DAYA DAN DINAYA

KRT. Suryanto Sastroatmodjo
http://sastragerilyawan.blogspot.com/

Saudari Sarwendah!
Tiba sudah waktunya untuk mengemasi barang-barang yang tertinggal di koperasi kampung, petang ini. Alangkah sumuknya hawa di ruangan yang kemarin menjadi arena silat-lidah kita, bukan? Sungguh, saya tak mengira samasekali bahwa saudari ternyata mampu membelalakkan mata pada saat musti menghentak mengorak kelopak, pada waktu harus berjelempak. Maka tiada lain yang kudu diucapkan, selain pengakuan atas kesungguhan diri mengolah watak, membina kecermatan, meraut-raut kalimat yang menikamkan.

Saudari Sarwendah yang telaten.
?Apakah orang-orang di sini dengan sukarela melibatkan diri di tengah percaturan kancah ekonomi, memperhatikan lalulintas barang dan jasa secara lebih teliti dibandingkan tahun silam. Atau bahkan sepuluh tahunan lewat, tatkala mereka masih memandang tabu kepada perikatan semacam ini?? Aku tak mengira, persoalan baku singgah di kalbumu. ?Niscaya dapat dikatakan, zaman bertambah menyeret jauh derajat masyarakat,? demikian jawabmu.

?Karena di sini kita berbicara tentang kalangan kampung, dengan kebersahajaan yang menyerungkup. Pola pikir juga bisa ditebak. Sungguh terang, jika pun orang-orang belum menyadarinya, maka ada para pemikir dan pelaksana koperasi, yang sanggup mengejawantahkan hasrat bernaung di bawah perserikatan berlatar perekonomian. Juga suatu dorongan terkuat, di mana warga desa mulai menyadari perlunya menjadi bagian serba-usaha yang majemuk, dari nol terendah bisa mengumpulkan modal untuk diputar. Dalam hal begini, kiranya orang-orang yang handal di daerah ini bisa memberikan ajakan?? Aku terdiam, sementara mendengar suaramu yang lirih: ?Walaupun bukan hanya untuk melihat keuntungan yang besar, sebagaimana selama ini terbit di permukaan. Sedang kerja yang terjalin, terkepal pepal.?

?Adakah dirimu akan mengorbankan sekolahmu, masa depanmu, dan waktu-waktu terindah di kawasan sepi begini?? tanyaku melenggang. Kau ternyata bisa berkilah. Jadwal-jadwal tugas pengembangan bidang-usaha dan yayasan yang menyita seluruh waktunya, takkan dapat begitu saja tergomplang. Masalahnya, dia telah jatuh cinta kepada kampung, yang pada tahun-tahun revolusi pernah melahirkan kedua orangtuanya, membesarkan mereka dalam kesulitan ekonomi yang parah. Tiba gilirannya seorang gadis dewasa yang giat menyiapkan suatu ?balas budi kepada dunia? secara terpadu. Ia merasa, lewat layar racikan pengabdian, deru-debur kemiskinan bakal terjawab.

?Lagi pula, kedua orangtuaku tak kutemukan kuburnya kini, setelah barisan pemberontak merah menyapu-rata kampung Sawatan sana. Aku dibesarkan nenek di desa seberang yang aman. Wetonku kebetulan sama dengan ibunda, sebagai satu sarana tradisi lokal, aku diungsikan hingga masa balita?? Memang, nasib bicara lain. Keselamatan memberikan berkah-sempana-Nya karena usianya sanggup mendera bukit-bukit kekikiran, gemunung nestapa dan mudlarat umat.

Saudari Sarwendah!
Kukira dirimu telah larut di tengah halimun. Tentunya bukan bagianku membentangkan hal ini padamu. Sekalipun seorang yatim piatu sebagaimana dirimu, yang memiliki kecakapan setumpuk, dan lepasan suatu akademi, tinggal di daerah terpencil dapat dianggap sebagai kemandegan. Namun dikau mengatasi anggapan yang naif, meneteskan keringat bagi kalangan nan jarang disebut. Wadah yang kau garap sebagai perwujudan sumbangsihmu, gadis!

Saudari Sarwendah yang telaten.
Aku senang berbincang, kala pengunjung koperasi menipis di rembang petang. Semoga dikau selalu punya bahan untuk disulut dalam kehangatan diskusi. Semoga tiap ucap dan ungkapan bisa membantu degup-jantung yang sehat. Semoga tiap pijak kaki yang mantap memberikan semboyan kepastian. Masihkah dapat kukatakan, betapa orang-orang memberikan senyum syukur itu?? Saudariku, saudariku! Tiada pekikan yang mengaduh, jika larutmu adalah lautmu. Dan sedenyar rahmat melekaskan gema menjadi gelinggam nikmat.


*) Tanggung jawab penulisan pada PuJa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *