak rela bangsa kita jadi kuli bangsa lain. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*