Puisi-Puisi Endang Supriadi

http://jurnalnasional.com/
ENGKAU AKHIRNYA MEMILIH DIAM

malam mengelopak oleh cahaya lampu yang gemulai
sepi menyusup ke sudut-sudut hati
ada kelelawar menggantung di bingkai bulan
meratapi gejala cuaca di lubuk kegelapan

jika engkau ingin menangis, menangislah
seperti gerimis yang turun dikelopak bunga
tertatih dengan segala beban yang hendak diledakan
ke bumi dimana bila dipijak terasa menginjak duri

atau jika engkau ingin tertawa, tertawalah
seperti gelombang di laut lepas
yang menepikan busa ombak ke pantai
membasuh punggung-punggung karang yang kekeringan

atau jika engkau ingin bernyanyi, bernyanyilah
seperti gemericik air pancuran yang ada di ujung dusun
yang mengundang ikan-ikan menari
hingga membentuk gelang-gelang air dipermukaan

atau jika engkau ingin diam, diamlah
seperti mikrofon yang ditinggalkan penyanyinya
seperti sepasang sepatu yang dibiarkan teronggok di raknya
hingga diammu teramat diam seperti akar yang mati

jika engkau ingin bertanya, bertanyalah
seperti embun pada batu, seperti debu pada deru
?kenapa bunyi menyiksa, kenapa sudah luka didera?
kenapa yang lepas kian jauh, kenapa waktu kian melepuh?

engkau akhirnya memilih diam untuk menutupi seluruh lukamu
(namun diammu sediam gunung yang dikepung mendung
sedang kabut adalah gaunmu yang engkau selendangkan
di antara senyummu yang harus tetap mengalir seperti air).

Jakarta 8, Januari 2007

LELAKI YANG DATANG DARI ARAH PASAR

Rumput muda, dan jalan yang dibentengi batu kali
Tampak lebih anggun dari sinar matahari pagi itu
Seorang lelaki keluar dari arah pasar dengan membawa
Segumpal mimpi sambil menyeret bayang dirinya
yang tercabik oleh bayang-bayang modernisasi

Tak ada arah pada langkah lelaki itu. Dia hanya menyeret
Seonggok tubuhnya yang rapuh itu berjalan menjauhi pasar
Di simpang tiga ada sesuatu yang jatuh dari dalam dirinya,
Tapi entah apa. Dia sendiri hanya menatap ke bumi, berputar
Mengeliling bayang dirinya yang tampak gemetaran

Tak mungkin kugali bumi sedalam ini, pikirnya
Lalu dia pergi walau sempat sekali menoleh ke belakang:
Yang jatuh pantang kupunyut, yang hilang pantang
Kubilang, yang tertawa pantang kularang, yang jalang
Pantang kuhadang, yang menang pantang kutentang!

Lelaki itu meracik getar hati sambil berjalan. Isi di dirinya terus saja
Berjatuhan dan masuk ke dalam bumi. Tak ada seorang pun tahu kalau
Isi di dalam dirinya nyaris habis, bahkan kosong melompong
Kini dia berjalan dengan kekosongan. Melata di dinding waktu
Tanpa tenaga, tanpa seretan hasrat yang memerlukan arah

Tak perlu angin berkabar tentangku, renungnya
Lalu dia berjalan segaris horizon di pantai:
Yang lepas pantang kukemas, yang indah pantang kudedah
Yang batu pantang kupaku, yang mawar pantang kutawar
Yang darah pantang kumamah, yang suka pantang kubawa!

langit adalah lambang merenung, dan cinta selalu tersesat
Di rimba kata-kata karena tak bermata. Siapa yang mengusungnya
Jangan harap bisa membaca petanya. Dan lelaki itu adalah
Sampan yang kehilangan dayung, payung yang kehilangan
Matahari dan hujan

Dia melihat angin menggulingkan dingin ke sudut dinding
Tangkai yang penuh debu semakin beku. Tapi jalanan seolah
Ikan laut yang sedang ditiriskan, amis dan basah. sedang matahari
tak peduli pada yang bernama perih atau pedih. Dia melihat
orang-orang bukan orang seperti dirinya.

ANAK NELAYAN TAK PULANG KE LAUT

Memanggilmu dengan rintihan gerimis
berharap kau berhenti di depan pintu itu,
pintu yang telah kami siapkan seribu tahun lalu
dengan cara melepaskan seluruh pikiran kami
tapi kota-kota yang tumbuh dari sela jemari ibu,
tak bisa menghentikan dirimu. kau bagai debu,
beterbangan tanpa arah

kau enggan menyulam kembali hari-harimu yang robek
sedang lempengan mimpimu yang kian berkarat
tak selembarpun lepas dalam genggaman. kau bawa rasa pedih
seperti membawa bayangmu sendiri. percayalah, laut akan
selalu biru. karena laut adalah dunia kemerdekaan bagi ikan-ikan
dan tak seorang pun nelayan yang tahu arah mata ikan, katamu,
diselembar surat yang kau tulis dengan getah rindu

alam tak pernah belajar dari bencana sebesar apapun,
karena ia adalah kaki-tangan sang pencipta untuk
menyapa kita di malam dan siang. dan engkau, berada
di mana ketika tebing pipih menahan angin agar rumah
tak runtuh, agar ladang tak jadi lapang. dan ketika alam
mengirim getar ke dalam rindu kami, bingkai yang merengkuh fotomu
tampak menjelma lonceng bergerak ke kiri ke kanan

barangkali, masih harus kami buat satu pintu lagi agar engkau
menengok ke lukamu di sebelah kiri, dan menengok ke balik
dinding waktu di sebelah kanan, di mana luka kami bertabrakan
ketika rindu meragu. dan gelombang, si raja pembunuh itu
acap kali menahan perahu kami mendekat horizon, mendekati
perkiraan-perkiraan keberadaan rumahmu yang mencapai awan.
tapi, sekejam apapun jaring dunia, pulanglah, temui ibumu.

(anak nelayan tak pulang ke laut, tapi suaranya ada
di dalam lokan, begitu terdengar bisik yang dibawa ombak)

Citayam, Januari 2007

JIWA YANG TERBELENGGU

langit rekah. matahari gagah mengapung di cakrawala
panas bercampur dingin, karena angin bergerak kencang
dari arah lautan, membangunkan ombak, membentuk
gelombang. laut jadi remuk
ombak meledak di udara

segenggam pasir di tanganmu, untuk apa?
ditimpuk ke mana pun tak kan pernah bersatu
ia akan buyar di saat kaulempar ke tiang layar

segenggam batu di tanganmu, mau kau apakan?
kau lempar ke laut sekalipun, gelombang tak kan mundur
ia akan menyuruh ombak untuk mengulung nasibmu

bulan bugil. malam hitam mengulum bumi
dingin bercampur panas, karena uap panas mengepul
dari tungku batinmu, membakar embun, membentuk
pigura-pigura api di kepalamu. dan kesalmu meledak di kamar!

Citayam, Januari 2007

KETIADAAN

saat merasakan sakit, angin terasa memusuhi
melempar serbuk duri ke sekujur tubuh
bayangan rumah sakit mengapung, sedang
aroma obat mendominasi wangi parfummu
dan kau hanya berdiri diluar perihku

aku si penderita, tengah mengamati peta yang
menuju kuburan. sendiri membawa bendera kuning
dan menancapkan dipuncak gapura puisi
di batu nisan yang terbuat dari awan, tertulis:
telah meninggal dengan tenang, hati nurani.

Jakarta, Januari 2007

MEMBUJUK LUKA

membujuk luka jadi awan
agar jiwa jadi seringan kapas
namun sehelai alismu yang lepas
telah menjelma pisau menancap
di dadaku

di pelepah waktu aku menggonggong
menyodorkan leher ke tiang gantungan
sepi jadi begitu ramai
dan engkau menontonnya
dari balik pagar.

Depok, Januari 2007

KITA YANG BERLARI

sesuatu yang terbaring belum tentu mati
jemarimu mengepal bukan karena kesal
tapi sebuah energi tengah terkumpul
membentuk lambang-lambang bagi ingatan

kau berlari menembus ruang dan waktu
aku berlari menggapai waktu yang landai
seratus tahun kau berkumur dan berjemur
kulit dan pikiranmu tak menyatu dalam kubur

kejenuhanku tak sepi oleh kicau burung
ladang dan huma memekarkan kelopak jiwa
kesendirianku bukan sebuah penyesengsaraan
aku lelaki bersayap puisi tak limbung dibantai sepi

di seputar kita tuhan menanam pohon cinta
tapi kita sering mengencingi dan meracuni
kita sadar saat hati berdebar dipecut halilintar
kita pongah saat semua membuncah megah

kini nasib ranjangmu kaupikirkan sepanjang hari
dilipat atau dibiarkan berkarat
siapa akan memetikmu jika kau tumbuh di parit
di jambangan pun kelopakmu kerap layu menjerit.

Citayam, April 2007

MEMAKNAI CIUMANMU

kumaknai api ciumanmu tadi malam
sebagai mengikis lumut di batu
sebab matahari telah hilang
dari peta birahiku

adakalanya aku harus membunuh
tapi entah apa yang harus kumatikan
tak ada jalan yang sepi
sedang gang-gang telah penuh
oleh bag big bug orang berkelahi

angin beranjak ke sungai
ke meja-meja bar. aku lihat hatimu
terjemur antara roti kering
dan sayuran busuk di meja dapur

entah kapan kita bisa berkumpul lagi
mengisi malam yang becek
menyulam hati yang lembek

sudah lama kita tak tukar cerita
sejak kota terbakar di mana-mana
ranjang hanyut ke balik kabut
nama-nama jalan terendam lumpur

cium aku lebih lama kelak bertemu
biar mabukku jadi berita
biar tubuh kita berkeringat kata-kata
hingga terbaca oleh pengemis cinta.

Cikini, April 2007

LIDAH YANG MENCECAP RASA ASIN

apalah arti kepergianku setelah pohon cemara itu lebatnya
telah memayungimu. betapa banyak lidah pikiranku
mencecap rasa asin yang bertubi datang. aku tak harus
melepas sepatu atau lempar handuk. seletih apapun sungai
akan tetap membawa bebannya ke laut laut di dunia

perigi sejak pagi tercemar limbah babi
namun aku percaya di bukit atau hutan, ada genangan
yang bisa kuminum. meski ilalang kering jadi tempat
berbaring hewan bertaring. tapi aku suka dengan aroma
pesing kuda serta anyir lendir tapir. meski cacian dan
makian orang yang membencinya berkubang di situ

banyak kutemukan tikungan jalan yang tak menuju tujuan
tembok-tembok seperti parit yang mudah dilangkahi
tongkang-tongkang yang tak bisa merapat di dermaga
maka, siapakah kita bila bisa berada ditempat lain, sedang
di waktu yang sama si pelacur mati oleh belati milik kita sendiri?

mungkin aku akan jadi kayu yang terapung di sungai
pikiranmu. seperti kembang-kembang kapas yang berlepasan
dari pucuk ilalang. tapi biarlah aku jadi renta namun
tak buta. sebab masih ada yang harus kuwaspadai selain
bangkai bunglon di mulutmu; yaitu kehadiran hari esok.

Depok, Mei 2007

MERANGKUL BATU

kami merangkul batu
hawa dingin yang tersekap
di dalamnya terlanjur
kami sukai

anak-anak belajar membaca
dari sungai yang melintas
di dalam kamar kami. mereka
menangkap dan menjaring
huruf demi huruf yang dibawa arus
menuju kota-kota
di luar rumah kami

mereka menyukai juga
keheningan. sebab mereka tahu
dunia ini tumbuh dari batu
yang memiliki rasa diam
yang abadi

kenanglah kami
lumut yang tersisa
dari ampas dunia
kami akan membuat sejuk
semua matahari.

Citayam, 2003

AKU TERBARING

aku terbaring di antara tebing-tebing
waktu. mencabuti duri dari dalam diri
dan mengunyahnya agar jadi embun atau
kembang gula yang kutemukan pada masa
kecilku dulu

aku sendiri menunggu pantai surut
dari ombak, dan membiarkan angin membeku
di sudut-sudut dunia

aku terbaring dengan pekik segemerincing
gelang-gelang di kaki seorang bocah
yang sedang berlari. atau diam saat menyaksikan
tanah terbelah dan membiarkan pula jentik api
berterbangan di atas kepala

ini pesta siapa menghabiskan ruang-ruang
yang sepi. sehingga sejuta airmata tak bisa
memadamkan sejentik api? tuhan bikin apa
di balik karya-karya kita?

aku terbaring menakar sunyi, mereka-reka
kematian. adakah sesuatu yang hilang
di saat diriku ada? adakah sesuatu yang hadir
di saat diriku tak ada? dan siapa gerangan
yang datang saat aku terbaring, melucuti debu
di kelopak mata, mengendus aroma neraka?

Citayam, September 2004

ANAK-ANAK YANG BERNYANYI

anak-anak yang bernyanyi di jalan itu telah
membuat engkau terhibur. betapa mahal arti kesenangan
bagi kita. dan anak-anak itu telah melupakan beban
derita di pundaknya. kerak telor yang ia bagi-bagikan
seakan tak pernah habis. seperti gerimis yang tak pernah
berhenti sepanjang tahun

jangan kaget bila orang-orang merasa paling benar
isilah halaman dengan senandung daun kering yang disapu

sekerontang kemarau menyusup jauh sampai ke pulau
ada tanda akan hujan, tapi kenapa harus di matamu?
jarak dilihat bisa jauh
jarak dikenang bisa dekat
menjauhlah dari api yang muncul dari lidah
mendekatlah pada cermin sebelum mengenang wajah lain

akhirnya perdebatan harus selesai
permulaan harus dimulai

Depok, Mei 2007

MEMASUKI SEBUAH WILAYAH

aku memasuki sebuah wilayah di mana nyanyian tak pernah
terdengar. ruang yang luas tanpa penyekat, pohon-pohon
tak berdaun, sungai tak berair, burung-burung tak bersayap
kemarau di batinku mengirim dunia penuh rasa ikan asin
yang dijemur. batu-batu menangis dengan air mata debu
petunjuk jalanku adalah sebuah pisau yang selalu kugenggam

tak ada dunia yang pernah engkau ceritakan padaku, juga
sebuah hutan yang engkau bilang asri dari semua taman yang
ada di kotamu. lumut-lumut hanya melekat di setiap kata yang
kulontarkan. aku berkereta menuju alamat yang diberikan
oleh raung srigala di batinku, dan asap kereta yang
hitam pekat itu telah menuntunku jadi sebuah dayang bagi
segerombolan ulat yang menggerogoti bayang mungilmu

di wilayah tanpa pintu ini, kakiku kehilangan bumi. tawamu
yang pernah kujadikan arah menuju cerah, kali ini lenyap
aku ditelanjangi oleh kesunyian yang amat agung. entah
hasrat birahiku di mana. Sebab tak ada aliran darah saat
sekelompok buah dada melintas dihadapanku. aku tak bisa
berteriak atau memanggil. sebab akar-akar waktu telah menjerat
lidahku sedemikian rupa

tak mungkin aku mengundangmu ke wilayah ini. perempuan
atau lelaki tak bisa kubedakan makna senyumnya
ada yang mudah pergi, ada yang mudah datang. tapi siapa?
aku rindu padamu. sedang ruang di dalam wilayah ini tak cukup
untuk menampung pertanyaan-pertanyaan tentang rinduku kepadamu
tapi percayalah, pisau ini tak akan kutancapkan ke jantungku
sebelum engkau datang menunjukan sebuah ruang lain
untuk menitipkan diriku yang tak berkelamin ini.

Depok, Mei 2007

MENUJU SEBUAH JALAN

masuk ke dalam sebuah musim bersamamu
betapa nyeri duri punya arti. berdua digulung mendung
merekam rintih batu-batu di sungai yang deras. jembatan,
dan akar-akar yang berayun, gigil sepanjang hari
sedang lumut kian menebal di batu yang kita duduki

kini musim itu telah membusuk. amis diendus akar anganku
catatan-catatan membangkai. ranting yang engkau goreskan
dikulit dahan, melapuk dilumat cuaca berpasir
petir dan badai mengubur ketenangan di situ. di mana
kau kini? dahan-dahan waktu yang kau bentuk jadi perahu,
telah hancur di ujung hulu

lagu semakin sendu. jarak matahari tipis di atas kepala
orang-orang menari dalam kehancuran ini. tikungan-
tikungan jalan memasang rambu hinaan. aku mengendarai
rasa bersalah menuju ruang yang sepi. menciptakan sungai
dari semua kepedihan. kuceburkan diri ke kubangan kabut
yang senantiasa sembunyikan diri dari rasa nyeri. tapi aku percaya,
diseberang jalan masih ada jalan

lihatlah, darahku bisa untuk menulis. mencatat bagian-bagian
tubuhmu yang mawar. mencatat gemulai badai rindu dalam batin
aku masih berusaha jadi lelaki dengan menyingkirkan
busa sabun mandi yang menutupi buah dadamu

kau di mana? masih seperti lokankah yang menampung
erang gelombang, gerung sayatan? menyimpan derik daun pintu
saat aku pulang? cinta tak pernah mati, katamu di saat
rabun waktu. dan aku percaya pada sungai, percaya
pada angin. maka kutitipkan aroma tubuhku padanya
agar sudi mengabari padamu di mana letak kuburku.

Depok, Mei 2007

MENIMBA KESENANGAN SEMU
bagi: ida

hujan yang luncur ke bumi itu
meracau sampai menggetarkan dinding
tak ada jejak kaki yang bertahan diluar
sebagai tanda keberadaan insan di bumi

berapa kali kau bersetubuh dalam seminggu, da?
cahaya lampu tak pernah kaugunakan tuk melihat
seberapa deras keringat dan napasmu yang lepas
batang-batang cahaya itu hanya jadi siluet
bagi kelelawar-kelelawar lintas jalan dalam benakmu

dangkal bayang digali
teramat curam jiwa didaki
rembulan tak bisa menahan jatuhnya embun
di atas punggungmu yang mengerang
menjemput kenikmatan

saat sendiri, anak-anak tangga
kerap kaugunakan untuk bercakap menimang luka,
mengukur pedih-perih. juga menghitung
kesenangan-kesenangan yang semu

berapa lelaki kau jadikan batang tebu dalam sebulan, da?
aneh, kau merasa perkasa
sedang yang lain kau anggap lemah daya
hati-hati ?da, lubang yang kaugali
suatu saat mungkin untuk dirimu sendiri.

Depok, Mei 2007

LUKA YANG BERCAHAYA

aku datang padamu dengan darah masih basah
lihatlah, tembok itu telah kurobohkan dengan
tanganku sendiri. mungkin kulit jari tanganku
masih tertinggal di reruntuhan puingnya

dan lihatlah, lubang persembunyian telah kututup
akan kutampakkan wajahku sekarang
yang penuh luka namun membawa kunci kemenangan
tak ada lagi beban berat yang kuseret setelah teka-teki
rumit itu kutemukan jawabannya

dalam hidup masih ada kesempatan kedua
dan amat konyol ada pepatah yang mengatakan:
?kesempatan tak datang untuk kedua kali.?

kini betapa segarnya bunga berduri
betapa indahnya jalan berliku
betapa syahdunya suara gerimis berdetap di atas atap
betapa manisnya secangkir kopi terhindang di atas pematang

akulah lelaki itu yang membawa sepotong bulan
berdiri di atas titian yang patah
yang meneguk anggur dari gelas retak
yang berlari di atas bara api

aku datang padamu dengan luka kemenangan
lihatlah, cinta telah memancarkan cahayanya
dari lubang-lubang bekas pedang di tubuhku.

Depok, Mei 2007

JAM BERPUTAR SEHARIAN

beranjak ke tepi, dari didih perih penantian
sampai langit membusuk oleh petir. seluruh rasa
kuasingkan ke hulu waktu. orang-orang berlari
dalam badai gerimis, nerobos angin berpasir

seharian tak henti. mencumbu bayang-bayang,
mengendus aroma jalan. mengejar jadwal, dan
mengunci kesal di kemacetan. lalu besuk, melihat
nasibmu di slang infus. butir-butir kehidupan
menetes ke tubuhmu. aku berdoa dan berzikir
diluar bayang-bayang terus berkejaran

di henti yang mana rindu mengelopak
menengok ranum buah dada, sehingga tercium
bau birahi digaduh desing kereta?
orang-orang terus berlari mencari jati diri
kau menghitung hitam putih jejak kita

mungkin dijulang tugu aku bisa melihatmu
setelah jembatan dan kaca gedung habis tertutup
pendemo dan selebaran hujatan. mungkin
dijulang tugu itu tuhan ada bersamamu
menjaring kristal air mata yang mendua rupa

beranjak ke sepi, bulan tertindih kelam
tapi bising jalan raya masih menggema dalam dada
aku ingin tertidur dan pejamkan mata. membunuh
penat dunia. tapi bagaimana aku bisa merajut
mimpi indah bila slang infus yang menghidupimu
telah menjerat leherku sekian waktu.

Depok, Mei 2007

CategoriesUncategorized

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *